Archive for the ‘ Teks Drama ’ Category

Drama Perjuangan (Kartini Berdarah)

KARTINI BERDARAH

AMANATIA JUNDA .S

TOKOH:

  1. Kartika             : Seorang gadis berusia 17 tahun. Berambut panjang dikepang dua, berkacamata besar, seorang kutu buku, pendiam dan kurang pergaulan.
  1. Kartini              : Sahabat khayalan Kartika. Seorang wanita berusia sekitar 20 tahun-an, rambut bersanggul, memakai kebaya, wajah keibuan, seperti sosok pengganti ibu sekaligus sahabat bagi Kartika
  1. Friska  : Seorang gadis kaya. Berusia 17 tahun. Berambut ikal, cantik, ramping, tinggi. Ketua geng Perfume. Mempunyai sifat sombong, dan sewenang wenang.
  1. Lena                 : Seorang gadis berusia 16 tahun, anggota geng Perfume. Jangkung, berambut pendek. Agak tomboy. Sering main tangan.
  1. Windi               : Seorang gadis berusia 17 tahun, anggota geng Perfume. Seorang playgirl, centil, kurang pandai dalam pelajaran.
  1. Resnaga           : Sahabat Kartika sejak kecil. Seorang pemuda berusia 17 tahun. Tinggi sedang, berpenampilan sederhana. Ramah, setia, dan baik hati.
  1. Malvin  : Seorang idola sekolah, berusia 18 tahun, tampan, angkuh, berpenampilan keren. Kekasih Friska.
  1. Bu Sartika         : Ibu Kartika. Berusia sekitar 45 tahun, seorang wanita karier, janda, penuntut pada anak semata wayangnya, dan over protektif.

SETTING :

Panggung dibagi menjadi 2 bagian, kanan dan kiri. Bagian kanan merupakan kamar Kartika. Didominasi warna putih. Terdapat sebuah ranjang kayu kecil bersprei putih motif bunga bunga, sebuah meja belajar kayu dengan lampu duduk dan tumpukan buku biografi RA. Kartini, dan kursi putar putih. Keduanya menghadap ke penonton. Latar belakang adalah dinding kamar berwarna putih dengan gambar gambar RA Kartini ukuran A3. Di awal cerita akan ditambahkan sebuah cermin ukiran dari Jepara. Terbuat dari bingkai kayu berukir dengan cermin yang dapat membuka dan menutup, untuk tempat keluar masuk Kartini dari belakang panggung.

Bagian kiri, 2 kali lipat luasnya daripada kamar Kartika. Sebuah ruang kelas dengan bangku bangku kayu, papan tulis dan meja guru. Latar belakang dinding kelas bercat biru muda dengan jendela jendela besar dan gambar gambar pahlawan. Terdapat pintu di salah satu sisi dinding samping yang menghubungkan ke belakang panggung.

ADEGAN 1

Narator : (Mengutip salah satu penggalan surat Kartini yang tidak dipublikasikan. Diiringi suara dentingan gitar, pelan)

Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru.

Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin kuat makin teguh.

Kamar Kartika

Kartika             : (memakai piyama, sedang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang disusun oleh Armijn Pane, di meja belajar. Airmuka serius, lampu duduk menyala.)

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan suara panggilan untuk Kartika.

Bu Sartika        : Kartika? Kartika?! Buka pintunya! Hari masihlah sore, gemarkah kau  untuk tidur? Bukalah! Lekas!

Kartika             : Menghela napas panjang, kemudian menutup bukunya dan bangkit untuk membuka pintu.

Bu Sartika        : Astaga! Sesore ini kau sudah siap berpiyama? Bisakah kau tidak bermalas malasan saja? (Menatap Kartika tak percaya, tangannya membawa tas tangan kecil. Dibelakangnya 2 orang pesuruh menggotong sebuah benda setinggi 2 meter  berbungkus kertas cokelat.)

Kartika             : Ma, Kartika sedang baca buku, bukan sedang tidur. (Bela Kartika pelan, sambil mengangkat buku Habis Gelap Terbitlah Terang)

Bu Sartika        : Oh terserahlah, kau pasti membaca buku cerita. Itu sama saja dengan tidur. Sia-sia belaka. Pak, bawa masuk kesini (masuk ke dalam dan menunjuk dinding) Letakkan disini saja, ya bagus, kalian bisa keluar. Terimakasih.

Setelah 2 pesuruh tersebut keluar

Kartika             : Apa ini Ma? (Menghampiri benda tinggi bungkusan cokelat tersebut, penasaran)

Bu Sartika        : (Duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu hak tingginya) Mama bawakan oleh oleh untukmu. Bukalah, kau pasti suka. Itu dari Jepara. Asli! (Tersenyum sambil menunjuk bungkusan tersebut pada Kartika.)

Kartika             : lukisan RA Kartini, Ma?! (segera menyobek bungkusan tersebut dengan bersemangat).

Sartika             : Bukan, itu lebih bermanfaat buatmu.

Kartika             : (Tertegun mendapati sebuah bingkai kayu jati. Selebar setengah meter dan setinggi 2 meter. Sekeliling tepinya penuh dengan ukir ukiran berbentuk sulur sulur. Kaki cermin juga berukir berbentuk bonggol akar yang kokoh. Warna bingkai cokelat tua berpelitur mengkilat.)

Sartika             : Kenapa? Kau tak suka cermin itu?

Kartika             : Buat apa Ma? Tika rasa cermin ini terlalu besar untuk kamar ini. (berkata lirih sambil melirik bingkai kayu tersebut tanpa minat) Oh ya! (serunya mendadak) Kartika sedang baca buku RA Kartini, Ma… bagus sekali ceritanya. Mama mau baca? (menyodorkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan wajah berseri)

Bu Sartika        : Tika! Berhentilah baca buku buku konyol seperti ini! Sekarang bukan saatnya kau mengenang jasa Kartini. Tapi manfaatkanlah jasanya sebaik mungkin. Mana prestasi yang dapat kau berikan buat Mama? Kerjakan tugasmu dan belajarlah yang tekun. Harusnya kau bersyukur emansipasi menjadikanmu pelajar sampai sekarang dan mama seorang manager perusahaan besar.” (berucap lantang)

Kartika             :  Mama sama sekali tak berminat baca ini? (masih menyodorkan buku tersebut)

Sartika             : Ya.. ya..ya.. Mama akan baca jika mama sudah pulang dari dinas ke Bandung 2 minggu ini. Oke?

Kartika             : Tapi Mama kan baru saja pulang dari Semarang? (meletakkan buku itu kembali ke meja belajar)

Bu Sartika        : Mama mendadak ditugaskan atasan untuk mengurusi proyek yang baru. Sudahlah, mama capek. Mama hendak istirahat (bangkit, sambil menguap) Oh ya, cermin itu gunakan baik baik. Kau harus banyak merias diri, berlatih berbicara di depan umum dan menjadi seorang gadis teladan yang menyenangkan.

Kartika             : Maksud Mama?

Bu Sartika : Bulan depan ada pesta peresmian kantor baru Mama. Kau harus ikut, mama ingin mengenalkanmu dengan anak kolega mama. Malam Sayang.. (mengecup kening Kartika lalu beranjak keluar)

ADEGAN 2

Pagi hari. Sebuah kelas dengan bangku bangku yang masih kosong dan beberapa bungkus bekas jajan berserakan. Seorang pemuda tampan sedang duduk di meja guru smbil mendengarkan sebuah lagu dari Ipod. Seorang pemuda sederhana membawa sapu menghampirinya.

Resnaga           : Malvin, hari ini piketmu. (menyodorkan sapu)

Malvin : (Acuh, Kepalanya bergoyang goyang menikmati lagu)

Resnaga           : Malvin, hari ini piketmu! (berteriak lebih nyaring)

Malvin              : (Masih tetap acuh. Bahkan lebih keras menggoyang goyangkan kepalanya)

Kartika             : Biar aku saja, mana sapunya? (tiba-tiba muncul dari balik pintu)

Resnaga           : Mengapa kau begitu baik hati? Malvin tak pernah piket, kau tahu? (protes, agak keras menunjuk Malvin. Sedangkan Malvin melepas earphone)

Kartika             : Karena aku.. aku… (gugup, terbata-bata saat melihat Malvin menatapnya tajam)

Friska               : Karena dia memang seorang pembantu! Ha.. ha.. ha.. (tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan suara yang nyaring. Dibelakang, Lena dan Windi mengikutiku sambil terkikik)

Windi               : Oh, sungguh malang.. udah kuper, culun, kacamata pantat botol, pembokat lagi! Hi..hi..hi..

Lena                 : Nih, sekalian ngepel lantai! (melempar kain lap yang ada di salah satu bangku)

Resanaga          : Kalian jangan seenaknya pada Kartika. (merebut sapu dari tangan Kartika) Malvin, piketlah! Apa kau tak malu kewajibanmu diambil alih Kartika?

