Kumpulan Puisi Chairil Anwar

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

Siapa yang tidak mengenal legendaris salah satu sastrawan puisi Indonesia pada generasi tahun 1945an dengan puisi2 beliau yang menggubah rasa kita. Ya, siapa lagi kalau bukan Eyangnya puisi Indonesia yaitu Chairil Anwar!

Terlahir di Medan pada tahun 1922 dan hijrah dan menetap diJakarta. Keakraban dan keramahannya menjadikan beliau berteman dengan siapapun yang dijumpai dari kalangan atas bahkan sampai prostitutes.

Latar belakang kehidupan beliau yang  unik dan sifat beliau sebagai orang yang mencintai akan sarat kebebasan dalam menumpahkan segala ekspresinya tertulis dalam setiap puisi2 beliau.

Adalah akan menjadi lengkap bila penulisan profile beliau yang hanya seupil ini disertai dengan karya-kaya besar beliau. Selamat menikmati!

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

1948
Siasat,
Th III, No. 96
1949

MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

1948
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954

—————————————————————————————————————————————-
AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943

HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti

DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943


SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…


SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946


CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947


YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

—————————————————————————————————————————————-
NISAN

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta
DENGAN MIRAT

Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas

Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam

‘Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu

1946

TJERITA BUAT DIEN TAMAELA

Beta Pattiradjawane
jang didjaga datu datu
Tjuma satu

Beta Pattiradjawane
kikisan laut
berdarah laut

beta pattiradjawane
ketika lahir dibawakan
datu dajung sampan

beta pattiradjawane pendjaga hutan pala
beta api dipantai,siapa mendekat
tiga kali menjebut beta punja nama

dalam sunyi malam ganggang menari
menurut beta punya tifa
pohon pala, badan perawan djadi
hidup sampai pagi tiba

mari menari !
mari beria !
mari berlupa !

awas ! djangan bikin bea marah
beta bikin pala mati, gadis kaku
beta kirim datu-datu !

beta ada dimalam, ada disiang
irama ganggang dan api membakar pulau …….

beta pattiradjawane
jang didjaga datu-datu
tjuma satu

AKU BERADA KEMBALI

Aku berada kembali. Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna,kapal kapal,
elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari lain.

Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja.
Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
lebih lengang pula ketika berada antara
yang mengharap dan yang melepas.

Telinga kiri masih terpaling
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
seterang
guruh

1949


Salam puisi,

Kumpulan Cerpen (Bahasa Jawa)

Cakar

Tukang angkringan siji iki pancen keren tenan. Ora maido karo rupane. Apa mula ngono, banjur dandanane mlipis kaya wong kantoran. Apa merga nyandange rapi banjur katon rupane bagus. Embuh. Bakune, saben-saben kok tansah rapi. Klambi dilebokake, setlikan alus, nganggo sepatu, sing tansaha elek nanging katon cemleret, resik. Wingi aku mrene, pas arep mbayar, nyedhaki dheweke, ambune wangi-wangi sithik. Pancen, nyenengake kang padha jajan ana ing angkringane. Rikala wingi aku mangan ana ing papan kene, tak takoni, jare badhine lumayan, kena kanggo nyekolahake anake kang loro cacahe.

Wengi iki aku mrene maneh. Sasi tuwa ngene bisane mangan mung ana ing angkringan. Sanajan segane sethithik, mangan rong wungkus wis kena dienggo sangu turu. Menawa mangan kaya ngene iki ing wayah esuk, srengege munggah urung tekan tengah mbokmenawa aku wis semaput. Sega sekepel dirubung tinggi, ya iki. Segane angkringan dilawuhi irisan tempe sacumit. Mbrenik cilik-cilik. Sanajan lawuhe mung tinggi… eh, tempe, nanging krasa enak, apa sebab wetenge lagi rumangsa luwe, embuh. Sing penting bengi iki wetengku isih kelebon pangan. Sesuk esuk sarapane wae sing rada bedha.

Arep njupuk cakar apa endhas pithik, sesuk gek aku ora oleh pangan. Sangune ora tekan nggonan. Rak cilaka. Isih untung menawa oleh utangan. Bisa kena dienggo lantaran panguripan. Lha kanca-kancaku amung padha. Padha-padha ora dhuwe dhuwit. Mengko malah mundhak bingung golek uwong sing gelem aweh utangan. Dadi wurung wae anggonku pepinginan. Wong mung arep turu.

Ceck Ceck Ceck…, wingi, aku mrene sedhelo, tak pikir sing lagi padha mangan kuwi rombongan seka adoh kang mampir. Lagi piknik, lan kepingin ngrasakake mangan ana ing angkringan. Menawa wae ora ana angkringan nang kuthane. Nanging dudu. Iki sing teka padha wae. Rame. Rombongan. Lha, jebul sing jajan ana angkringan kene pancen bedha. Gumun tenan aku. Wah wah wah, elok tenan, padha mobilan. Paling ora, sepeda motoran. Rombong-rombongan. Loro, telu, paling akeh pitu

Sing mudun saka mobil kok ya ayu-ayu, dandanan wadon jaman saiki. Kancanane uga bagus-bagus, sandangane pada alus lan ambune wangi, kaya sandangan sing dikumbahke karo londri-londri kae. Aku ora tau mlebu londri, nanging menawa liwat kae, ambune tekan ngendi-ngendi. Ora ngerti, sandhangan reget kok nganti dikumbahke. Terus saben dinane kuwi, gaweane ngapa?

Sajakke dudu mahasiswa. Nanging kok umur-umurane bocah sekolahan. Adoh saka rerupan mahasiswa sing biasane nyambangi angkringan sasi-sasi tuwa ngene. Biasane, sasi tuwa ngene bocah kuliahan padha kenthekan sangu. Menawa tanggal enom olehe memanganan enak-enak. Mengko, menawa tanggal tuwa, sangune kari sithik, kapeksa nyegah pepinginan, olehe memanganan ora dumeh pingin maneh. Banjur mangane padha nang angkringan. Lumrahe ngono.

He he he, aku dadi kelingan awakku dewe sing lagi kere. Proyek, bayarane kok ora genah. Jare dibayar minggon, iki wis telung minggu urung oleh bayaran. Pemboronge ra ngerti pa, aku ya kudu kirim dhuwit kanggo mangan anak bojo. Isih untung anak bojo omahe nang ndeso. Manawa duwite enthek, isih bisa memanganan arepo mung lawuh janganan saka kebonan. Walah walah…Iki kok dadi aku grundelan dewe.

Kae, ana sing teka maneh. Lanang wadon karo bocah cilik. Bocahe cilik semrinthil, ora duwe wedi. Kaya-kaya wis biasane teko ana angkringan kene. Lha, kendhel tenan bocah kuwi. Langsung mlayu ndisiki bapak ibune nyedhak marang tukang angkring. Lho lho lho, langsung njupuk piring banjur njupuki jajanan siji-siji. E… lha, cakare olehe njupuk kok ya ora siji, loro… njupuke kok ya lima. Apa ya enthek kuwi mengko. “Om, Om, es jeruk ya Om,” patembunge banjur mlayu rindhik lungguh ana lesehan kan wus sumadya. Gedhek-gedhek aku ndeleng bocah kuwi mau.

Bapak ibune nyedhak marang angkringan. Sing wadon njupuk sega wungkusan papat. Dicekel ana tangane kiwa. ”Pak, piringe pundi nggih.”

“O, menika Bu, nembe pun betha saking wingking,” banjur diulungake piring kuwi mau dening si tukang angkringan. Aku ya mung gedhek-gedhek ngerteni si ibu njupuk gorengan papat, sate puyuh papat, banjur njupuk cakar. Aku melu ngitung, cacahe jebul rongpuluh. Wayah bapak ibu kuwi mau lagi teka banjur lungguh ana lesehan, tak kira jajanan kuwi mau ora arep dipangan kabeh. Mengko njaluk diwungkus digawa mulih kanggo oleh-oleh. Mau njupuk dhisik amarga mengko mundhak ora kumanan.

Lha kok enthek, dipangan pawongan loro. Bareng tak gathekke kiwa tengen, lan sing padha lagi wae teka, njupukke cakar jebul ya akeh-akeh. Njupuke cakar, jebul ya rong puluh, nek rombongane papat apa lima ya njupuke bisa seket kepara seket lima. Gendheng tenan aku iki, lha kok melu ngitungi wong padha jajan. Melu ngitungi wong padha memanganan.

Aku ngguyu dhewe. Menawa ana sing nggatekke kepara wedi paling. Sajak-sajakke wong ora genep. Ora waras. Dhewe-dhewe sajak cengengesan. Tak banding-bandingake, arepa nang angkringan, wis ora bisa diarani sega dirubung tinggi maneh. Cakar gedhe-gedhe ngono rak ya ora bisa dipadhakake karo tinggi. Tinggine kok gedhe banget. Lha ora pener. Nanging ya aku mumet nek kon golek, apa ya arane…, bebasan, apa paribasan, apa wangsalan. Aku ora kelingan. Iku pelajaran wayah aku SD. Menawa dibalik krasa lucu tur wagu, kepara malah salah, dadi ujaran kang ora mungkin, sega ngrubung tinggi.

Sing tak kira bocah sekolahan, bocah kuliahan, tak rungok-rungokake olehe padha guneman ya ora ngomongake sekolahan, kuliahan. Ora ngomongake skripsi. Babar blas. Tembung dosen, apa tugas, apa sing ana gegandengane karo kuliahan ora kocap. Dadi menawane ya dudu bocah kuliahan.

Sing sisih kulon kae lumrah, wis bebojoan. Dhuwe anak. Katon nanggapi anake sing lagi cerita bab kanca-kancane sing nakal wayah neng sekolahan kang oleh paukumam saka gurune. Jare ana kancane sing diukum, dithuthuk tangane ngganggo garisan karo gurune. Manut critane, gurune pancen rada galak. Bapak ibune manthuk-manthuk nggathekake criwise anake. Sinambi ora leren anggone memanganan. Barang cakar rong puluh. Mangane sepuluh-sepuluh.

Mangane sajak enak tenan. Apa pancen olehe masak enak, apa wong-wong sing jajan nang kene pancen seneng mangan cakar. Ndilalah dhuwitku kok ya mepet tenan. Menawa isih kena ngono, tak belani ngrasakake cakar siji wae. Aku yen wis ngerti rasane, wis ora kakean pitakonan. Wis marem. Sesuk kapan-kapan menawa aku bayaran, tak coba mangan cakar nang kene. Paling padha wae.