Malvin              : Bah! Aku laki-laki. Menjijikkan sekali aku harus menyapu. Itu memang tugas perempuan! (Melempar sapu ke lantai) Ayo kita pergi! (menggandeng Friska, keluar diikuti Lena dan Windi yang menyibir ke arah Resnaga dan Kartika)

Resnaga           : (Mendesah panjang, menatap Kartika dengan iba) Aku tak habis pikir. Mengapa kau selalu mengerjakan tugas tugas Malvin dengan ringan tangan?

Kartika             : (terdiam beberapa saat) Res, apa kau tak pernah mendengar cinta itu butuh pengorbanan? (berujar pelan kemudian beranjak pergi)

Resanaga          : (Mengambil sapu, dan menyapu perlahan) Aku telah lama berkorban untukmu Kartika… Hanya saja kau tak pernah tahu. (bergumam lirih)

ADEGAN 3

Sore hari, Kamar Kartika…

Kartika masuk ke dalam kamar, masih mengenakan seragam sekolah. Menghampiri meja untuk meletakkan tas dan bukunya. Kemudian berjalan menghampiri cermin Jepara.

Kartika             : Indah nian kau cermin.. wahai benda antik dari Jepara. (mengelus ukir ukiran di tepian cermin, perlahan) Kau ingatkanku pada Ibu Kartini.. andaikan kau adalah penghubung masa ini ke masa lalu, akan kutemui Ibu Kartini.. akan kuceritakan semua jasanya telah mengubah zaman dan nasib perempuan. Namun aku masih terkukung disini.. layaknya Ibu kita dipingit dan tak kuasa menanggung senyap… (bernada sedih, meratap) Oh, betapa sunyinya hidupku. Tak pernah dicinta dan Malvin tak pernah menoleh padaku, haruskah aku mengubah diriku menjadi gadis gadis seperti geng Parfume? Andaikan, Ibu Kartini kemari… mungkin aku akan menjadi gadis paling beruntung di dunia.

Tiba-tiba lampu kamar padam, cahaya merah berkerlap kerlip, terdengar suara desauan angin.

Kartika : (tersentak kaget) Oh, ada apakah ini? (ketakutan, berlari naik ke atas ranjang)

Sesosok wanita muncul dari bingkai cermin Jepara, melangkah keluar. Menghampiri ranjang. Lampu kembali menyala terang dan suasana kembali normal.

Kartini              : Nduk, tenanglah… iki ibumu. (tersenyum lembut)

Kartika             : Siapa kau?! (semakin duduk menyudut di ranjang, memeluk kedua lututnya. Wajahnya luar biasa ketakutan)

Kartini              : Aku Kartini. Aku yang selama ini kau tuturkan di lembaran lembaran kertas buku harianmu. Aku yang selama ini kau rayakan setiap tanggal 21 April, sama dengan hari lahirmu juga kan, Nduk?

Kartika             : (Mulai tenang, mengendurkan pelukan lututnya.) Kau Kartini? Raden Ajeng Kartini? Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu aku?

Kartini : (Tersenyum lebih ramah) Ya, aku Raden Ajeng Kartini. Namun, apalah arti sebuah status ningrat jika Raden Ajeng harus hidup di penjara sangkar emas? Dikelilingi 4 tembok serasa kebebasan adalah kebahagiaan terbesar.

Kartika             : Bagaimana Ibu bisa datang kemari? Sudikah ibu bersahabat dengan gadis memalukan seperti saya ini?

Kartini              : Oh, Nduk… tiada boleh kau berkata seperti itu.

Ingin benar hatiku berkenalan dengan seorang anak gadis modern, gadis yang berani, yang sanggup tegak sendiri, gadis yang aku sukai dengan hati jantungku. Anak gadis yang melalui jalan hidupnya dengan langkah tangkas, yang berdaya upaya bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk bangsa… Ibu datang dari jauh untuk mendengarkan segala kegundahan hatimu. Anggaplah aku sahabat penamu yang akhirnya berkunjung menengok seperti tatkala aku bersua dengan Nyonya Abendanon.

Kartika             : (Menghambur, memeluk Kartini, terisak isak) Ibu…! Kartika rindu sekali pada Ibu. Setiap malam Kartika diam diam membaca buku tentang Ibu. Berhati hati kalau Mama sampai menangkap basah Kartika, dan membuang segala yang Kartika koleksi tentang Ibu.

Kartini              : Sshh… (membelai rambut Kartika) Yakini, ibu juga merindukan sosok gadis berhati suci sepertimu. Tidurlah, besok kau sekolah bukan? Betapa beruntungnya dirimu yang hidup di dunia pencinta kebebasan. Bukankah begitu, Nduk?

Kartika             : (Mengangguk lemah) Ibu benar. Emansipasi menghapus diskriminasi untuk golongan kita. Dan ibu pasti senang melihat jasa ibu terlampau besar untuk Indonesia.

Kartini              : Aku tahu jalan yang hendak aku tempuh itu sukar, banyak duri dan onaknya dan lubang lubangnya. Jalan itu berbatu batu, berlekuk-lekuk, licin, jalan itu.. belum dirintis! Dan biarpun aku tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan merasa bahagia, karena jalannya kini telah terbuka lebar.

ADEGAN 4

Sebuah kelas, terdengar suara gaduh dari 3 orang siswi. Friska, Lena, dan Windi.

Friska               : (Duduk di meja, airmuka cerah) Oh, kemarin malam adalah pesta terkeren sepanjang hidupku. Seperti mandi keringat aku ikut dugem di dancefloor. 4 kali aku bolak balik ganti pasangan. Sungguh menyenangkan!

Wndi                : Iya, tentu saja kau bolak balik ganti pasangan.. bukankah kita bertiga sungguh seksi tadi malam?

Friska               : Ya jelaslah. Apalagi kau kemarin mabuk berat Windi. Hei, tidak ingatkah kau? Kemarin kau membuka setengah bajumu dan bergoyang sungguh panas!

Windi               : Oh ya?!(Memekik girang) bagaimana reaksi cowok cowok itu?

Lena                 : Wow! Mata mereka seketika hijau! Dan langsung teler melihatmu!

Friska               : Air liur mereka sampai menetes di gelas cocktail.

Friska, Lena, Windi :tertawa bersama, nyaring. Kartika muncul dari balik pintu, tangannya mendekap tumpukan buku.

Lena                 : Hai, kau! Kesini…. Cepat! (menunjuk Kartika, tawa mereka menghilang. Wajah wajah centil berubah menjadi beringas)

Kartika berjalan menunduk, ketakutan.

Friska               : Jalan lelet amat! Rupanya hendak bersaing dengan kura-kura! Darimana saja kau, Kuper?! (Membentak)

Kartika             : (Tergagap) Da.. da.. ri.. P..per pustakaan

Lena                 : Hei! Ngomong yang tegas! (menepuk pipi Kartika)

Windi               : Iya nih, berminat ya jadi gadis sok bisu? Udah kuper, siapa yang mau repot repot melirikmu? Apalagi.. hi..hi..hi.. lihat deh, apa bawaannya?

Friska               : (meloncat turun dari meja, berdiri dan segera merebut buku buku yang didekap Kartika) Ya ampun! Hari gini… nggak salah baca, kau? Kartini? Memang masih zaman? Hm… (membaca satu persatu judul buku buku) ada RA Kartini, Kartini Sebuah Biografi, dan.. astaga! Judul jadul banget nih, Habis Gelap Terbitlah Terang. Eh, pernah dengar nggak kalian? (menoleh ke Windi dan Lena yang menggelengkan kepala bersamaan sambil mencibir)

Windi               : Yang aku tahu sih adanya Habis gelap total terbitlah tagihan PLN, belum bayar listrik kaleee…

Friska dan Lena: (tertawa terbahak, bersamaan) Ha.. ha.. ha

Kartika             : (Berusaha merebut buku yang dipegang Friska) Kembalikan! Kembalikan.. buku itu!

Friska               : Oh, Dear… Len, tahan dia! (memerintah keras. Segera Lena mengunci kedua lengan Kartika ke belakang punggungnya) Coba kita baca sekilas buku macam apa ini, Sobat. (Berdehem, dengan mimik sok serius, membuka salah satu halaman buku RA Kartini karangan Tashadi) Denger ya, salah satu kutipan surat Ibu kita tercinta “Selama ini hanya satu saja jalan terbuka bagi gadis Bumiputera akan menempuh hidup, ialah kawin.”

Friska, Lena, dan Windi            : Tertawa tergelak.

Lena                 : Hari gini.. kawin? Emang Siti Nurbaya?

Windi               : Wah, wah, wah pantas saja kau jadi anak kuper.. bacaanmu masih seputar zaman tempoe doeloe… parah!

Friska               : Oke, sebagai teman yang baik bagaimana kalo kami membantumu sembuh dari ke-kuper-an? (tanpa menunggu jawaban dari Kartika yang sibuk melepaskan diri dari cengkeraman Lena, kini Friska merobek buku tersebut)

Kraak… Kraak.. Kraak.. Segera lembaran buku Kartini berserakan di lantai kelas. Kemudian dengan bernafsu Friska dan Windi menginjak injaknya.

Kartika             : Kumohon hentikan…! Jangan disobek! Kumohon… (Kartika berontak kemudian Lena mengendorkan cengkeramannya. Seketika Kartika menyerang Friska untuk menghentikannya)

Friska               : Nih, kita nggak butuh baca ginian! (melempar buku buku Kartini ke lantai dan segera menginjaknya juga)

Kartika menunduk dan melindungi buku buku tersebut. Berkali kali Friska dan kedua teman temannya menendang Kartika.

Lena                 : Rasakan! (menendang keras) Dasar penyembah buku!

Malvin muncul dari balik pintu, menggeleng gelengkan kepala melihat Geng Parfume sedang menyiksa Kartika.

Malvin : Sudah hentikan Friska, Lena, Windi! (seru Malvin agak keras)

Friska               : Tapi Babe, anak ini rese’ sekali tadi, Huh! Masa’ aku sama anak anak tidak dicontekin pas ulangan Fisika? (menghentikan acara menyiksa lalu menghampiri Malvin dan mengeluh manja)

Malvin              : Salah kalian sendiri tidak belajar. Sekarang berhentilah main mainnya, katanya kita mau jalan-jalan?

Friska               : (mengangguk dan tersenyum manis) Ayo, kita tinggalkan dia!

Setelah keempat murid tadi pergi keluar dari kelas, Resnaga muncul dan keheranan melihat Kartika sedang memunguti sobekan kertas dan berusaha menyusunnya.

Resnaga           : Kartika? Kok belum pulang?

Kartika             : (Menoleh ke asal suara, memaksakan senyum) Oh, kau.. Res. Iya, aku habis dari perpus.

Resanaga          : Kau sedang apa? Hei, apa yang terjadi? (Menghampiri Kartika dan membantu memunguti buku buku yang berserakan)

Kartika             : Aku sedang melindungi harta bangsa. Sisa sisa pengabdian ibu kita.

Resnaga           : Ibu kita? Siapa?

Kartika             : (terbelalak, menatap Resnaga tak percaya) Tak tahukah kau? Raden Ajeng Kartini! Beliau Ibu kita semua bukan? Beliau sungguh baik hati. Beliau sangat keibuaan, belaiannya sangat lembut… ah, aku masih bisa merasakannya. (menyentuh rambutnya) Hm, kira-kira sekarang Ibu sedang apa ya?

Resnaga           : Kartika, kau baik baik saja kan? (menyentuh kening Kartika dengan lembut)

Kartika             : Apa maksudmu?! (menepis tangan Resnaga dengan kasar)

Resnaga           : Aku mengkhawatirkanmu. Lagipula… bukankah Kartini sudah tiada? Bagaimana bisa kau merasa belaiannya?

Kartika             :  Beliau masih hidup kok! Beliau sengaja datang dari jauh untuk menemaniku. Ah, sudahlah. Pasti kau tak kan percaya. Lebih baik aku pulang saja. Sampai jumpa. (Berdiri, memasukkan buku buku ke dalam tas dan kemudian beranjak pergi)

ADEGAN 5

Sore hari, kamar Kartika

Bu Sartika        : (Berdiri mondar mandir sambil sesekali menengok jam tangan yang melingkar di lengan kirinya) Oh, hari sudah sore. Kartika tak kunjung pulang, kemana saja anak itu? Tak tahukah dia kalau hari ini Keluarga Gana akan berkunjung kemari?

(tiba-tiba perhatiannya tertarik pada sebuah buku agenda bersampul merah di atas meja belajar) Diary? Kartika menulis Diary? Hm… boleh juga. Aku penasaran dengan isinya. (Duduk, dan mulai membaca buku agenda tersebut)

Tiba-tiba Kartika muncul dari balik pintu.

Kartika             : Mama? (melirik buku agenda yang langsung dikembalikan mamanya di atas meja) Mama baca diary-ku?! (agak keras)

Bu Sartika        : Iya. Apa tidak boleh? Kau adalah anak Mama. Urusan pribadimu otomatis urusan Mama juga.

Kartika             : Tapi Ma…

Bu Sartika        : Tapi apa? Mama tahu kamu sekarang sedang menyukai teman kelasmu. Siapa Malvin itu?

Kartika             : (Terdiam, menunduk)

Bu Sartika        : Dengarkan Mama Kartika. Kau harus jatuh cinta pada lelaki yang tepat! Jangan sampai kau mendapat lelaki brengsek seperti papamu. Turuti saja pilihan Mama. Kau pasti suka. Sekarang lekaslah mandi dan berdandan yang cantik. Keluarga Gana akan datang dan makan malam bersama kita.

Kartika             : (Mendongak) Siapa mereka Ma?

Bu Sartika        : Tentu saja calon keluarga barumu! (Keluar dari kamar Kartika)

Kartika             : (Terduduk lemas di ranjangnya. Memeluk buku RA Kartini. Mulai terisak sedih)

Tiba-tiba Kartini keluar dari bingkai cermin Jepara. Kemudian berjalan menghampiri Kartika, duduk di sampingnya dan membelai rambut Kartika dengan lembut.

Kartini              : Anakku, ceritakanlah semuanya pada Ibu, agar lapang dadamu.

Kartika             : Hiks… Ibu… saya hendak dijodohkan hiks.. oleh Mama saya. Saya nggak mau. Saya mencintai pemuda lain. (terisak semakin keras)

Kartini              :  Cinta, apakah yang kau ketahui tentang perkara cinta itu? Betapa kau akan mungkin sayang akan seorang laki laki dan seorang laki laki kasih akan kau, kalau kau tiada berkenalan bahkan yang seorang tiada boleh melihat yang lain? Aku berkehendak bebas, supaya aku boleh dapat berdiri sendiri, jangan bergantung kepada orang lain, supaya jangan… jangan sekali kali dipaksa kawin!

Kartika             : Ibu, mengapa hidup saya sangatlah sengsara? Saya tak pernah bahagia tak terkira terkeculai bertemu dengan ibu. Hanya ibu yang mengerti hati saya. Maafkan saya Bu, tidak bisa melindungi buku buku tentang ibu. Teman teman kelas saya menyobeknya tadi siang dan mereka selalu menyiksa saya.

Kartini              : Aduh, Tuhan, ya Tuhan! Sedih hati melihat kejahatan sebanyak ini di sekeliling diri, sedang diri tiada berdaya akan menjauhkannya! Sabar ya Nduk…

ADEGAN 6

Di kelas, suatu siang…

Malvin dan Friska tampak bermesra-mesraan di kelas yang kosong. Mereka saling menggoda, dan tertawa. Kemudian Friska bergelayut manja pada Malvin. Mereka berdua berpegangan tangan. Dari arah pintu, Kartini berjalan cepat sambil menunduk. Ia terperangah melihat pemandangan tak pantas di kelas. Seketika buku buku yang didekapnya jatuh berdebam ke lantai.

Malvin              : Oh kau Tik, aku kira guru. (refleks melepas genggaman tangannya dengan Friska)

Friska               : Hei, kuper! Ngapain kesini? Ganggu orang pacaran saja! (membentak dengan keras)

Kartika             : Ma.. maaf.. aku.. nggak tahu kalau kalian..

Friska               : Nggak tahu apa? Bilang saja iri! (Berkacak pinggang kemudian bangkit berjalan menghampiri Kartika)

Windi dan Lena masuk ke dalam kelas.

Lena                 : Apa ini? (Memungut buku agenda yang terjatuh bersama buku buku yang lain)

Kartika menoleh, terkejut.

Lena                 : Lihat! Ck.. ck.. ck.. tak kusangka! (Menunjukkan sebuah halaman dari agenda tersebut ke teman temannya. Sebuah tulisan dengan huruf besar besar berbunyi AKU CINTA MALVIN)

Friska               : (Mendelik marah) Kau cinta Malvin? Kau menyukai cowokku? Bisa-bisanya kau… Plak! (menampar Kartika dengan keras)

Malvin menghampiri mereka berdua. Kemudian mengambil alih agenda yang dipegang Lena dan tertawa terbahak bahak.

Malvin              : Wah wah wah, aku tak menyangka tipe cowokmu seperti aku Tika. Kiranya seperti Resnaga yang culun.