Rombongan sisih lor katon gumyak banget. Bocah lima. Lanang telu, wadon loro. Pas teko, aku melu ngitung njupuke cakar seket lima. Isih tambah neko-neko. Tambah gorengan, tambah krupuk, lan embuh apa wae mau. Ngguyune kok ya cekakakan. Lali ana wong liya akeh nang kiwa tengene. Nanging tak deleng-deleng wong-wong ya ora kaget. Biasa wae. Ora keganggu karo ngguyu kang sepuluh meter saka kene tak kira isih rungu kuwi mau.

“He, Boby Setu wingi sida ngajak Nency. Apa gelem dheweke kowe sing ngajak dolan.”

“Jelas, sida. Kowe, pancen kok. Nyepelekake tenan karo aku. Sapa tha, Boby. ngendi ana sing nolak diajak Boby dolan, he he he..”

“Terus. Terus piye ceritane. Edan tenan kok kowe ki. Si Nency kuwi ya gelem kok ajak jejogetan?”

“Mulane sajak wegah-wegaha kae. Jare isin, ora isa joget. Nanging, suwe-suwe, tak bujuki terus, lan ngerteni wong kiwa tengene ra bakal nggatekake, akhire ya gelem joget. Malah jogete, wuisss… edan tenan. Kapan-kapan wae ajaken. Mesthi gelem. Ngomong wae kancane Boby. Mengko nang kana ketemu Boby. Menawa kowe ngomong ngono mengko rak wonge gelem.”

“ Kowe pancen T.O.P. B.G.T kok Bob. Top banget, ha ha ha ha…”

Lha dalah, ngomongake apa kae. Aku ora mudeng.

Ora krasa olehku mangan sega rong wungkus wis rampung. Biasane malah ora suwi ngene iki. Mangan, ya mangan wae. Telap telep rampung. Iki mau olehku mangan sajak suwi. Kegawa karo kahanan. Guluku kok ya seret ngene. Waduh ora pesen ngombe. Arep njaluk wedang putih mengko gek ora oleh. Luwung bali wae.

“Pinten mas kula, niki segane wau kalih”

“Niki nggih mas, nuwun.

Aku banjur mlayu mak plencing ora nggagas semaure tukang angkringan. Wong aku wis apal regane.

Paimin

“Mas, mas, sampeyan pun dangu mande wonten mriki?”

“Wah, urung suwe-suwe banget Mas. Setengah tahun kira-kira.”

“Nanging nggih laris tha mandene, sajakke sing jajan saben bengi kathah ngoten.”

“Lumayan, kena kanggo ngragati sekolahe anakku sing saiki lagi SD lan mbakyune SMP. Kuwi bocahe saiki padha melu ewang-ewang.”

“Sampeyan lho, saget ngragati anak loro sekolah kok diarani lumayan. Hebat niku mas. Saking angkringan saget nyekolahke anak. Mangka sakniki sekolah niku mboten saben tiyang saget sekolah, mboten saben tiyang saget nyekolahke anak, njenengan saget nyekolahke anak loro. Malah bisa ngganti SMP. Hebat niku”

“Kuwi rak merga bakulanku iki tha mas, sing tak arani lumayan. Sing tuku ya lumayan akeh. Olehe badhi ya lumayan akeh. Akeh tumrap aku bisa kanggo nyekolahke anakku kuwi mau. Kadang isih direwangi utang, nek ana iuran kana iuran kene ngana kae.”

“Kok nggih niku sing jajan kathah sanget tha, rombongan. Kadose kok sanes mahasiswa sing biasane katelasan sangu.”
“ He he he he…..Pancen bedha. Kuwi kabeh wong sugih-sugih. Mahasiswa ya mahasiswa sugih. Parane pancen mrene. Lan kuwi ora teka karepe dhewe. Ana carane.”

“ Enggih tha.”

“Lha iya.”

“ Njenengan mesthi nganggo penglaris. Kok ampuh banget penglarise.”

“ Wooo, sampeyan niku. Jaman ngene kok nganggo penglaris. Wis ora empan mas, penglarise uga kudu modern. Kudu nututi jaman.”

Eh, jebul sing duwe angkringan grapyak. Malah crita akeh banget bab lelakone ana ing kutha kene. Jare dheweke janjane asli ndesa, Klaten. Klaten sing sisih ndesa, dudu klaten kutha. Pokoke bocah ndesa.

Nalika durung dhuwe bojo, pancen dheweke sabane kutha. Jare bedha tenan kahanan ndesa karo kutha. Ndesa sepi. Ora nyenengake atine. Menawa bengi peteng dhedhet, ora ana lampu. Dheweke kawit cilik uwis wedi ana ing petengan. Kutha bengi mana tetep padhang jingglang. Ana rembulan ora ana rembulan tetep padhang. Rumangsa luwih seneng nang kutha, dheweke dhuwe cita-cita kudu urip nang kutha. Emoh menawa dheweke urip nang ndesa. Emoh menawa kudu bali menyang ndesane.

Tau, ndisik dheweke kekancan karo bocah wadon, jenenge Siti. Siti rupane ayu. Dheweke kerja nang warung makan dadi rewang. Bareng kenal, kekancan, terus Paimin kerep dolan nang ngomahe. Kerepe esuk karo ngeterke kerja, sebab wayah sore dheweke kudu siap-siap dodolan.

Srawunge apik. Karo Siti, uga karo keluargane. Nanging, wayah dheweke dolan, nalika Siti njupuk wedang, Paimin krungu, emake Siti nakokake dhuwit kontrakan. Ngerti menawa omahe sing dipanggone Siti lan keluargane isih ngontrak, dheweke kaget. Mikir-mikir. Dheweke mung tukang angkringan, mengko menawa bebojoan karo Siti mesti kudu ngrewangi bayari kontrakan. Mangka, tukang akringan kaya dheweke kuwi dienggo nyukupi urip wae mesti rekasa. Sakwise ngerteni bab omah sing isih ngontrak kuwi mau, Paimin wis ora tau dolan maneh. Ora gelem. Diweling-welingake karo Siti, tetep ora digagas. Pokoke wis ora dolan maneh.

Sawise ora tau ketemu karo Siti. Paimin kenal karo wong wadon liya. Jenenge Mirna, jeneng kutha. Mesti omahe mung sekitar kene, mangkana pamikire Paimin. Mirna bocahe manis. Patrape uga nyenengake. Sumeh. Grapyak. Sawise tetepungan, Paimin banjur sering mangan soto ana ing warunge. Mirna kuwi mau dadi rewang nang warung kana. Warung Soto Sederhana. Bocah loro banjur kekancan.

Niteni kapan wayahe warung kuwi ora akeh sing jajan, Paimin dolan. Mangan Soto. Amarga sing ngladeni Mirna, Paimin menawa tuku soto daginge akeh, sotone ya akeh, mula Paimin seneng-seneng wae mangan nang kana. Wayah sepi ora ana sing jajan, Paimin banjur bisa gegojekan karo Mirna. Paimin njaluk dolan nang ngomahe. Panjaluke kuwi mau disaguhi karo Mirna. ”Suk Minggu ya mas, sedino nang ngomahku,” wangsulane. “Ya, suk Minggu,” Semaguhe Paimin. Menawa omahe cedhak kene, sore aku isih bisa dodolan, pikire.

Dina minggu, esuk jam pitu Paimin teka nang warung kana. Numpak sepeda motor. Paimin pancen duwe sepeda motor, sanajana wis katon ora anyar maneh. Kadang-kadang wis ora bisa distater tangan. Menawa lagi rewel malah gelem mogok. Lamun nggono, kuwi mau wis bisa dienggo jalaran Paimin rada gembagus.

Warunge bukak. Nanging Mirna jare wis pamitan dina kuwi ora arep kerja. Marga Paimin arep dolan nang ngomahe. Sing duwe warung oleh wae Mirna pamit dina kuwi, wong Mirna ya wis suwe ora tau pamit. Wong ya ora tau lara, ora tau duwe kepentingan. Mlebu kerja terus. “Ngandi iki arahe menyang omahmu, Na?” pitakone Paimin. “Wis, saiki Mas Paimin mlaku wae, mrana. Mengko tak abani menawa belak-belok.”

Paimin mlaku alon-alon. Menawa ana belokan Mirna ngabani. Ngiwa, apa nengen, apa lurus wae. Jebul kok ora tekan-tekan. Wis adoh banget. Malah arahe kok arah menyang ngomahe Paimin dhewe. Arah Klaten. “Kok adoh banget. Omahmu ngendi Na?” Jebul omahe Mirna Klaten. Klaten ndesa. Luwih ndesa dibandingke omahe Paimin. Omahe pucuk gunung. Pucuk sak pucuk-pucuke. Paimin gela, gela omahe Mirna jebul ndesa, tur sore mengko Paimin ora bisa dodolan. Bangkrut tenan dina iki.

Omahe Mirna ndesa. Paimin wegah-wegah tenan omah nang ndesa. Wis dadi cita-citane kawit biyen, dheweke kudu urip nang kutha. Emoh urip nang ndesa. Kudu urip nang kutha. Menawa oleh bojo wong ndesa, mesti tiba mburi uripe nang ndesa. Durung menawa mengko kepeneran kudu nunggu mertua. Kawiwitan dina kuwi, Paimin wis ora tau maneh mangan soto ana ing Warung Soto Sederhana.

Rada suwe Paimin ora nyedaki bocah wadon maneh. Nganti sawijine dina, nalika tuku cakar menyang pasar, Paimin kenalan karo anake sing bakul cakar. Cakar pithik. Barang siji iki pancen akeh sing seneng. Neka-neka sebabe seneng karo cakar kuwi mau. Paimin ngerti wae, sebab dheweke sering nakoni uwong-uwong sing padha jajan nang angkringane, bab ngapa kok seneng mangan cakar. Keneng apa sing jajan ora kok milih pupu utawa dada. Kuwi rak mestine luwih empuk tur ndaging.

Kaya biasane, Paimin nalika tuku cakar nganggo tetakonan dhisik karo bakule. Lha wis kenal. Ora pantes menawa ora sapa aruh. Nah, dina kuwi, bakule cakar kepeneran ngajak anake wedok. Jare anake kuwi sisan karo arep tuku sabun lan keperluan liyane. Dadi si Inah, mengkana jenenge anake kuwi mau, melu menyang pasar. Banjur nunggu sisan emake rampungan olehe dodolan. Bejane Paimin, banjur oleh kenalan. Bocah wadon anake bakul cakar. Bocahe resik. Kaya makne. Senajan ora patia ayu. Batine Paimin.

“Nggih sampun Mak, kula wangsul rumiyin. Pun genep tha niki, cakare.”

“ Uwis, uwis. Malahan tak tambahi kuwi mau. Kaya padatan.”

“ Nggih sampun, maturnuwun. Ayo, Nah, sesuk kapan-kapan aku tak dolan,” pangajake Paimin marang Inah.

“ Iya mas,” panyaute Inah sajak semu isin.

Paimin mulih lan ora mikir maneh olehe kenalan karo Inah. Nganti rada suwe. Ketemu maneh merga nasib. Dina kuwi, kaya biasane Paimin tuku cakar. Ndilalah dhuwit sing digawa kurang. Rasan-rasan ketinggal ana neng sak kathok sing dienggo wingi sore. Paimin pancen ora ngganggo kathok sing dienggo wingi sore. Dheweke ganti kathok mergo, kathok sing kuwi arep dienggo maneh sore mengko. Dheweke ora sreg menawa mengko sore pas bakulan ngganggo kathok sing saiki dienggo.

“Nggih pun Mak, siang mangkih kula terke. Kula diancer-anceri mawon griyane sampeyan. Lha pripun malih, turene sampeyan arthane badhe pun ginaaken kangge kulak cakar.”

Awane Paimin budhal menyang omahe sing bakul cakar. Ngeterke dhuwit. Nang kana ketemu karo si Inah. Ngganti rada sore Paimin mulih. Kepenaken gegojekan karo Inah. Wiwit dina kuwi, Paimin orao kerep banget, nanging kadhang-kadhamg dolan menyang omahe Inah. Karo bapak ibune dikirane bocah loro kuwi padha senengan lan arep bebojoan. Wong tuwane sajak seneng wae menawa bebojoan kuwi mau kedadean tenan.

Sanajan Paimin ndolani Inah, nanging Paimin ora seneng-seneng tenan lan ora kepingin banget arep bebojoan karo Inah. Paimin wis ngerti-ngerti sithik menawa keluargane Inah panguripane ora susah-susah banget. Cukupan. Sanajan ora asli kutha kene, nanging omahe wis ora ngontrak. Omah kuwi wis dhuweke dhewe. Anak tunggal maneh. Mengko menawa bebojoan karo Inah bisa melu omah nang kono. Ora mungkin ora diolehi, wong Inah kuwi anak siji-sijine. Ndah sepine omah menawa si Inah lunga melu bojone. Mesti malah dibujuki supaya omah nang kana wae.

Paimin seneng menawa mikir bab kuwi. Nanging atine durung sreg menawa bebojoan karo Inah. Kurang ayu jare kancane. Paimin, kanthi rupa kang bisa diarani bagus, isih bisa oleh bojo sing luwih ayu saka Inah. “Kena dipamer-pamerke,” jare kancane. Paimin manthuk-manthuk wae. Kepikiran arep nggolek kanca wadon liyane sing luwih ayu. Mengkone bakal dipek bojo.

Kanthi pikiran kaya mangkana, Paimin nglereni anggone dolan menyang omahe Inah. Sakwise rong sasi ora dolan, Paimin dadi golekan. Malah bapake Inah sing nggoleki, dudu Inah. Wayah bapake Inah nggoleki, nang papan biasane Paimin dodolan, kepasan Paimin lagi wae leren olehe bakulan. Wis direncanakake dheweke bakalan seminggu ana nang ngomah. Leren. Nang Klaten. Paimin ora ditemokake karo bapake Inah. Nang panggonane kang disewa dienggo turu ora ana. Nanging bapake Inah isih beja diwenehi ngerti alamate omahe Paimin nang Klaten.

Setu awan, nalika Paimin lagi siap-siap bali menyang kutha anggone bakul angkringan, bapake Inah teka. Bareng tetakonan ngalor ngidul jebul intine nakokake ngapa kok Paimin ora tau dolan maneh nang ngomah. Jare digoleki karo si Inah. “Menawa ana masalah mbok dirembuk apik-apik. Kok mak plas ora ana kabare, kae lho ditakokake karo Inah,” mangkana tembunge bapake Inah. Paimin mung ngguya ngguyu mbingungi semu isin.

Dina setu kuwi uga Paimin bali menyang papan panggaweane. Mampir omahe Inah wong olehe budhal bareng karo bapake.

”Saiki kuwi Mas, anaku wis loro,” ujare Paimin ngrampungi ceritane marang pawongan kang jajan ana nagkringane.

Panglaris

“Anyar ya mas nang kene, aku bola bali liwat kene lagi wae ngerti ana angkringan nang papan kene?”

Paimin sing lagi ndingkluk ngantuk-antuk mak jenggerat kaget. Sanajan isih sore nanging thenguk-thenguk nunggu wong tuku ora teka-teka njalari ngantuk. Dadi dheweke kaget nalika ana pawongan neng ngarep rahine lagi mangan cakar.

“Ohhhh, nggih pak, nembe seminggu wonten mriki.”

“Kok sepi ngene mas. Iki, enak tenan iki cakare. Masak dhewe iki, Mas,” pitakone karo ora leren olehe ngrumuti cakar.

“Masak piyambak, Pak.”

“Enak tenan iki mas, menawa akeh sing ngerti angkringanmu iki mesthi ramene. Cakar iki bisa dadi jalaran ngramekake angkringanmu iki.”

“Niku rak cakar biasa tha Pak, cakar pithik. Sanes panglaris. Pundi saget ndadosake kathah tiyang jajan mriki.”

“Maksudku kuwi ora ngono mas. Sinten asmane sampeyan?

“Kula, Paimin, Pak.”

“Maksudku ora ngono, Mas Min. Cakar iki enak. Aku kawit cilik seneng mangan cakar amarga mangane kudu telaten. Digrumuti siji-siji iki sikil pithik sing cilik-cilik iki. Merga sikil pithik kuwi ujude kaya oyot wit-witan, ngendikane ibuku biyen, mengko menawa wis gedhe sikilku bakal pengkuh. Kaya wit- witan kae. Janjane ora bener. Mung dhek jaman aku cilik, ibuku bisane nukokake lawuh mung sikil pithik kaya ngene iki. Kuwi sebabe aku seneng mangan cakar nganti umurku samene. Nganti aku dadi dosen saiki, isih seneng mangan cakar. Menawa arep nemu cakar lungaku menyang akringan. Ngono, Mas Min, he he he,” bapak kuwi mau cerita akeh-akeh karo guyonan.

Paimin, seneng ngrungokake. Guneme bapak kuwi mau isi lan sajake wong pinter. Katon seka nyandange lan tindak tandhuke.

“Terus niku wau Pak, bab cakar sing dados panglaris niku wau. Cakare dinapakake, Pak? Napa dijur alus terus disebarke sekitar mriki napa pripun?”

“Ha ha ha ha,” bapake malah ngguyu seru. Paimin dadi bingung dhewe.

“Ora ngono, Mas Min. Menawa mangkono kuwi mau panglaris jamane simbah-simbah. Saiki wis bedha. Panglarise kudu nututi jaman,” wangsulane bapake.

“ Saiki ngene wae, Mas. Panglaris sik tak omongke kuwi mau, bakal tak jlentrehake marang Mas Min. Nanging ora sepisanan wengi iki. Tak omongke sethithik-sethitik ning lakonana. Mengko tak jamin angkringanmu rame. Piye, saguh ora?”

“Terus mangkih kula mbayar pinten, Pak? pitakone Paimin.”

“ Ha ha ha ha,” bapake ngguyu maneh. Malah tambah seru. Katon bungah atine.

“Ora perlu mbayar. Nanging sampeyan kudu manut lan saguh nglakoni.”

“Nggih pak, kula manut. Pokoke lantaran dodolan kula laris, kula manut Bapak!”

“Ya wis. Menawa sampeyan manut karo aku.”

Bapak sing sajake wong apik trus pinter iku banjur aweh pitutur marang Paimin. Jare syarate sing sepisanan kudu dilakoni Paimin, Paimin yen bakulan kudu rapi. Klambi dilebokake, nganggo sepatu. Setlikanan. Sanajan sandhangane ora apik banget ora ngapa-ngapa. Waton kabeh katon resik lan apik. Ora semrawut. Rambute kudu Klimis. Sing saiki rada dawa awul awulan kuwi dipotong ndisik. Diminyaki. Minyak murahan ora ngapa-ngapa, sing penting kena dienggo ngatur rambute.

Uwis ngono, tambah nganggo wewangen, men sing padha tuku ora semaput mambu kringet kecut. Bakul angkringan kuwi cedhak karo geni, panas, njalari kringeten. Mengko menawa sing tuku akeh, kudu mlaku rana rene. Ngeterke wedang lan liya-liyane, mengko nek ambumu kuwi ora mbetahi, sing padha tuku bisa-bisa bubar kabeh. Kabeh kuwi mau men sing padha tuku nang angkringan iki ora jijik karo bakule. Disawang kepenak lan nyenengake. Wong bakulan menawa katon kusut tur mbeyeyet, ora sumringah, njalari males wong sing arep mampir. Menawa wis kebacut mampir kapok.

Kuwi mau syarat sing sepisanan. Paimin sing kepingin mbuktekake panglarise bapake uga semangat banget. Esuke, sandhangan sing arep dienggo mengko sore, dikumbah. Awan garing banjur disetlika. Sepatune sing katon wus rada elek diresiki resik. Dilap nganggo banyu wis dirasa cukup, wong dheweke ora duwe semir sepatu. Kabeh kuwi mau dicepakake, siap dienggo mengko sore, Ngendikane bapake arep teka maneh. Arep menehi syarat panglaris liyane.

Bar magrib bapake teka maneh. Ora mung dhewekan. Bapake nggawa kanca. Wong loro. Paimin seneng wae, merga saya akeh kanca-kancane bapak kuwi sing diajak moro, berarti dodolane sansaya akeh sing payu. Paimin mesem.

Bapake teka meneng wae, langsung mangan cakar, anteng. Sajak nikmati olehe mangan. Sing ndeleng kana kene malah kancane sing loro kuwi mau. Banjur malah ngajak tetakonan marang Paimin. Suwe-suwe kok tekan anggone Paimin nyandhang. “Sampeyan bakul nyentrik, Mas. Walah-walah, lagi saiki aku ketemu karo bakul angkringan sing rapi kaya ngene, ya ora Mas No,” karo noleh kancane sing siji. Pawongan kuwi kok sajak ngoda. Paimin meneng wae. Arep wangsulan kok ora ngerti kudu wangsulan apa, kepriye. Nyandhang kaya mangkana dheweke wis krasa ora bebas. Rasane wagu, saknyatane ya apik. Mau dheweke sempat ngaca nalika liwat omah sing kacane riben. Jebul kok dheweke kuwi bagus.

“Ora, Mas, ora apa apa. Apik kok. Aku seneng ana bakul nyenengake disawang kaya sampeyan niku. Resik, apik.”