Lena, Windi dan Friska : (Ikut tertawa keras)

Malvin              : Kartika.. Kartika.. bercerminlah dulu sebelum kau menyukai seseorang! Kau itu SANGAT TIDAK PANTAS buatku yang kaya, tampan dan idola semua cewek! Maaf Kartika… lebih baik kau berhenti menulis namaku di diarymu, buang buang kertas saja. (Menghmapiri Lena dan meraih agenda tersebut. Dibolak baliknya dengan antusias)

Windi               : Iya, kau itu seperti pungguk merindukan bulan!

Lena                 : Bukan, tapi seperti langit dan bumi!

Friska               : Eh, salah lagi. Lebih mirip Kutu dan pangeran!

Malvin dan geng Parfume: (tertawa sangat keras)

Malvin :  Dasar gadis lugu. Ayo kita pergi! (Merangkul Friska yang tertesenyum sinis pada Kartika yang sedari tadi menunduk)

Lena dan Windi pun beranjak keluar mengikuti mereka.

ADEGAN 7

Kamar Kartika

Kartini  : (Berjalan mondar mandir, bergumam sendiri) Oh, anakku yang malang… aku tahu semua perbuatan keji yang dilakukan mereka! Seperti Belanda menjajah anak pribumi. Namun, pantaskah saudara menjajah saudara sendiri? Tiada satu pun jua yang boleh menyakiti Kartika.

Kartika              : (Muncul dari balik pintu) Aku pulang…

Kartini  : Masuklah Nduk. Ssh.. jangan berkata apa pun. Ibu tahu perasaanmu.

Kartika            : Bagaimana Ibu bisa tahu?

Kartini              : Apa kau lupa dengan tujuan ibu kemari? Setiap hari aku melihat lihat dunia masa sekarang yang sangat pesat peradabannya. Namun, aku iba hati ini tatkala aku menjumpai berbagai macam perempuan seperti mereka. Karena bukan barang yang indah indah saja yang menjadi terlihat olehku.

Kartini : Maksud ibu? Perempuan yang seperti apa?

Kartini              : (Menghela napas panjang sambil duduk di kursi) Apalah artinya perjuangan ibu selama ini? Emansifatie yang mendarah daging telah disalahgunakan.

Kratika             : (Duduk di tepi ranjang) Maksud Ibu? Kartika semakin tak mengerti. Jasa Ibu sungguhlah besar.

Kartini              : Namun mereka tak tahu bagaimana mengamalkannya! Ibu tak kan berjuang jika akhirnya mengetahui betapa mengerikan sikap perempuan masa ini. Mereka berjalan dengan busana ala kadarnya, seperti memang lebih mengasyikkan tuk telanjanng. Emansipasi juga telah mengubah mereka untuk terus mengejar pekerjaan dan menyiakan suami dan anak anak mereka. Pantaskah perempuan seperti itu? Mereka tiada boleh melupakan sama sekali adat dan norma. Oh, namun betapa memalukan mereka berjalan, bernapas, bertingkah layaknya peerempuan binal tak punya urat kemaluan! (suaranya sangat lantas dan penuh emosi)

Kartika             : Oh, ibu. Sungguh besar derita dan bebanmu. Namun, masih banyak perempuan di bumi Indonesia yang mempunyai akhlak mulia seperti Ibu.

Kartini : Ya, kau benar Anakku. Alangkah susahnya dan sedihnya akan patah rasanya hidupku. Jika semua yang kutuangkan dalam ratusan lembar surat dinodai oleh tinta yang lebih pekat. Namun aku tahu, diliteran tinta kami masih memiliki asa. Dan kau pikul cita citaku selanjutnya, kau emban dan kau simpan dalam sanubari terdalam. Engkau jiwa yang suci Nduk.. jangan sampai ternoda.

Kartika             : Ah, aku hanyalah gadis lemah, rapuh dan tak berdaya. Sia sia saja aku, jika orang yang kukasihi pun mengolokku.

Kartini              : Hapus airmatamu, sudah saatnya kau hapus noda yang mengotori halaman halaman kisah hidupmu.

ADEGAN 8

Sore hari, Ruang kelas yang kosong…

Windi               : (Berdiri membelakangi pintu masuk. Menelepon seseorang dengan suara yang sangat manja dan centil) Iya.. Sayang… aku habis ini tunggu kau di depan gerbang sekolah ya? Jangan ngaret lho! Awas! Nanti kita booking tempat yang biasanya saja. Iya, ngerti nggak sih maksudku? Aku lagi bokek nih, Om..

Tiba-tiba sosok hitam masuk ke dalam kelas. Sosok tersebut memakai jubah hitam panjang dan tudung yang melindungi wajahnya. Tangan kanannya memegang sebuah pisau tajam.

Windi               : Oke deh Sayang… sampai ketemu nanti (menutup pembicaraan, berbalik dan seketika berteriak tertahan)

Windi jatuh tersungkur di lantai kelas dengan darah membanjir dari perutnya.

ADEGAN 9

Kamar Kartika

Bu Sartika        : (Geleng geleng kepala sambil mengecek thermometer) Astaga Kartika! Badanmu panas sekali! Kau harus banyak beristirahat. Jangan baca buku buku cerita lagi. Pasti kau kecapekan.

Kartika             : (Membisu di balik selimut tebal)

Bu Sratika        : Kau harus makan yang banyak. Nanti Mama pesankan bubur ayam kalau lewat depan rumah.

Kartika             : (Masih membisu. Tangannya mendekap erat diary dan gambar RA Kartini)

Bu Sartika        : Oke, terserah kau saja. Ibu capek melihatmu akhir akhir ini seperti kehilangan gairah hidup. Tapi Ibu tak bisa menungguimu lebih lama. Ada meeting di kantor hari ini. Jadi, kalau ada apa apa kau hubungi Mama lewat telepon saja.

Kartika             : (Masih membisu. Tatapan matanya kosong ke depan)

Bu Sartika        : Sampai jumpa nanti malam Sayang… (mengecup dahi Kartika kemudian keluar)

ADEGAN 10

Pagi hari, Sebuah kelas yang kosong..

Masih sosok yang sama, memakai jubah hitam dan tudung. Duduk di salah satu bangku sambil menunduk. Beberapa saat kemudian Lena dan Friska masuk ke dalam kelas. Langkah mereka terhenti ketika menjumpai sosok berkerudung hitam duduk tak bergerak.

Friska               : Siapa kau?! (Berteriak nyaring, air mukanya mendadak berubah ketakutan)

Sosok itu masih tidak bergerak.

Lena                 : Fris.. apa jangan-jangan… Dia yang ngebunuh Windi? (Dengan nada takut bercampur ragu)

Friska               : Aku nggak tahu. Hei, jawab! Kau tuli ya? Kau siapa? Jangan bercanda! Ini nggak lucu!

Masih tak ada reaksi.

Lena                 : Oke, sebentar Fris.. jangan jangan dia orang gila yang ketiduran di kelas. Aku akan buka kerudungnya (Hendak berjalan menghampiri sosok tak bergerak tersebut)

Friska               : (Menahan lengan Lena) Jangan Len! Aku takut! Lebih baik kita lapor guru atau kepala sekolah.

Lena                 : Ya ampun Friska.. gini aja takut. Kau lupa aku sudah pegang sabuk hitam?

Friska               : Tapi… (ragu-ragu, airmukanya masih sangat cemas)

Lena                 : Sudah, diamlah disini.. (Lena berjalan dengan penuh waspada,  semakin mendekat ke sosok tersebut)

Lena sudah berdiri di depan bangku dimana sosok itu duduk tak bergerak. Tangannya terjulur hendak membuka tudung kepala sosok tersebuk. Namun, secepat kilat sosok itu bergerak, bangkit dan langsung menusukkan pisau yang sedari tadi dipegangnya di balik jubah,  ke perut Lena.

Friska               : AAAAAAAA…! (Memekik nyaring dan segera berlari keluar kelas)

ADEGAN 11

Kamar Kartika

Kartika masih sakit. Ia setengah berbaring di ranjang. Menulis sesuatu di agendanya.

Pintu membuka, Kartini masuk ke dalam kamar dan tersenyum melihat Kartika.

Kartika             : (Menoleh, kemudian membalas tersenyum, lemah) Ibu darimana saja?

Kartini              : Tidak begitu penting. Hanya menghapus noda. (Berjalan menghampiri Kartika dan memegang keningnya dengan lembut)

Kartika             : Itu apa? (Menunjuk bungkusan tas plastik hitam yang dibawa Kartini)

Kratini              : Oh, ini… tidak penting kok. Bagaimana keadaanmu Nduk? Mau ibu buatkan wedang jahe? Atau bubur? (sambil memasukkan bungkusan itu ke kolong ranjang.

Kartika             : Nggak perlu Bu. Saya sudah agak mendingan. Mungkin besok saya sudah diijinkan Mama masuk sekolah. Mmm.. Ibu terlihat letih. Ibu mau tidur di samping saya?

Kartini : (Mengangguk kalem) Ya, ibu sangat lelah. Bolehkah ibu tidur dekat dinding? Rasanya pasti dingin.

Kartika             : Tentu saja, dengan senang hati (bernada cerai, langsung bangkit menggati posisi tidurnya).

Kartini naik ke ranjang dan langsung tertidur lelap. Sedang Kartika masih sibuk menulis diary sambil sesekali memandang Kartini. Tiba-tiba penanya terjatuh ke lantai. Kartika bergegas turun dari ranjang, hendak memungut penanya. Namun, perhatian sejenak teralih saaat melihat bungkusan hitam milik Kartini. Dengan hati hati ditariknya keluar bungkusan tersebut dari kolong ranjang.

Kartika             : Hm.. apa yah ini? Ibu Kartini kemana saja sih seharian ini? Tumben juga bawa oleh oleh… (Membuka tas plastik tersebut. Ia menemukan jubah hitam dan sebilah pisau berlumuran darah. Kartika memegang benda benda tersebut dengan airmuka ketakutan. Ia bolak balik memandang Kartini yang masih tertidur membelakanginya ke benda benda tersebut) Untuk apa jubah dan pisau? Lantas ini darah siapa?

ADEGAN 12

Kelas

Tampak Malvin sedang menemani Friska yang sedang bercerita dengan ekspresi sedih. Resnaga duduk di sudut sedang menulis sesuatu.

Friska               : Windi dan Lena adalah sahabat sahabat terbaikku Vin. Aku nggak rela kalau kehilangan mereka. Apa salah mereka? Apa maksud pembunuh itu?

Malvin              : Tenanglah Fris.. masih ada aku kok. Setidaknya kau belum kehilangan Lena. Dia masih di rumah sakit. Aku juga nggak tahu salah mereka apa.

Friska               : Aku takut kalau… kalau… kalau  habis ini giliranku yang dibunuh.

Malvin              : Sst… jangan berkata begitu, sekarang kau aman kok. Sekolah sudah dijaga ketat oleh polisi.

Kartika masuk ke dalam kelas.

Kartika             : Pagi… (menyapa dengan pelan, datang dan keheranan melihat wajah wajah duka di kelas)

Malvin dan Friska bangkit dari duduk tanpa berkata apa pun pada Kartika mereka keluar.

Resnaga           : Tika, kau sakit apa? (Segera menghampiri Kartika, cemas)

Kartika             : Cuma demam biasa kok. Ada apaan sih? Kenapa anak anak mendadak aneh. Wajah mereka seperti penuh ketakutan dan kesedihan. (Meletakkan ranselnya dan duduk)

Resnaga           : Sekolah ini diteror. Ada 2 kasus pembunuhan selama 2 hari ini.

Kartika             : Pembunuhan?! Bagaimana bisa? (terbelalak kaget)

Resnaga           : Tika, Windi telah meninggal dengan sangat tragis. Dia ditusuk di kelas. Kemarin Lena dan Friska juga hendak dibunuh. Tapi, hanya Lena saja yang berhasil ditusuk. Keadaannya sekarang kritis di rumah sakit. Diperkirakan pembunuh keduanya sama.

Kartika             : Lantas siapa pembunuhnya?

Resnaga           : Entahlah. Polisi masih menyelidiki teror ini. Polisi hanya dapat keterangan dari Friska bahwa pembunuh itu memakai jubah daan tudung hitam. Wajahnya tak tampak. Dia membawa sebilah pisau.

Kartika             : Jubah hitam? Pisau, katamu? (Terdiam sejenak) Tidak… ini tidak mungkin.. (Menggelengkan kepala dengan tak percaya)

Resanaga          : Ada apa Kartika? Kau mengenal pembunuhnya? Kau tahu? Siapa?

Kartika             : Res… pembunuhnya.. pembunuhnya adalah Ibu Kartini. Aku harus menemuinya sekarang! (berdiri dan berlari dengan tergesa keluar kelas)

Resnaga           : Tik, tunggu! TIK! (Berteriak sambil mengacungkan Map Folder yang tertinggal di meja) Ada apa dengan anak itu? Akhir akhir ini dia tampak aneh. (Bergumam sendiri sambil membuka folder tersebut. Di dalamnya ada agenda milik Kartik) Hm, Diary Kartika. Kira-kira dia marah nggak yah kalau aku baca isinya? (Membuka diary tersebut. Kemudian ia menemukan sebuah kertas lecek yang terselip di salah satu halaman. Dahinya mengerut serius tatkala membacanya) Target Pembunuhan? (membaca judul di kertas tersebut)

ADEGAN 13

Siang hari, Kamar Kartika

Kartika             : Ibu, jujurlah padaku!

Kartini : Maksud Nduk Kartika? Ibu tak paham. (duduk di tepi ranjang. Airmukanya sangat kalem)

Kartika             : Apa… apa ibu yang membunuh teman temanku?

Kartini              : Temanmu? Teman siapa? Sejauh ini hanya ibulah temanmu Nduk..

Kartika             : Teman sekelas Tika Bu, Windi dan Lena!

Kartini              : (Tertawa dingin, melipat tangannya. Suara berubah dingin) Apa mereka bisa disebut teman? Setiap bertemu mereka menganiayamu, menyiksamu… tak tahukah kau ibu sangat menyayangimu, Nduk?

Kartika             : Jadi.. benar? Ibu adalah sosok berjubah hitam itu?! (berkata lirih tak percaya)

Kartini : Ya, aku memang yang merencanakan semuanya. Target pembunuhan selanjutnya Friska.

Kartika             : Tidak… tidak mungkin! (menggelengkan kepala kuat kuat)

Kartini              : Aku pembunuh! Kita pembunuh kaum perusak emansipasi!

Kartika             : NGGAK! Kartini yang aku kenal bukan seorang pembunuh! Kau bukan Ibu Kartini! Kartini tak kan mungkin membunuh.

Kartini              : Apa yang kau bicarakan? Aku Kartini! Aku melindungi dirimu dari apa pun yang kau benci!

Kartika             : Kau jahat! Pergi dari sini! Kembalilah ke duniamu! (Mendorong Kartini ke bingkai cermin)

Kartini              : (Tidak berusaha melawan) Terserah, kau akan menyesal Nduk… karena telah mengusirku. Api yang membersihkan api. Api itu juga yang menghancurkan kayu menjadi abu! Camkan itu! (menghilang dari balik cermin)

ADEGAN 14

Ruang Kelas…

Friska sedang duduk terdiam, wajahnya pucat dan sayu. Ketika Kartika muncul ia segera menegakkan badannya. Kartika datang dengan wajah tampak ekspresi. Ia menutup pintu kelas dan menguncinya.

Friska               : Ada urusan apa kau kesini? Enyahlah Kuper, aku sedang tak berselera mengolok olokmu!

Kartika             : Aku ingin memberimu hadiah yang paling indah… (Tersenyum dingin menghampiri Friska)

Friska               : Hadiah? (Tiba-tiba melihat pisau yang digenggam erat Kartika. Ia terbelalak) Kau mau membunuhku?!

Kartika             : Kalau iya, lantas kenapa? Kemarin kau lari, sekarang kau tak kan bisa lari lagi Friska cantik… (Berjalan semakin mendekat)

Friska               : (Berdiri merapat ke tembok) Jadi, kaulah sosok jubah hitam kemarin? Kau yang membunuh Windi kan?!Aku salah apa padamu?!

Kartika             : Kau tanya salah apa? Kau sangat bersalah! Ha…ha..ha..  Kau telah melukai Kartika, melukai Kartini, dan melukai Pertiwi!

Friska               : Aku nggak pernah lukain siapa pun.. pergi! Jangan sakiti aku!  TOLONG! TOLONG AKU!

Terdengar pintu digedor keras

Resnaga           : Kartika! Kartika! Buka pintunya!

Bu Sartika        : Tika! Ibu mohon buka pintunya!

Kartika             : (Terkejut, menoleh ke pintu yang masih tertutup) Pergi kalian dari sini! Aku Kartini! Aku akan membunuh wanita wanita terkutuk!

Terdengar suara keras. Pintu terdobrak. Resnaga, Bu Sartika dan Malvin masuk dengan airmuka tegang.

Resnaga           : Kartika lepaskan pisau itu! Kau bukan Kartini! Kau Tika, sahabatku sejak kecil!

Bu Sartika        : Kartika… maafkan Mama. Mama tak pernah tahu kau punya kepribadian ganda. Lepaskan jiwa jahatmu Nak

Malvin              : please Kartika… kumohon lepaskan Friska. Maafkan dia… maafkan aku juga.