Paimin wangsulan semu mesem, niki rak kangge nampi panglaris saking Pak niku tho pak,” Paimin karo ngarahke dagune marang bapake sing lagi anteng mangan sate. Bapake meneng wae. Kancane sing pitakonan karo Paimin kuwi mau mung ngguya ngguyu, noleh marang bapake karo nepuk-nepuk pundhake.

Nalika bapake arep muleh, kancane wis mlaku ngadoh, dheweke nyedhaki Paiman. “Apik mas, seneng aku. Sampeyan wis manut. Saiki tak kandhani panglaris sawise sampeyan nglakoni sing sepisan niku.” Bapak kuwi mau banjur ngendika sethithik tapi diturut tenan karo Paimin, sebab dheweke mikir, mesthi sesuk dheweke teka maneh, tur nggawa kanca.

Wiwit sesuk, menawa Paimin dodolan, kabeh kudu resik. Panganane, uga piring lan piranti liyane.Ngendika mangkana bapake langsung lunga nyusul kanca-kancane. ”Eh mas, natane sing apik,” Wis karo mlaku, bapake isih merlokake noleh marang Paimin. Paimin mikir mbokmenawa resik kuwi mau dienggo syarat kanggo nampa panglaris, dilakoni wae dening Paimin. Sesuke, angkringane Paimin kinclong tenan. Kabeh barang resik. Ngature barang uga apik. Ora semrawut. Rada wengi, bapake teka maneh nggawa kanca. Ora suwe disusul karo kancane sing wingi, kancane kuwi mau ya nggawa kanca liya. Paimin seneng banget. Dodolane mesti cepet enthek.

Bengi kuwi bapake ngendika maneh marang Paimin. “Mas, Min, iki sesuk angkringanmu mesti bakal rame. Mas Min mesti butuh papan sing luwih jembar. Mas Min pindah wae, kae rada ngalor kana kae. Sisih kana kae lho, tembunge karo nduduhi panggon sing dikarepake. “Papan jembar kae sapunen, resikana. Sesuk, menawa dodolan karo nggawa klasa. Mengko klasane digelar. dienggo lesehan sapa-sapa sing tuku nang kene.” Bapake njelaske karepe marang Paimin.

Sawise tetembungan sing miturut Paimin aji panglaris kuwi, bapake ora langsung melu kanca-kancane. Malah ngajak Paimin…, dudu, dudu ngajak rembukan. Wong sing dingendikaake ora ajeg. Ngalor ngidul ora ana judule. Dasar Paimin, dheweke ya ngrungokake, malah bisa cerita akeh bab sabendinane lan pengalamane. Wong loro padha omong-omongan nganti suwe. “Sampeyan dasare grapyak kok, Mas Min, kuwi kudu Mas Min patrapake nang sapa wae sing tuku nang kene. Kabeh sing tuku disapa. Menawa wis kenal, menawa teka takoni kabare. Uwis, mung kuwi. Kabeh sing wis dilakoni karo Mas Min kawit tak omongi kae aja ditinggalke. Diugemi terus, saklawase bebakulan,” pituture bapake. Paimin manthuk-manthuk sinambi mesam mesem, ning ora kumecap.

“Terus kapan kula nampi panglarise, Pak?” pitakone Paimin.

Bapake sajak kaget, banjur ngguyu kepingkel-pingkel. Nanging banjur bapake ngedika,” Wis, Mas Min, wis tak turunke. Panglaris iku mau ya kabeh sing tak omongke marang Mas Min, ya kuwi kunci bebakulan.”

Nunut

“Mas, sampeyan bakul angkringan, griyane gedhe ngoten, sampeyan gadhah perusahaan napa, Mas?”

Paimin kaget disapa ngono karo pawongan sing jajan nang angkringane. Paimin eling tenan pawongan iki durung suwe pendhak wengi jajan nang angkringane. Paimin kelingan wae, wong lungguhe ya nang kursi angkringane. Ora lesehan kaya liya-liyane. Paimin kelingan, wong jajane ya ora akeh. Paling sega wungkus thok. Menawa ora loro ya telu. Sajake wong proyek sing lagi ora duwe dhuwit.

“Wah, sampeyan niku, Mas, bakul angkringan kaya aku, ngedi ana dhuwe omah samono gedhene. Apik sisan.”

“Lha sampeyan rak nggih omah ten mriku. Wong niku, anake sampeyan olehe njupuki piring nggih mlebu omah niku kok. Napa niku nggih omahe wong liya, sampeyan nggih blunas blunus kaya neng omahe dhewe ngoten kok.”

“Ora mas, kuwi dudu omahku, aku mung kon nunggu.”

“Nunggu, tukang kebon maksude. Kok oleh bebakulan. Mengko menawa lagi dibutuhake terus lagi bakulan, banjur priye,” pitakone pawongan kuwi mau, sajak bingung.

Paimin sing dasare seneng ngomong, langsung wae crita.

“Kuwi dudu omahku kok mas, aku mung turu nang kono, kabeh keluargaku oleh mapan nang kono. Kuwi ya ana sejarahe mas, kok aku nganti bisa mapan nang kono kuwi,” omongane Paimin mbagusi.

Paimin ndisik pancen ora mapan nang ngomah kono. Sepisanan bakul angkringan ora nang kono. Dheweke ndisik mapan nang pinggir ndalan. Cedhak Universitas Negri. Nyadong rejeki saka mahasiswa apa tukang parkir sing seneng jajan nang angkringan. Janjane sing seneng jajan ora mung mahasiswa. Kabeh-kabeh pawongan sing neng Universitas Negri kuwi mau, mbuh dosen, mbuh karyawan, ana wae sing seneng pesen wedhang saka angkringane menawa lagi lembur. Awan-awan wae kadhangan ya pesen. Malah kadhang njaluk tambah tahu, apa tempe dinggo kanca wedhangan.

Pak Pembantu Dekan wae, seneng njagong nang angkringane, ngajaki cerita neka-neka. Paimin ya kenal. Omahe ngendi, sambine apa wae, Paimin dicritani karo Pak Pembantu Dekan kuwi mau. Kadang menawa ana mahasiswane sing arep ketemu, pingin bimbingan apa ngaturake tugase, karo Pembantu Dekan kuwi diajak ketemu nang angkringane Paimin. Menawa sing diajaki ketemonan kancane Pak Pembantu Dekan sing bareng-bareng anggone golek kerja samben, terus dum-duman hasile, Paimin uga mesti ketemplokan rejeki. Ana wae sing dibayari mangan lan ngombene karo Pak Pembantu Dekan kuwi mau. Sanajan sambene kuwi mung nulis, embuh nulis apa Paimin ora ngerti, nanging jare dhuwite keno dienggo seneng-seneng. Kena dienggo mbayari kanca-kanca apa mahisiswane sing lagi ora dhuwe dhuwit.

Paimin seneng bakulan nang kono, seneng sing tuku wong pinter-pinter. Arepo ora saben-saben jajan ngajaki Paimin cerita, nanging Paimin bisa ngrungokake. Sinambi ngladeni sinambi ngrugokake. Paimin nyinau apa wae sing diomongake karo sing padha jajan kuwi mau. Sanajan ora kabeh omongan bisa dipahami Paimin, nanging Paimin krasa menawa kawruhe sansaya tambah.

Setengah tahun Paimin dodolan nang papan kono. Tepung karo karyawan Universitas Negri, tepung karo mahasiswa, lan tepung karo Pak Pembantu Dekan sing seneng karo cakar pithik, aneh miturute Paimin, bisa tuku sing luwih ndaging kok sing disenengi cakar pithik. Paimin menawa ditari milih, rak ya milih dada apa pupu, sing luwih ndaging. Kabeh mau srawunge apik. Malah karo sing ora dhuwe dhuwit tenan Paimin olah oleh wae diutangi. Wong urip kuwi wajibe tetulungan. Lagi ana sing butuh pitulungan, Paimin bisa nulung, ya Paimin nulung. Sapa ngerti Paimin mengko sing genten butuh pitulungan.

Sawise kira-kira setengah tahun kuwi mau, Pak Pembantu Dekan njagong nang angkringane banjur menehi kabar. “Kang, sedhelo maneh kowe ora oleh dodolan nang kene.”

Paimin kaget. Dheweke uwis seneng bakulan nang kono. Badhi ora akeh-akeh banget nanging Paimin wis rumangsa seneng. Dadi menawa kudu pindah, Paimin rumangsa gela. Paimin langsung mikir, mesti kedadeane ora beda karo kanca-kanca sing dodolan nang pinggir-pinggir dalan liyane. Padha ora oleh bebakulan maneh nang pinggir dalan.

“Jlentrehe pripun tho, Pak, niku, kok kula mboten angsal malih bakulan wonten mriki?” pitakone Paimin njaluk katrangan.

“Jare ya kuwi kang, bakul-bakul ngene iki ngganggu wong mlaku, tur ora rapi.”

Paimin meneng wae. Sanajan gela, nanging dheweke rumangsa, papan kene dudu dhuweke. Menawa dheweke dikon lungo seka papan kono, mesti ora bisa nyengkelak. Kudu manute. Kudu lungane. Sanajan kawit bebakulan dheweke mapan nang kono, dijaluki dhuwit jare dinggo pajek, dheweke ya menehi, ngono kuwi mau merga dheweke rumansa nunut. Sewu apa rongewu kuwi disadari, merga papan kono dudu dhuweke. Papan kono mau dhuweke negara. Arepo jare dheweke sing nduweni negara kae, ngono miturure mahasiswa sing padha rembugan nang angkringan kono, nanginging Paimin ora rumangsa nduweki negara. Adoh banget kuwi seka pamikirane.

“Gek kula pripun niki mangkih nggih, Pak?” Paimin takon sinambi Nggresula.

“Kowe ora usah susah kang. Mengko paling kon lungo rong sasi maneh. Mengko kowe tak golekke panggon. Aku seneng karo cakarmu iki. Mengko tak golek papan sing aku gampang nggoleki angkringanmu iki. Mengko menawa kowe golek dhewe, aku ora bisa nemokake kowe.”

Paimin bungah. Ora usah susah-susah golek panggon dienggo dodolan. Pak Pembantu Dekan saguh arep nggolekke papan kanggo dodolan. Tur dheweke seneng isih bisa ketemu karo Pak Pembantu Dekan sing apikan kuwi mau. Mesti pak Pembantu Dekan kuwi mau bakal njagong maneh nang angkringane, merga dheweke pancen seneng tenan karo cakare Paimin. Cakar pithik sing didol Paimin nang angkringane.