Kartika             : Persetan kalian semua!!! (Menarik tubuh Friska lalu mencengkeram leher gadis tersebut. Ujung pisau menempel di kulit mulus Friska) Jangan berani mendekat!

Resnaga           : Kartika, sadarlah! Bangunlah Tik! Kau adalah Kartika sahabat terbaikku. Kau adalah gadis baik. Kau bukan pembunuh. Dan Kartini hanya kepribadian yang tak kau sadari saja Tika. Tenangkan hatimu Tika…

Kartika             : (Oleng, memegang tangannya. Mendadak ia merasa pusing. Cengkeramannya pada Friska mengendor, seketika Friska berhasil membebaskan diri dan berlari menghambur ke Malvin) Aku… aku… pembunuh. Aku membunuh orang orang di dekatku. Pergi dari sini! Pergi! Lekas! Aku tak mau jiwaku yang satunya membunuh kalian! Pergi! (mengacungkan pisaunya ke atas)

Resnaga           : Tidak! Aku tak mau pergi! Karena aku sangat mencintaimu…

Hening sejenak

Kartika             : (Terisak sambil tersenyum getir) Maaf Res.. aku nggak bisa. Ak… aku.. sudah terlanjur membunuh, aku nggak mau ngebunuh Friska, Mama, Malvin dan kau… Kalau kalian tak mau menjauhiku akulah yang harus pergi.  (Menusukkan pisau tersebut ke jantungnya)

Bu Sartika        : TIDAK!!!! (melolong histeris, pingsan)

Tubuh Kartika tersungkur jatuh di lantai. Menusuk dadanya sendiri dengan pisau yang digenggamnya. Antara kehidupan dan kematian ia masih bisa tersenyum menahan sakit. Resnaga segera berlari menghampirinya.

Kartika             : Terimakasih… Ak… aku sayang kali… an semua, khususnya eng…kau Resnaga.. Selamat tinggal. (memejamkan mata perlahan)

Narator            : (Mengutip salah satu surat Kartini yang tidak dipublikasikan namun diubah sebagiaan, suara narator diiringi dentingan gitar, berduka)

Sampai aku menarik napas yang penghabisan, akan tetap aku berterimakasih pada kalian dan mengucap syukur akan kasih kalian kepadaku. Seorang buta yang diperbuat melihat, sekali kali tiada menyesal, matanya dibukakan orang karena bukan barang yang indah indah saja yang menjadi terlihat olehku dan kalian.

SELESAI

Sidoarjo, 27 Juli 2006

Tuk yang mengabdi tanpa menyadari

Alm. RA Kartini

PS : dalam naskah drama ini terdapat beberapa kutipan asli maupun yang diubah untuk dialog dan narasi. Sumber sumber kutipan tersebut :

Buku Habis Gelap terbitlah Terang (Armijn Pnae)

Buku Kartini Sebuah Biografi (Siti Soemandari Soeroto)

Buku Ra Kartini (Tashadi)

Kumpulan Naskah Drama

Naskah Drama

WeweGombel

M.S. Nugroho

Karakter         : Wewegombel, Gondoruwo, BELA, MAMA, ORANG-ORANG,

ANAK-ANAK

01.  Senja hari, di atas pohon besar, mengerikan

Wewegombel, Gondoruwo

Dalam bayangan hitam, WEWEGombel menangis sedih.

GOMBEL        : Ruwo… malam datang lagi. Malam datang lagi.

RUWO                        : Malam akan selalu datang, Gombel…

GOMBEL        : Malam akan selalu menyiksaku, Ruwo. Malam akan membuatku kesepian.

RUWO                        : Tidak, Gombel. Aku akan menemanimu. Aku akan selalu di dekatmu.

GOMBEL        : Ya, dan tanpa anak.

RUWO                        : Maafkan aku, Gombel. Aku tidak bisa memberi yang kau inginkan.

GOMBEL        : Ratusan tahun aku menunggu. Sampai kapan lagi aku sanggup menunggu

seorang anak menghiburku.

RUWO                        : Inilah nasib kita, Gombel. Ratusan tahun usia kita. Kita tidak perlu anak

untuk melanjutkan hidup kita. Kitalah yang mendampingi sang waktu.

Malam bukanlah kesedihan kalau kita bersabar.

GOMBEL        : Aku tidak bisa bersabar lagi, Ruwo. Setelah ratusan tahun kata sabar jadi

tidak bermakna. Ayolah, kita akan dapatkan anak  yang manis.

WEWE GOMBEL terus merajuk. Kemudian percakapan terhenti karena sayup terdengar anak belajar bernyanyi.

02.  Malam hari, di dalam rumah terang dan bersih, pinggiran kota.

BELA, MAMA

BELA sedang belajar di kamar atas; di ruang tamu MAMA lelah sepulang kerja.

BELA              : (Menyanyi)    Kasih ibu kepada beta

tak terhingga sepanjang masa

hanya memberi tak harap kembali

bagai sang surya menyinari dunia.

MAMA                        : Bela, berisik. Mana air untuk Mama?

BELA              : Iya, Ma. Sebentar.

Mama berolah raga sekedarnya dan menyalakan lampu teras. Bela turun membawakan air hangat. Mama menyentuh air langsung marah.

MAMA                        : Terlalu panas, Goblok. Kau mau merebus Mama! Kurang ajar!

MAMA memukuli BELA dengan handuk. BELA cepat-cepat mengambil air sambil menangis.

BELA              : Maaf, Ma. Bela tambahkan air dingin dulu.

MAMA mengumpat seraya menyalakan televisi dan memencet-mencet remot. Bela mengurut kaki Mama sambil terus menangis.

MAMA                        : (Mentertawakan acara televisi) Bela, sudah. Diam. Tidak kau lihat

Mama sedang menonton sinetron*).

03.   Malam yang sama, di halaman rumah. Gembira.

Anak-anak,  bela, MAMA

Anak-anak bermain-main. Gembira sekali. BELA mengintip dari jendela atas. Anak-anak memanggilnya. BELA takut dan ragu-ragu tetapi keluar juga melalui jendela.

Semua bermain lebih seru. Tiba-tiba MAMA keluar membawa sapu dan berteriak-teriak.

MAMA                        : Hei, bubar. Tidak punya rumah apa. Malam-malam begini ribut saja.

Diculik Wewe Gombel, tahu rasa kalian!

Anak-anak menyoraki. MAMA melempari anak-anak sesuatu. Anak-anak bubar. BELA sendirian.

BELA              : (Berbisik) Teman-teman kalian di mana? Aku ikut.

BELA  mencari-cari teman-temannya. BELA tersesat.

BELA              : (Berteriak) Teman-teman kalian di mana! (Terkejut) Lho, aku sekarang

di mana, ya?

04.  Malam semakin larut. Di bawah pohon. Mistis.

BELA, WEWE GOMBEL

BELA menangis sendiri. GOMBEL menari-nari menarik perhatian Bela.

GOMBEL        :  (Mengeluarkan boneka cantik) Bela… Bela… Ini Ibu punya. Kamu mau

boneka?

BELA              : Siapa k-kamu…

GOMBEL        :  (Menyerahkan boneka) Terimalah. Jangan takut. Cantik, bukan? Ciumlah.

Setelah mencium boneka, BELA pingsan. GOMBEL membawa BELA sambil menari-nari gembira.

05.  Malam yang sama, di teras rumah, cemas.

MAMA, Anak-anak, Orang-orang

Anak-anak memanggil-manggil Bela.

ANAK-ANAK            :  Bela… Bela…

MAMA juga mencari BELA.

MAMA                        :  Bela… Bela… Kamu  di mana?

MAMA bertanya kepada Anak-anak melalui jendela.

MAMA                        :  Kalian tahu di mana Bela?

Anak-anak kaget dan takut.

ANAK             : T-tidak. Kami tidak tahu.

ANAK-ANAK            : (Kabur) Hii… Ada Wewe Gombel… (Tertawa)

MAMA                        : (Marah sambil melempar sesuatu) Dasar…. (Kembali mencari Bela)

Bela… Bela… Kamu di mana? (Menangis, cemas) Jangan kau

tinggalkan Mama sendiri.  (Kepada orang-orang) Tolong. Tolong!

Bela hilang.

Orang-orang berdatangan. MAMA cemas.

ORANG          :  Ada apa, Bu?

MAMA                        :  Bela hilang.

ORANG TUA :  Bela pasti diculik Wewe Gombel. Ini saat Wewe Gombel mencari mangsa.

ORANG          :  Wewe Gombel?

ORANG TUA :  Ya, Wewe Gombel. Hantu Penculik Anak.

MAMA                        :  Tidak, jangan mengada-ada, Pak Tua.

ORANG TUA :  Tidak, ini benar. Kemarin malam aku mendengar tangisnya.