“Wis rong minggu, Pak Pembantu Dekan durung menehi kabar. Dheweke njagong nang angkringan nanging meneng wae ora ngrembuk bab panggon dodolan. Apa maneh dheweke katon srius rembugan karo kancane. Paimin ora wani ngganggu. Rong minggu sabanjure malah ora tau ngetok. Paimin krungu kabar menawa Pak Pembantu Dekan tindhak menyang luwar kutha. Kurang seminggu wektune Paimin kudu lunga seka papan kono, Pak Pembantu Dekan lagi ngetok. Ngguya ngguyu sajak ora rumangsa Paimin nunggu-nunggu.

“Wis oleh papan aku, Kang. Nanging nganu ya, kowe karo nunggu omahe mbakyuku. Dheweke arep sekolah nang luwar negeri, kabeh keluargane diajak. Omahe suwung. Dadi omah kuwi karo tunggunen. Mengko olehmu bakulan nang sanding omahe kana. Urung ana bakul nang kana, mengko rak suwe-suwe rame. Mengko tak jalukake tulung kancaku men olehmu bakulan kuwi rame.”

Paimin bungah banget. Ora mung oleh papan dienggo dodolan. Nanging uga malah oleh omah. “Nggih, pak, maturnuwun. Maturnuwun sanget. ”Pak Pembantu Dekan mung mesam-mesem ngerti Paimin sing ujug-ujug sajak prakewuh.

Dina Setu wayahe Paimin Senen wis ora oleh dodolan maneh nang papan kono, Paimin dhuwe janji karo Pak Pembantu Dekan, arep niliki omah lan papan anyar sing arep dienggo dodolan. Sisan kabeh barang-barange digawa menyang papan anyar kuwi mau. Nanging, amarga Paimin kudu nyurung gerobake, Paimin ora bisa bareng numpak mobil. Dheweke mlaku. Mung diancer-anceri papan sing arep dituju.

Tekan panggon, Paimin gumun. Omahe gedhe tur apik banget. Latare jembar.

“Iki omahe kang, mengko kowe olehmu dodolan nang ndalan pojok omah kono. Omah iki tunggunen, resikana sabendina. Anggep kaya-kaya omahmu dhewe, sesuk menawa sing dhuwe omah kuwi mulih, men omahe ora ketok nyanyring.”

Paimin semaguh. Sapa ora bungah ketiban rejeki kaya ngono. Dheweke rumangsa beja, langsung oleh pitulungan ngono. Ora ndadak susah golek papan. Menawa ora nemu-nemu bisa uga Paimin bali ndisik menyang Klaten. Leren olehe bebakulan. Sesuk menawa wis ana greget maneh lagi wiwit maneh anggone bebakulan.

“Ngono kuwi critane Mas. Dadi kuwi pancen dudu omahku. Aku mung dikon nunggu, soale sing nduwe lagi nang luwar negeri. Jare rong tahun anggone sekolah. Mengko menawa arep neruske sekolahe berarti luwih suwe maneh. Wis nggono, bareng aku bebojoan, jare Pak Pembantu Dekan, bojoku ya oleh mapan kene. Sawise rong tahun jebul ora mulih-mulih. Malah jare arep saklawase omah nang kono, marga wis oleh panguripan nang kono. Tekan saiki aku ya mapan nang kene” tembunge Paimin ngrampungi anggone cerita babagan omah sing saiki dinggo manggon.

Parkir

Angkringan dhuweke Paimin pancen rame. Saben-saben sing teka mrana nggawa motor utawa mobil. Tekane padha rombongan. Sing padha nggawa motor apa mobil olehe parkir rapi. Mobil ana sisih lor, ana ing dalan sing mujur ngetan ngulon. Sepeda motor neng sisih kidul ana ing dalan sing mujur ngalor ngidul. Paimin olehe dodolan kuwi ana ing protelon, pojok omah. Ora neng njeron latar. Neng njaban pager pinggir dalan. Sing padha tuku wae olehe lesehan ana ing njeron latar. Sing alus, luwih penak tenimbang lesehan ana ing pinggir dalan. Paimin wis nembung papan sing dienggo lesehan kuwi marang sing nduwe. Latar kuwi wong wis dikonblok, ora sumelang gemrenjel nglungguhi watu. Digelari klasa amba-amba dening Paimin, sapa wae sing tuku oleh milih papan sakarepe, ngendi sing sela.

Dalan sing dienggo dodolan Paimin kuwi dudu dalan aspalan, dalan mlebu kampung. Mung dalan kono kerep dienggo leliwatan mobil lan motor sing nyingkiri lampu abang nang ndalan gedhe. Papane Paimin sing saiki kuwi pancen cedhak karo prapatan. Cedhak karo dalan kutha kang rame. Saking ramene kerep menawa nunggu lampu ijo, urutan paling mburi, menawa tekan ngarep lampune wis abang maneh. Sopir kudu nunggu lampune bali ijo. Sopir sing wis ngerti ana dalan liya sing kena dienggo liwat, yaiku dalan nang ngendi anggone Paimin dodolan iku mau, akhire seneng liwat kono. Sanajan dalan kampung lan urung aspalan nanging dalan kono kuwi mau jembar. Menawa ana sepeda motor sing parkir, isih longgar dienggo leliwatan. Mbuh kuwi sing liwat mobil utawa motor.

Bab dalan sing dienggo parkir mobil, jarang ana kendaraan sing lakune mrana, akeh-akehe lurus, arep metu nang dalan gedhe maneh. Marga liwat kono mung nyingkiri lampu abang. Sing liwat dalan nang ngendi mobil-mobil kuwi mau parkir, paling tanggane Paimin sing arep mulih. Ana omah papat apa lima nang kulan omahe Paimin, dalan kuwi mau banjur buntu ora ana tembuse, menthok neng omah kulon dhewe.

Kawit lagi mapan nganti tekan saiki, Paimin ora tau ngakon-ngakon sing dhuwe kendaraan supaya parkir rapi kaya mangkana. Kabeh kuwi mau dilakoni ngono wae karo sing nduwe kendaraan. Ora merga dikon sapa-sapa, wong Paimin ora duwe tukang parkir, lan ora butuh tukang parkir. Paimin wis ribet ngurusi dodolan, ora sempat ngurusi parkiran.

Ewo semono, lagi rong sasi Paimin bakulan nang kono, dheweke dicedhaki karo wong. Nom-noman sing rada mreman, maksude ndugal neng daerah kono. Dikira dening Paimin pawongan kuwi mau arep pesen wedhang, kon ngeterke nang papane rubuk-rubuk. Jebul ora. Nomnoman kuwi mau komplotane pancen akeh. Wong pitu apa wong sepuluh. Paimin ngerti, wong komplotan kuwi mau olehe rubuk-rubuk ora adoh saka angkringane. Mbuh pada rembugan apa. Saben bengi ana wae sing teka nang papan kono. Paimin ora sapa aruh karo komplotan kuwi mau. Mung menawa disapa wae Paimin mangsuli, wedi menawa mengko gawe rerusuh marang dheweke.

“Mas angkringanmu sing jajan akeh. Tak parkiri ya,” tembunge.

“Wis rapi ngono mas, kae ora ana sing ngrewangi parkir ya kendaraane ndelehe jejer larik-larik kaya wong baris.”

Paimin ora seneng karo pawongan kuwi. Sajak ora duwe suba sita. Sandhangane kusut, rambute gondrong awul-awulan. Malah menwa cedhak banget sajak mambu, kaya-kaya durung adus. Paimin pancen ora seneng papan kono diparkiri. Wong maem sedhelo wae kok motore kudu isih mbayari, mobile kudu mbayari. Sawise maem kok, kon mbayari motor, mbayari mobil, sapa ora anyel. Paimin babar blas ora kepikiran arep pasang parkir nang papane dodolan. Menawa dodolane wis payu wae, dheweke wis matur nuwun, syukur karo sing paring rejeki.

Ngerti omongane ora digubris karo Paimin, wong kuwi mau lunga. Bali menyang papane rubuk-rubuk karo kanca-kancane. Paimin ora nggatekake. Nganti telung dina dheweke ora diganggu maneh. Bareng wis patang dina, Wong loro teka nang angkringane. Ngajak rembugan maneh bab parkiran.

“Menawa diparkiri bisa-bisa sing tuku bubar Mas. Kapok. Wong mangan kuwi padha anyel menawa mangan wae kudu ditambah bayar parkiran,” Wangsulane Paimin nalika ditembungi. “Ora mas, aku ora ngolehi. Wong ya ora tau ana sing kelangan kok, kendaraane dideleh nang kono.” Paimin ora kenek dirembuki.

“Mas, mbok adum rejeki, tak tariki parkir nang kene.”

“ Ora Mas. Ora arep parkir aku. Biyen nalika aku bakulan nang sanding Universitas Negri kae aku dijaluki pajek. Saiki aku nang kene aku ora dijaluki pajek. Wong aku karo tunggu omah kuwi. Nanging, menawa sampeyan ngarep-arep rejeki, ngene wae, sampeyan sakanca tak wenehi cakar siji-siji. Saben-saben sing teka saben bengi tak wenehi, nanging paling akeh aku menehi cakar cacahe mung wong sepuluh, mengko menawa akeh-akeh aku ora bisa kulakan maneh. Menawa gelem, ya kuwi, menawa ora gelem, ya uwis. Aku ora ngolehi papan kene diparkiri. Tak anggep wae kuwi pajek apa sodaqoh. Ngendikane mbahku menawa wong ora tau sodaqoh, rejekine dipangkas peksa. Bisa ngganggo lelara, trus dhuwite enthek kanggo ngobatke, bisa kemalingan, bisa omahe kobongan, apa dhuwite ilang nang ndalan ora karuan,” Paimin isih wangsulan sebab ora gelem papane dodolan diparkiri. Dheweke khuwatir sing padha tuku kapok teka nang angkringane.

Saben bengi Paimin pajek cakar nang komplotan rubuk-rubuk sing diweruhi dipandegani karo si Semprul. Pimpinane diceluk Semprul merga menawa omogan idune nyumprat sempral semprul. Dheweke gelem wae diceluk Semprul. Jare jeneng Semprul kuwi malah sangar. Wangun dienggo meden-medeni. Lan kaya janjine biyen, Paimin olehe menehi cakar miturut jumlah pawongan. Ana wong pitu, diwenehi pitu, ana wong lima, diwenehi lima. Menawa ana wong sewelas, Paimin mung menehi sepuluh. Dadi kudu ana sing ngalah ora keduman.