ORANG          :  Hii… Kudukku jadi merinding.

ORANG TUA :  Tapi jangan khawatir, Wewe Gombel sangat senang mendengar bunyi-

bunyian alat dapur.

ORANG          :  Wewe Gombel menganggap bunyi-bunyian itu adalah panggilan untuk

menari-nari.

ORANG TUA :  Kalau dia sedang menari-nari,  tentu pegangan kepada Bela terlepas.

Itu kesempatan kita mengambil Bela kembali.

ORANG          :  Mari kita bergerak sekarang.

ORANG          :  Ayo berangkat!

ORANG          :  Hancurkan Wewe Gombel!

Orang-orang pergi dipimpin Pak Tua. Mama menangis sendiri. Udara bertiup kencang sekali.

MAMA                        :  (Kedinginan) Udara dingin sekali. Bela kau di mana? Mengapa kau pergi?

Ya, ya. Tentu kau marah kepada Mama. Maafkan aku, Bela. Mama

menyesal. Mama tidak akan bersikap kasar lagi, Bela. Bela pulanglah.

Di sinilah rumahmu.

06.  Malam, di atas pohon besar, mistis.

Wewegombel, Gondoruwo, BELA

GOMBEL        :  (Tertawa gembira) Ruwo, Ruwo…  Lihatlah, kita dapat anak yang manis.

Kemarilah….

RUWO                        :  (Kaget dan sedih) Kau menculik anak lagi, Gombel?

GOMBEL        :  Aku tidak menculik!  Aku menyelamatkan anak ini.  Namanya Bela.

RUWO                        :  (Melihat BELA) Menyelamatkan bagaimana? (Cemas) Dia pingsan?

GOMBEL        :  Dia sangat menderita. Ibunya kasar, suka membentak dan memukul.

Teman-temannya juga meninggalkannya.

RUWO                        :  Tapi dia manusia. Dia bukan jenis kita.

GOMBEL        :  Kita bisa menyenangkannya. Dan kesenangan Bela adalah kebahagiaan

kita. Kita tidak akan kesepian lagi, Ruwo.

RUWO                        :  Ya. Kita tidak akan kesepian lagi.

GOMBEL        :  (Menaburkan sesuatu) Bela… bangun….

RUWO                        :  Rasanya hidup kita begitu cepat berubah, Gombel.

BELA              :  (Bangun) Siapakah Ibu ini?

GOMBEL        :  (Tersenyum) Aku ibumu.

BELA              :  Ibu?

GOMBEL        :  Ya, Ibu Gombel. Dan itu bapakmu. Bapak Ruwo.

RUWO                        : (Haru) Ya, Anakku.

BELA              :  Ini di mana?

GOMBEL        :  Di mana? Ini rumahmu sendiri. Ayo main.

Mereka bermain-main kuda-kudaan dst. Mereka menyanyi gembira sekali.

07.  Malam, di bawah pohon besar, mistis.

Wewegombel, Gondoruwo, BELA, ORANG-ORANG,

ANAK-ANAK, MAMA

Orang-orang membunyikan alat-alat dapur berkeliling kampung dipimpin Pak Tua. Mereka membawa obor dan senjata sambil memanggil-manggil BELA.   WEWEGOMBEL dan GONDORUWO ikut menari mengikuti orang-orang.

BELA tidak merasa kalau sudah ditinggalkan WEWEGOMBEL

BELA              :  Ayo main, Ibu Gombel. Ibu di mana? (Setengah sadar) Aku ini di mana?

Bapak Ruwo? Ibu? Ibu…

MAMA                        :  (Datang dan memeluk Bela) Bela, anakku.

BELA              :  (Melepaskan pelukan) Siapa kamu?

MAMA                        :  Bela, jangan katakan begitu, Anakku. Aku mamamu.

BELA              :  Mama? Mama itu jahat. Mama suka membentak dan memukul.

MAMA                        :  Tidak, Sayang. Mama sayang kamu. Mama akan bersikap lembut.

BELA              :  Mama lebih sayang televisi daripada Bela.

MAMA                        :  Tidak, Sayang. Lihatlah, Mama. Hanya kaulah yang Mama sayang.

Mama sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ayo, peluk, Mama, Sayang.

(berpelukan)

BELA              :  Lepaskan… (Berlari pergi)

MAMA                        :  (Mengejar) Bela, kembali. Mama akan berubah, Bela.

BELA              :  (Kembali sambil menggendong boneka) Mama, Bela pulang.

MAMA                        :  (Marah dan menjewer telinga Bela) Bikin repot saja. Ayo, cepat!

Bela menangis kesakitan. WeweGombel menangkap tangan Bela. Terjadi tarik menarik antara WeweGombel dan Mama.

MAMA                        :  Kau siapa. Ini anakku.

GOMBEL        :  Bela ini milikku. Dia sudah menjadi anakku.

BELA              :  (Menangis) Ibu…

MAMA                        :  Kau mengerikan. Lepaskan. Jangan sentuh.

GOMBEL        :  Kau jahat. Kau menyia-nyiakannya.

MAMA                        :  Akulah mama yang melahirkannya.

BELA              :  (Menangis) Mama…

GOMBEL        :  Akulah yang menyayanginya.

MAMA                        :  Kau berbohong. Kau menculiknya. (Berteriak) Tolong… Wewe Gombel

di sini! Wewe Gombel merebut anakku!

Bela menangis. Orang-orang datang. Mereka menyiapkan senjatanya masing-masing.

ORANG TUA :  Gombel, lepaskan. Sekarang enyahlah dari sini!

Orang tua menusuk Wewe Gombel dengan keris. Wewe Gombel perutnya terluka. Pegangannya terlepas. BELA terjatuh dan pingsan. Orang-orang mengangkat Bela. Gondoruwo menyerang Orang-orang tetapi keris Pak Tua telah bersarang pula di dadanya.

Orang-orang: (Bersorak) Enyahlah Wewe Gombel. Kita dapatkan Bela! Kita dapatkan

Bela! Hidup Pak Tua.

Orang-orang pergi dengan puas dan penuh kemenangan. Anak-anak melempari Wewe Gombel dengan batu dan menusuk-nusuk dengan kayu. WEWE GOMBEL kesakitan dan sangat sedih.

ANAK-ANAK            :  Gombel penculik anak. Gombel-gombel.

ANAK-ANAK            :  Gombel tak punya anak. Gombel-gombel.

ANAK-ANAK            :  (Mengejek) Aduh, kasihan. (Tertawa-tawa)

GOMBEL        :  Anak-anak, aku mendambakan seorang anak. Mengapa kalian

memusuhiku? Aku sayang kepada kalian, mengapa kalian jahat kepadaku.

(Menarik seorang anak dan memeluknya) Apakah yang kalian butuhkan

melebihi kasih sayang? (Membelai dengan lembut) Kau mau menjawab,

Manis?

ANAK itu meludahi WEWE GOMBEL. WEWE GOMBEL marah. Wajahnya dibuat sangat mengerikan. Anak-anak lari ketakutan.

GOMBEL        : Kalian anak-anak nakal!

WEWE GOMBEL terjatuh dan batuk-batuk. Tubuhnya terasa sakit.

  1. 08. Malam yang sama, di depan rumah. Hidmat

ORANG-ORANG, BELA

ORANG-Orang menyerahkan BELA yang masih pingsan kepada MAMA. ORANG-ORANG sibuk menyadarkan BELA.

ORANG TUA :  (Berpidato) Bapak Ibu sekalian. Telah terbukti bahwa Bela telah diculik

Wewe Gombel. Ini berarti bahwa anak-anak kita dalam keadaan tidak

aman. Kita harus setiap saat menjaga dan melindungi anak-anak kita.

Malam ini kita bersama bisa atasi. Kita harus waspada juga untuk malam-

malam nanti. Hari ini  seorang anak diculik Wewe Gombel, mungkin

besok oleh yang lainnya. Atau bahkan, maaf,  oleh diri kita sendiri karena

kita kadang telah menculik dunia anak-anak menjadi dunia orang dewasa.

Tiba-tiba BELA berteriak-teriak seperti kesurupan. ORANG-ORANG berlarian menolong.

BELA              :  Mana jalannya? Siapa orang tuaku? Siapa guruku? Siapa aku?

MAMA                        :  Bela kau berkata apa? Ini Mama, Sayang?

BELA              :  (Tertawa) Apa yang telah kau lakukan padaku? Apa kewajibanmu?

Mana punyaku? (Menangis) Aku tidak mau dipaksa. Aku tidak mau

dibiarkan.

MAMA                        :  Bela, sadarlah. Lihatlah, semua orang melihatmu.

ORANG TUA :  (Mengucap mantra) Sss. Bumi berkata langit mendengar, udara mengingsut

pepohonan bergetar, air memercik cahaya terlempar. Tuangkan dalam

darah, jerang dalam pikiran, seduh dalam hati.