Pajek cakar kuwi mau dilakoni kira-kira suwene patang sasi. Paimin ora patio rugi tur ora diganggu karo komplotan rubuk-rubuk kuwi mau. Sing mulane Paimin wedi menawa dirusuhi, saiki tenang wae. Komplotan kuwi mau nyatane ora tumindhak kasar. Ora duwe niat ala. Komplotan kuwi isih nduweni patrap kang becik. Padha-padha ngoleke rejeki, ngerteni menawa penghasilane saka angkringan ora akeh-akeh banget. Ora njalari Paimin langsung dadi sugih. Menawa sing rubuk-rubuk ana wong sewelas, Paimin olehe menehi cakar mung sepuluh, ora ana sing protes. Malah kepara menawa kepingin tenan, malah tuku. Ora njaluk kanthi laku kasar. Kadang menawa pesen es teh apa es jeruk, Paimin mengko sing ngeterke, giliran wedhangane wis rampung, gelas-gelase padha diterake dhewe-dhewe. Paimin ora usah njupuki dhewe.

Sawise patang sasi, ujug-ujug si Semprul teka dhewe, moro, nyedhaki Paimin. Biasane ora tau si Semprul kuwi mara. Menawa ana butuh kongkonan karo kancane liya kang manut wae diprentah-prentah karo si Semprul. Neng angkringan, si Semprul njagong. Njupuk rokok lan ngudut. Klepas-klepus meneng wae. Paimin ora nyapa wong lagi ribet ngladeni sing padha jajan. Ana sing njaluk tempene dibakar dhisik, ana sing njaluk tambah es, lan liya-liyane.

“Ndingaren tekan kene Bos Semprul, ” sapane Paimin nalika sing jajan wis keladhenan kabeh.

“Iki segane karo apa Kang?” Semprul ora ngatekake sapane Paimin malah ganti takon. Takon mangkono, sega wungkus kuwi mau langsung wae dibukak ora nunggu semaure Paimin. Paimin ora semaur merga ana maneh sing teka njaluk dibakarke sate usus karo bakwan.

“Kang, mreneo ndhisik tha tak kandhani,” Semprul ngawe marang Paimin.

“Napa tha Bos, kok sajak wigati?

“Kene, aku arep ngomong masalah parkir”

Paimin nyedhak lan Semprul langsung nyerocos karo idune nyumprat-nyumprat. Dheweke menehi kabar menawa saiki sapa wae sing bebakulan nang tlatah kene, sing rame lan ana penghasilan parkir, kudu diparkiri. Kuwi mau wis kebijakan saka pemerintah desa. Ora bisa dieyeli. Kudu diolehi karo sapa wae sing nduweni usaha.Angkringane Paimin uga salah siji usaha sing kudu diparkiri. Sing luwih baku, papan dodolane Paimin lan sekitare dadi wilayahe Semprul. Semprul sing nduweni lan nyekel kuwasa kanggo ngatur parkiran tlatah kana. Paimin malah diduduhi surate barang saka pemerintah setempat.

Ana ing layang kuwi mau, dijlentrehake apa kabeh sing diomongake karo si Semprul marang Paimin. Paimin malah diolehi maca dhewe. Paimin wis ora bisa wangsulan. Kepriye wae bisane mung manut karo manut. Semprul sawise ngomong ngono meneng wae, sajak menawa ngomong apa perlune. Ora let suwe malah ngadek, mbayari olehe mangan langsung arep lungo, ning omongan dhisik, “ Janjane aku seneng dipajeki cakar, Kang, nanging priye maneh. Kebijakane ora kena dilawan. Sesuk kanca-kancaku wiwit parkir nang kene. Sampeyan wis ora usah pajek cakar maneh, sapa wae sing memanganan nang kene kudu mbayar. Menawa ana sing ora mbayar mengko omongna aku.” Banjur Semprul bali maneh rubuk-rubuk karo kancane.

Paimin mung bisa gedhek-gedhek. Sesuk sok sapa wae wong sing ndeleh kendaraan nang papan kono kudu mbayar parkir.

Booking

“Makne.”

“Makne.”

“Piye tha, Makne, nek diceluk semaur ya ngapa,” Paimin sajak mangkel bojone diceluk ora semaur-semaur.

“Aku ngantuk Pakne, arep turu. Sesuk esuk kudu blanja. Iki wis wengi. Sesuk aku tangine kudu mruput, menawa ora mruput menyang pasar, sesuk nang pasar uyel-uyelan. Aku emoh. Mending aku rada nunggu bakule tenimbang aku uyel-uyelan nyasaki uwong akeh mung arep njupuk cakar. Kuwi wae aku wis pesen cakar olehku tuku diwadahke sisan. Blanjan liyane paling neng nggone bu Gendut rampung. Weh, mau ana apa celuk-celuk?”

“Jare ngantuk, omongane sak trek metu kabeh.”

“Iya, ana apa. Lha wong ya wis arep turu ngene.”

“Suk senen angkringane dhewe arep dibooking.”

“Apa. Dodol kuping. Kuping apa kuwi. Dumeh dodol cakar payu, saiki terus arep nganeh-nganehi, arep dodol kuping. Mengko sing tuku ya sapa.”

“Kupingmu kuwi! Ngene lho….” Paimin banjur cerita.

“Mau, nalika aku sowan nang ndaleme pak Pembantu Dekan Universitas Negri kanggo nakokake wit jarak latar kae oleh dipapras apa ora, pak Pembantu Dekan paring kabar. ora, dudu kabar, nawani aku.”

Bab pak Pembantu Dekan kuwi, Inah ngerti, wong kedadean apa wae kang dilakoni karo Paimin wis diceritakake kabeh marang Inah. Saking kabehe, Inah mangkel mangkel ngguyu nalika Paimin cerita bab cita-citane kudu omah nang kutha, ora gelem omah nang ndesa, mulane kudu oleh bojo wong kutha. Pak Pembantu Dekan kuwi, Inah uga kenal, nalika dina ijabe karo Paimin, Pak pembantu dekan kuwi uga rawuh. Bapake grapyak. Ngendikane ceplas-ceplos apa anane. Ewa semana nganti tekan saiki Paimin karo Inah ora ngerti sapa janjane asmane Pak Pembantu Dekan kuwi. Malah anake sing ngerteni. Pak Pembantu Dekan kuwi, arepa saiki wis arang njagong nang angkringane Paimin, menawa ana gawe apa wae sing mbutuhake Paimin, mesti Paimin diceluk, didhawuhi ngrewangi. Paimin mesti mangkate. Ora bakal nolak marang apa karepe pak Pembantu Dekan kuwi.

Semana uga menawa Paimin butuh warah, apa tetimbangan. Utamane babagan olehe ngrawat omah lan babagan sekolahe anak-anake. Bab, kepriye wae, omah sing dienggo turu Paimin sakanak bojo kuwi duweke mbakyune Pak Pembantu Dekan, Paimin mung nunut. Dadi menawa ana apa-apa sing magepokan karo omah lan pekarangane kuwi mau, Paimin mesti matur karo pak Pembantu Dekan.

Biyen kae, nalika anake sing mbarep lulus SD, karepe Paimin wis ora usah nerusake sekolah maneh. Kon ewang-ewang dodolan wae. Bareng pitakonan karo pak Pembantu Dekan bab sekolahe anake, Paimin mikir-mikir kok bener apa sing dingendikakake Pak Pembantu Dekan kuwi. Ngendikane, menawa anake kuwi ora sekolah, ora pinter, sesuk ora bisa nututi lakune jaman. Menawa ora bisa nututi lakune jaman, mesti uripe bakal susah. Sebab kuwi anake kudu disekolahake.

Nah, bakda magrib iki mau, Paimin sowan nang ndaleme Pak Pembantu Dekan. Direwangi ninggalke olehe dodolan. Angkringne ditunggu bojone direwangi anake loro. Paimin sowan arep nembung menawa wit jarak mburine dodolan kae arep dipaprasi. Godhonge wis ngrembuyung banget ngganggu olehe dodolan. Sabenere ora mung kuwi, saiki jarake ana ulere, kepingine ditegor wae, apa maneh wit kuwi cedhak karo wit pelem sing lagi arep gedhe. Ngganggu gedhene pelem. Jebul pak Pembantu Dekan malah ngerteni bab wit pelem sing lagi arep gedhe kuwi mau. Dheweke malah dhawuh supaya Paimin negor wit jarak kuwi sisan. Ngendikane, wit kuwi mau kejaba ngganggu gedhene pelem uga ngganggu sawangan seka ngomah nang ndalan. Paimin seneng wae didhawuhi negor wit jarak kuwi mau, malah kepeneran.

Kejaba kuwi, Pak Pembantu Dekan nawani, menawa Paimin gelem, angkringane arep dibooking Universitas Negri. Ngendikane, arep ana tamu sing arep studi banding seka luwar negeri. Jalaran tamune saka adoh kuwi mau, karepe Universitas Negri tamu-tamune men ngerteni kabudayan Indonesia, salah sijine sing arep dipamerake kuwi angkringan. Menawa Paimin ngolehi, angkringane arep dibooking, diborong kabeh panganane sadodolan, payu ora payu, mengko neng Universitas Negri kana Paimin mung kari nunggu. Ngladeni sapa wae sing arep mangan ana angkringane.

“Aku jane seneng-seneng susah, Makne. Seneng mergo nek ngono kuwi dodolane dhewe mesti payune. Susahe, aku kuwi isih kelingan jaman samana. Jaman aku dipenging dodolan nang cedhak kana. Arepa saiki nemu papan dodolan sing ora kalah kepenak kae, nanging wektu lelakon kuwi kedadean aku rak ya lara ati.” Paimin meneng ngira bojone wis turu. “Mak!”

“Iya, aku isih ngrungokake”

“Jaman samana kuwi Makne, aku isih bakul anyaran. Bakul sepisanan ya mapan nang cedhak Universitas Negri sing arep mbooking angkringan kuwi mau. Ya nang kana aku kenal karo Pak Pembantu Dekan, sing nalikane aku dikon sumingkir terus nggolekke papan dodolan merga dheweke seneng karo cakar sing takdol kae. Jaman samana nganti tekan saiki rak bakul-bakul kaya awake dhewe kuwi disia-sia. Bisane golek rejeki kaya ngene iki, mongko dodolan nang ngendi wae wis mesti taren karo pawongan sekitar kana, ngerti-ngerti dikon sumingkir. Ngana kuwi apa ya ora kon lara ati.”

“Ngono kuwi terus karepmu ora gelem dibooking ngono pa priye?”

“Sing jelas aku urung bisa lali karo tumindake…, tumindhake…, sapa ya….Bakune Universitas Negri kuwi mau. Wong aku biyen maca layang sing menging sapa wae bakulan nang kana, ditemplekke nang pager-pager, sing tanda tangan ya pimpinan Universitas Negeri kuwi mau. Sapa wae sing isih bebakulan keliwat tanggal sing ditentokake, barang-barange bakal dijaluk karo petugas. Petugas saka ngendi aku ya ora ngerti. Mbuh saka Universitas Negeri kuwi mau, mbuh saka pemerintah sing tak kira ora ana bedane. Wong mestine padha rembugan.

Aku isih kelingan, bakul rokok sing mapan nang cedhakku kae ora cepet oleh papan anyar. Dhisik tau ana kabar nek kabeh bakul sing dikon sumingkir saka papan sing dilarang bebakulan kuwi diwenehi papan liya. Sapa sing gelem. Bakul-bakul dipapakke dadi siji ngono nang papan sing adoh saka wong tuku. Kapan payune. Wis ngono, papan sing disiapke, rada diapikke kae banjur kon mbayar sing ajine kanggo bakul-bakul kuwi larang. Kancaku ora ana sing gelem mapan nang kana. Kabeh golek papan anyar dhewe-dhewe. Bakul rokok sing nganti suwe ora oleh papan kuwi mesakke banget. Aku isih ketemu dheweke sawise pindahan menawa aku arep menyang pasar. Aku rak liwat chedak papane turu kana menawa mangkat nang pasar. Ngerti ora, Makne?”

“Apa?” Bojone Paimin semaur ngganggo suara sing wis katon arep turu. Bab kuwi dheweke wis tau diceritani Paimin ping sewidak rolas. Wis males ngrungokake. Bojone kuwi pancen mangkelke. Mung arep ngomong gelem ora dibooking kanggo acarane Universitas Negeri kuwi wae, ngganggo sejarah perjuangan. Sejarah perjuangan uripe Paimin. Ora ngertia dheweke wis ngantuk banget. Njalari mangkel atine.

“Bakul rokok kuwi Makne,” Paimin neruske olehe cerita, “Nganti arep genep sesasi ora ngapa-ngapa. Ora nemu-nemu papan. Dheweke susah banget. Mongko menawa kesuwen ora bakulan, dhuwite silak enthek. Mengko ora bisa kulakan maneh. Olehe njaga men dhuwite ora cepet enthek, dheweke nganti sedina mangan pisan, sakanane. Nganti kuru banget. Merga pikiran karo kurang pangan. Dheweke asline luwar Jawa. Dadi ora bisa mulih. Ora cukup dhuwite dienggo mulih, terus mengko seminggu apa rong minggu bali mrene maneh.

Biyen kuwi bakul nang cedhak Universitas Negeri kana ana wong pitu, bakul rokok kuwi mau, bakul pecel lele 3, terus bakul sate, bakul mie ayam, tambah aku, bakul angkringan. Kabeh kudu lunga. Sing beja banget kuwi ya mung aku. Nanging aku ngerti kabeh lelakone kanca-kancaku kuwi mau sawise kon sumingkir. Nelangsa Makne, Nelangsa.”

“Terus kowe gelem ora mau arep dibooking?” Pitakone bojone Paimin. Anyel kudu bola bali ngrungokake cerita sing padha, Nanging ya trenyuh atine saben-saben Paimin cerita lelakone sakanca kuwi mau.

“Aku dhewe urung wangsulan marang Pak Pembantu Dekan. Pak Pembantu Dekan kuwi pancen apikan. Nanging menawa aku kelingan lelakonku jaman samana, kok ya aku abot arep ngomong gelem dibooking karo Universitas Negri kuwi mau. Rasa-rasane kok aku ora sreg. Kaya-kaya aku kuwi khianat karo nasibe kanca-kancaku menawa aku gelem ngiyane tawanan kuwi mau.”

“Gelem ora?”

“Embuh Makne, aku saiki arep turu dhisik, ngantuk”.

Lhadalah, iki piye tha, wis cerita nggedupuk, nyaprus, tiba mburi mak klempus. Malah ora sida diterusake olehe rembugan. Malah urung oleh pesten wis turu. Inah dadi ilang ngantuke. Anyel karo bojone sing kebacut nggedupuk, nyaprus, tiba mburi mak klempus. Dheweke kelap kelip, ngglebak ngiwa ngglebak nengen ora bisa cepet turu. Ujug-ujug, mbakmenawa olehe kelara-lara kegawa turu, Paimin nyuwara ora sadar, “Aku emoh dibooking, Makne!”

HP

Wis bola-bali Paimin ngomong karo Inah bab karepe arep tuku HP. Dheweke kepingin kanca-kancane sing wis padha duwe HP. Biyen mono HP isih larang. Sing nyekel HP mung wong-wong sing dhuwite akeh. Penghasilane gedhe. Bakul kaya Paimin ngendi ana sing nduweni HP. Biyen kuwi ora kabeh uwang cekelan HP. HP isih arang Biyen merek HP sing mlebu Indonesia urung akeh kaya saiki. Saiki merek HP neka-neka, jenise uga neka-neka, regane uga neka-neka. Ana sing murah ana sing larang. Pokok regane saingan. Kaya-kaya malah murah-murahan, sebab golek pelanggan.

Sapa wae saiki wis cekelan HP. Bocah-bocah SMP jalukane HP, SMA apa maneh. Sansaya bocah kuliahan sing adoh saka wong tuwa. Rata-rata budhal saka asale digawani HP. Khawatir menawa mengko ana apa-apa. Disangoni HP supayane bisa cepet kirim kabar. Ora ngertia kuwi marakake anak ora mandiri. Sithik sithik sms. Sithik-sithik telpun. Kapan ana masalah bisa dirampungi dhewe menawa mangkono kuwi mau carane.

Saiki wis ora jaman kabar-kabaran liwat surat. Kabare sms-an. Apa telpun. Ora mangsa maneh ngendepke pikiran lan pengalaman lewat tulisan. Ana masalah sithik langsung sms-an. Ana apa-apa ora dipikir dhisik, langsung telpun. Malah menawa bocah isih cilik, pikirane isih cekak, kedadeane bisa luwih mrihatini maneh. Kaya kae, si Lela, anake tanggane, nganti ora gelem sekolah menawa dheweke ora ditukokake HP. Jare kanca-kancane kabeh wis duwe HP. Mung dheweke sing durung duwe. Dheweke isin, ndeweki ora dhuwe HP. Kaya-kaya dheweke kuwi paling kere sakanca. Kaya-kaya wong tuwane ora kuat nukokake HP. Lela mutung, gelem sekolah menawa wis ditukokake HP. Lela ngerti, wong tuwane ora bakal kere mung nukokake dheweke HP. Bapak ibune nyekel HP dhewe-dhewe. Wong kabeh dhuwe pagawean dhewe-dhewe. Saben dina wong tuwane mesti lelungan nang papan panggaweane. Lela krasa diumbar. Ora digatekake karo wong tuwane. Njaluk HP wae ora dituruti. Apa maneh dheweke rumangsa anak siji-sijine. Bakune, dheweke kudu nyekel HP kaya kanca-kancane.

Menawa ditakoni arep dienggo ngapa, semaure ya mbingungi. Ora jelas. Wong saben dina nang sekolahan ketemu karo kanca-kancane. Menawa ana masalah bisa dirembug ana ing sekolahan. Urusane paling-paling bab pelajaran, apa maneh. Wong tuwane mono, cekelan HP lantaran panggaweane pancen mbutuhake kuwi. Urusan kantore akeh, dadi butuh HP dienggo ngrampungi gawean. Dituturi karo wong tuwane, Lela wis ora manut. Wis ora mikir maneh dhuwe HP kuwi mengko migunani kanggo apa tumrap dheweke. Bakune dheweke dhuwe HP kaya kancane titik. Akhire wong tuwane ora bisa selak. Bisane mung nuruti karepe anak, tinimbang anak ora sekolah.

Saiki kahanan pancen wis bedha. Bocah sekolah cekelane HP. Bakul-bakul nututi cekelan HP. Kabeh bakul rata-rata wis cekelan HP. Kancanane Paimin ya ngono. Sing dhuwe warung kae, kang Bejo, biyen ora duwe HP. Kang bejo kuwi, saliyane ngladeni wong sing tuku moro nang warung, uga ngladeni sing pesen maem kon ngeterke, ketring. Pas dheweke ngeterke ketring, trus takok sesuk pesen maneh apa ora, malah ditakoni nomer HPne pira. Jare arep disms mengko bengi, sesuk arep pesen maneh apa ora. Kang Bejo ya bingung. Wong dheweke ora dhuwe HP kok ditakoni nomer HP. Margo akeh langganan sing kaya mangkono, mula kang Bejo nuli-nuli tuku HP.

Dina-dina iki Paimin sing mbanyaki arep tuku HP. Bojone nganti bengeng ngrungokake omongane Paimin bab pepinginane arep tuku HP.

“Tuku HP ki arep dienggo ngapa tha Pakne. Nganti kaya gawehani ki juragan angkringan sing duwe angkringan nang ngendi-endi. Lha wong angkringane mung siji. Tepunge ya mung karo bakul cakar. Karo wong pasar. Saben dina ya ketemu wong kudu njupuk barang nang pasar. Ngono kok sajak akeh urusan, arep dhuwe HP barang. Mbok ya dipikir menawa dhuwe pepinginan kuwi. Gunane apa. Menawa ora ana gunane, mung dienggo gegojekan karo kanca, mbok ya rasah dhuwe HP kae ngapa. Menawa mung arep dienggo mbagusi wae, wis ora usah tuku HP.”

Inah sing ora setuju karo karepe Paimin grenengan dewe ora karu-karuan. Menawa anak-anake, setuju wae bapake tuku HP. Jare mengko men bisa nyilih dienggo sms kancane, nakokake pe-er menawa ora bisa njawab. Margo kuwi, anake, loro-lorone mbujuki bapake supayane cepet-cepet tuku HP. Kancanane wis akeh sing dhuwe HP. Malah wis dicatheti kabeh nomer-nomere. Mengko menawa bapake wis tuku HP bisa cepet-cepet sms kanca-kancane kuwi mau.

Inah, tetep karo panemune. HP kuwi ora akeh gunane tumrap keluargane. Malah mengko anake ora padha tau sinau. Menawa ora bisa nggarap pe-er langsung sms kancane. Bisa-bisa olehe sms-an ora tekne angel pe-er-e ning margo males ora gelem mbukak buku wae.

“Apa ya ora njalari bodho menawa ngono kuwi,” ujare Inah.

Anak-anake ora padha ngrungokake pituture Makne, kepingine ya bapake dhuwe HP. Malah janji-janji ora bakal lali sinau. Pokoke menawa jalaran ora bisa-bisa tenan ora bakal takon masalah pr marang kanca-kancane. Arep takon mung nek babar blas ora bisa nggarap. Bocah loro kuwi mau pancen klop. Kaya mimi lan mintuna. Kompak. Ngalor, ngalor kabeh. Ngidul, ngidul kabeh. Samono uga bab HP. Kompak, mbiyantu bapake mbujuki Inah men ngolehake bapake tuku HP.