BELA langsung tertidur. ORANG TUA memijit kening dan tengkuknya.

ORANG TUA :  Hatinya masih terguncang. Pikirannya tegang. Jiwanya terombang-ambing

dalam gelombang besar yang membingungkan. Sekarang semua tenanglah.

Pulanglah, lihat anak kalian sendiri.  Barangkali ada yang belum di rumah.

Jaga mereka, jangan lengah.

Semua pergi.

09.  Malam kedua, di bawah pohon besar, mistis

Wewegombel, Gondoruwo, BELA, MAMA

GOMBEL        :  (Menangis) Bela, engkau anak yang manis. Anakku.

RUWO                        :  Bela telah pulang kepada mamanya. Relakanlah.

GOMBEL        :  Bela, kau tinggalkan Ibu, Sayang.

RUWO                        :  Sabarlah. Manusia perlu anak karena usia mereka singkat. Mereka

melanjutkan hidup mereka dengan beranak pinak. Kita melanjutkan

hidup kita dengan umur kita yang panjang.

GOMBEL        :  Aku juga ingin punya anak. Aku ingin anak! (Berpelukan)

Terdengar suara BELA membaca buku pelajaran.

MAMA (VO)  :  (Memukul-mukul meja) Diam. Diam. Berisik. Sinetronnya*) sudah

mulai!

BELA (VO)     :  Besok ada ulangan, Mama.

MAMA (VO)  :  Cerewet. Kau dengar tidak, Mama sedang nonton televisi!

MAMA melempar sesuatu. BELA mengaduh kesakitan. Tangis Wewe Gombel  makin keras. Wewe Gombel  hendak mendatangi BELA tetapi dicegah RUWO.

GOMBEL        :  Anakku. Aku tak tahan lagi.

RUWO                        :  Adat manusia memang begitu, Gombel. Kita hanya bisa menonton.

GOMBEL        :  Betapa sedihnya, Ruwo.

RUWO                        :  Tutup matamu, tutup juga telingamu, Gombel.

BELA              :  (Datang)  Ibu Gombel… Aku datang…

RUWO                        :  (Memberi isyarat kepada Bela supaya pergi) Sss…

BELA              :  (Malah tersenyum menggoda) Ibu Gombel, Bapak Ruwo, aku di sini!

GOMBEL        :  (Membuka mata. Kaget dan senang. Memeluk Bela) Anakku… Aku

merindukanmu.

BELA              :  Ibu, Bela mau di sini saja. Aku takut. Mama jahat. Mama…

GOMBEL        :  (Berusaha marah) Tidak. Pulanglah. Mamamu menunggumu. Dialah

mamamu yang sesungguhnya.

BELA              :  Tidak. Bela sayang Ibu. Bela mau bersama Ibu Gombel saja.

GOMBEL        :  (Mengubah wajahnya menjadi sangat mengerikan) Lihatlah. Aku akan

lebih jahat lagi. Aku akan memukulimu. (Memukul dengan keras)

Kembalilah kepada mamamu lagi! Pulang!

BELA              :  (Kaget, tidak percaya) Ibu Gombel jahat. Ibu Gombel jahat!

Bela melempar Wewe Gombel dengan boneka lalu menangis pergi. Wewe Gombel tertawa mengerikan, sebentar kemudian menangis sedih sekali.  Wewe Gombel memungut boneka.

GOMBEL        :  (Kepada boneka) Maafkan aku Bela. Kau tidak akan mengerti. Aku sangat                 sayang kepadamu. Aku terpaksa melakukan ini.

RUWO                        :  Sudahlah, kau telah melakukan yang seharusnya.

GOMBEL        :  Ruwo, ini siksaan tak ada habisnya. Kita adalah korban nasib terabaikan.

RUWO                        :  Betapa sengsaranya hidup ini. Umur panjang kita adalah kutukan.

10.  Malam kedua. Di bawah pohon besar. Sedih.

Wewegombel, Gondoruwo

Tiba-tiba Gondoruwo tertawa dan menangis hebat. Wewe Gombel kaget dan memukul Gondoruwo keras-keras.

GOMBEL        :  Ruwo, apa-apaan kau ini. Sudah, diam. Jangan mengundang orang-orang

untuk membunuh kita.

RUWO                        :  (Marah dan mencabut keris di dadanya) Lebih baik mereka membunuhku.

Biarkan aku mati. Aku tidak berguna lagi.

GOMBEL        :  Ada apa kau ini. Ini adalah kelangsungan hidup kita.

RUWO                        :  Yang kau pikirkan cuma anak. Anak yang tak akan pernah menjadi milik

kita.  Sementara aku yang beratus-ratus tahun mencintaimu, kau abaikan

begitu  saja. Apakah ini tidak sangat menyedihkan?

Darah Gondoruwo meleleh dari dadanya, lalu terjatuh lemah.

GOMBEL        :  (Memeluk) Maafkan aku, Ruwo. Maafkan aku. Susah payah aku

menginginkan seorang anak di dekapku.Tapi aku tak sadar ternyata

sesungguhnya, kaulah yang kucari. (Membuang boneka) Kasih sayang.

Kaulah cintaku, Ruwo. Lihatlah kepadaku. Aku menyesal telah

melupakanmu. (Menangis sedih sekali.)

RUWO                        :  Sekarang, senyumlah, Sayang. Kita akan bahagia, Gombel.  Selamanya.

Selama-lamanya.

WEWE GOMBEL tersenyum. Mereka bergandengan.

RUWO                        : Kau cantik sekali, Gombel.

GOMBEL        : (Salah tingkah) Kau juga hebat, Ruwo.

Mereka tertawa. Lalu sejenak mereka diam.

GOMBEL        :  (Menghirup nafas panjang-panjang) Kau rasakah udara malam ini, Ruwo.

RUWO                        : Ya. Udara malam seperti udara malam yang kita hirup beratus-ratus tahun

yang lalu.

GOMBEL        : Tetapi terasa lebih segar, lebih lembut, Ruwo.

RUWO                        : Ya, karena kita telah menemukan cinta kita.

GOMBEL        : Bulan telah muncul, Ruwo. Malam ini indah sekali.

Mereka berpelukan.

11.  Malam kedua, di dalam rumah, haru

BELA, MAMA

Mama tertawa melihat pertunjukan lucu dari televisi. Tiba-tiba ada teriakan seorang anak. Mama kaget dan baru tersadar kalau Bela tidak ada. MAMA mencari-cari BELA di kamar atas. BELA tidak ada di rumah, MAMA cemas.

MAMA                        :  (Turun dari tangga) Bela, kamu di mana? (Melihat televisi dengan

nyalang) Kaulah yang mencuri anakku. Jangan tersenyum. Kuhancurkan

kau.

MAMA menghajar televisi dengan sapu. Tampak percikan listrik dan kepulan asap.

MAMA                        : Kaulah Wewe Gombel, kaulah Wewe Gombel sebenarnya! (Memegang

puingan televisi) Kaulah yang menculik anak-anak di seluruh dunia.

Kaulah Wewe Gombel itu!

MAMA menangis, kecapekan, dan terduduk di lantai. Ia benar-benar merasa sendiri.

MAMA                        :  Bela kau di mana? Pulanglah, anakku. Apa gunanya Mama bekerja setiap

hari, kalau tidak untuk kamu. (Menghamburkan tas berisi uang dan

tertawa) Apa  gunanya Mama melanjutkan hidup kalau Mama menyia-

nyiakan kamu.  Mama khilaf. Mama berdosa. Lihatlah wajah Mama

sebenarnya.  Mama  sangat sayang kepadamu. Engkaulah hidup Mama.

MAMA                        :  (Tersenyum) Pandanglah hari-hari akan datang. Mama akan selalu ada

untuk kamu. Mama akan ada di sampingmu kalau kamu belajar. Waktu

Mama hanya untuk kamu. Bela, pulanglah. Mama menunggumu.

BELA              :  (Muncul di pintu) Benarkah itu Mama?

MAMA                        :  Bela? (Berpelukan) Mama sayang kamu.

BELA              :  Bela juga sayang Mama.

12.  Malam bulan purnama, di halaman rumah, gembira

SEMUA PEMAIN

Semua menyanyi dan menari.

Anak adalah amanat kehidupan

Anak adalah jiwa sang insan

Jagalah jagalah jagalah

Dengan sepenuh jiwa

Anak adalah senyum kehidupan

Anak adalah kita masa depan

Jagalah jagalah jagalah

Dengan kasih sayang.

Selesai

*) disesuaikan dengan tokoh sinetron atau nama program televisi berrating tinggi

Bila hendak mementaskan naskah ini, mohon izin kepada penulis.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.