Inah anyel, saben-saben bapak sak anak rembugane bab HP. Ora awan ora mbengi. Pokoke ora ngerti wayah. Sithik-sithik HP. Hp maneh, HP maneh. Paimin dhewe ora wani terang-terangan ngomong bab HP marang Inah, mung sepisan. Nalika pepinginan kuwi nyedhul mak trucul nang pikirane ora kena diampet maneh. Kawit sepisanan kuwi Inah wis ora setuju. Maido terus apa sing diomongake karo Paimin. Rembugane ora nganti rampung. Durung-durung Inah wis ora setuju. Paimin durung rampung olehe omongan, wis disauri karo Inah. Bola bali arep ngomong, lagi wae ngomong arep tuku HP, durung dijlentrehake arep dienggo ngopo, wis diwangsuli karo Inah. Inah menawa wis ngomong rak ya borongan. Ora kena distop menawa dudu karepe dhewe. Kadhang wis ditinggal lungo, menawa durung enthek apa sing arep diomongake, ya durung mandhek olehe omongan. Ngomong dhewe. Kadhang nganti ora rumongsa wis ora ana sapa-sapa maneh nang sandingne. menawa wis ngerti ditinggal lunga, suarane dilirihke. Grundelan dhewe.

Awan kuwi, anak-anake padha lagi wae mulih sekolah. Lingguhan karo bapake sinambi nyuweki kertas sing arep dienggo mungkusi sega.

“Pak, kapan mundut HP?” pitakone anake sing gedhe.

“Inggih Pak. Bapak pripun tha. Ngendikane badhe mundhut HP. Kok pun dangu sanget dereng sios-sios anggenipun badhe mundhut niku kepripun. Janjane, sios bhoten bapak niku badhe mundhut HP?” anake sing cilik nimbrung pitakone mbakyune.”

“Enggal-enggal kemawon mundhute HP nggih, Pak. Kula sakniki kathah pe-er, saniki sampun ajeng ulangan semesteran, dados kathah pe-er. Pe-er-e angel-angel, Pak. Mangkih menawi kula mboten saget nggarap pripun? tanglete dateng rencang pripun? Menawi mboten saget tanglet, trus mboten saget nggarap, tiba mburi biji kula mboten sae pripun? Nanging estu lho, Pak, kula pareng ngampil menawi bapak mangkih kagungan HP.” anake sing gedhe nambahi olehe matur.

“Inggih pak, kula nggih selak kepingin nyekel HP. Kajenge boten ketinggalan jaman, Pak,” ujare anake sing cilik mbujuki maneh.

“Eh, Wit, jajal kowe matura marang makmu kana. Wis ngolehi durung,” Paimin kongkon anake sing cilik. Pancen Paimin ora wani ngomong maneh bab HP marang bojone. Menawa lagi kekandhan bab HP karo anak-anake wae, swarane lirih-lirih menawa Inah ana nang cedhake. Sebab, menawa Inah krungu sithik wae Paimin isih ngotak atik perkara HP, orao diajak rembugan kae, Inah bakal melu-melu lan ngomong sadawane. Dadi Paimin wanine ngethik anake supaya anake sing ngomong karo Makne. Pikire, suwening-suwe bojone kuwi bakal luluh lan ngolehke Paimin tuku HP. Sebab liya, Paimin ora sansaya ndadi kekarepane, margo sawise dipikir-pikir, dheweke mbenerake apa sing saben dina digrundelake bojone kuwi.

Dikethik bapake ngono, anake sing cilik mangkat tenan. Dheweke nang ndapur, nyedhaki makne sing lagi daden geni.

“Mak, tak matur tha Mak.”

“Ana apa Wit, apa wis rampung olehmu ewang-ewang, kok wis mrene.”

“Nganu, mbenjang tha Mak,”

“Apa. HP maneh. Kowe kuwi saben dina sing dirembug kok, HP.” Durung rampung anake olehe arep matur, wis disauri karo Inah. Sebab, Sanajan Paimin olehe kongkon klesik-klesik, jebul Inah krunggu, sebab pas Paimin ngethik anake mau, Inah mbutuhake rek sing bar dienggo udut Paimin. Rek kuwi, dideleh lincak cedhak olehe padha nyuweki kertas kana mau.

“Mbenjang tha Mak,” anake kuwi mau, nrucul wae omongane arepa Inah sajak mengkak.

“Mbenjang tha Mak, menawi sampun gadhah HP, Mamak saget sms-an saben dinten kalih mbah putri lan mbah kakung. Wong mbah putri nggih kagungan HP. Mangkeh menawi kinten-kinten cakare kirang, Mamak saget sms nyuwun dienggehi. Riyin nika, pas cakare kirang, wong jare kersane dodolan namung bar magrib dugi ndalu margi badhe tilik tiyang sakit trus mboten sios, Mamak gage tindhak pasar jebul pun telas. Ngendikane mbah putri cakare nembe mawon telase. Menawi saderenge budhal sms riyin rak cakare saget dienggehake kaliyan mbah putri. Ajenga ingkang mande cakar simbahe piyambak nika, rak nggih mboten pirsa menawi cakare kirang, dados nggih disade dateng piyantun sanes. Napa malih simbah putri kaliyan simbah kakung menika namun kekalih wonten ndalem. Mangkih menawi kangen rak saged sms. Menawi mamak kangen simbah nggih saget telpun.”

“Wit, Wit, omahe simbahmu kae rak ya mung cedhak. Mlaku ya tekan. Menawa kangen ya bisa mara, mlakune ora nganti jam-jaman. Bab cakar ora kena dienggo alasan, wong ora saben dina ana lelakon kaya mangkono. Wis kana, rasah motar matur bab HP maneh. Bapakmu ki pancen kok,” ngomong ngono kuwi Inah ora mandhek anggone manggawean. Wiwit sing wis apal lagone Makne langsung lunga, bali melu bapake. Menawa wis ngono kuwi mamake wis ora kena diajak rembugan maneh.

“Ngendika piyambak Pak, kalih Mamak. Wong Mamak mboten mirengke leh kula matur kok,” tembung anake kanthi rupa nyuntrut.

Paimin meneng wae ora semaur. Keluarga menawa ora kompak kabeh rak kuwi ora luwes, bisa-bisa mung njalari masalah tiba mburine, batine Paimin.

Mundhak

“Mas Proyek, sampeyan wingi, ngulungke dhuwit, banjur bablas mlayu wae. Nika kurang sampeyan mbayare.” Uwong sing sajake lagi proyek lan dina-dina iki pendhak wengi jajan nang angkringane Paimin jebul teka maneh bengi kuwi. Lingguhe isih tetep nang kursi biasane. Dadi nalika teka Paimin bisa langsung nyapa. Paimin apal, kelingan wae.

Disapa mas Proyek, pawongan kuwi ora protes, wong dheweke pancen lagi kerja nang proyek tenan. Rumangsa kenal karo tukang angkringan. Ewa semana dheweke uga wangsulan.

“Wah, sampeyan mbok mboten gawe-gawe. Biasane regane nggih samonten. Kula bola-bali jajan mriki nggih sampeyan protese namung sakniki. Wingi-wingi sampeyan mendhel mawon. Niku rak berarti sampeyan gawe-gawe. Kula mbayare nggih sami.” Pawongan kuwi mau sajak ora trima diomongi menawa olehe mbayar wingi kurang.

“Sampeyan wingi ngulungke artha langsung ngeplas bablas ora tolah-toleh ana wong celuk-celuk. Kula rak wingi nyeluki, ngomong menawi sampeyan mbayare kirang.”

“Lha enggih, kula niku selak ajeng teng wingking. Pun ora kuat malih nahan. Genahe pripun niku.” Bab alasan cepet-cepet lunga dheweke ngapusi wong satenane dheweke selak kepingin ngombe. Nanging rumangsa wingi nalika sawise mbayar dheweke ngeplas sakbare ngulungke dhuwit, dheweke ngakoni wae.

“ Njenengan kedah nambahi kirange wingi, sampeyan wingi ngulungke artha samenten tha,”muni ngono Paimin karo nuduhake dhuwit. “Niki nggih arthane sampeyan, taksih tak simpen. Tak duduhke sampeyan saniki. Niki kirang niki,” Paimin nuduhake dhuwit sing wingi diulungake dening pawongan kuwi.

Ngerti dhuwite wingi isih disimpen, dhuwite pancen kaya ngono, wis lusuh, pawongan kuwi ora bisa selak. “Enggih samonten, biasane kula mbayare nggih samonten.”

“Biasane pancen samonten, nanging kawit wingi regane rak mindhak, dados sampeyan mbayare kirang. Sampeyan ngeplas, diceluk-celuk bab mbayare kirang, bablas mawon,” semaure Paimin seru, nggenah-nggenahake.

“ O, dados regine mindhak.”

“Mindhak, barang-barang saniki larang kabeh. Beras larang, lengo larang, niku sebabe dodolan kula regine nggih mindhak.”

Paimin mau sakawan-awan krungu anggone bojone grundelan. Dheweke isih mangkel, sebab bojone olehe omongan ora meneng-meneng. Saiki ana papan dienggo muntapke mangkele, ya digunakake. Pawongan kuwi mau rumangsa salah, diocehi Paimin, ya ora bisa selak. Malah olehe mangan alon-alon, wis ngono ndingkluk wae ora mlirak mlirik kaya biasane.

Bojone Paimin, si Inah, sakawan dhek ora nglerenke kuping. Arep ora dirungokake, lha olehe grenengan seru-seru. Ana ing sisih ngendi wae kepara isih rungu. Bisa uga tanggane kiwa tengen padha krungu.

“Beras mundhak, barang-barang mundhak. Sesuk nek ora bisa kulakan, wong kaya ngene iki rak ora bisa dodolan. Jare pemerintah kuwi duwe menteri ekonomi sing pinter, nanging njaga reregan ora mundhak wae ora bisa. Menterine kuwi terus gawehane ngapa? Menawa ngundhakake rega wae aku yo bisa. Menawa ngono carane, wis ora usah golek mentri sing pinter-pinter. Kabeh uwong menawa kur pasang rega wae rak ya bisa.

Dhuwe pemerintah kuwi sejatine supaya bisa ngayomi rakyat ngene iki. Supaya ora perlu saingan urip karo wong sing wis kelair sugih. Lair procot warisane wis atusan juta. Kepriye wae menawa wong cilik bisane kuwi mung ngalah. Nanging mbok ya ora banget-banget. Dumeh wong cilik biasa ngalah wae dikalahke terus-terusan. Ora tau dibelani kepentingane. Mengko, ngerti-ngerti, arep bangun apa, iuran. Sithik-sithik swadaya. Trus pajek-pajek kae dingandekake.

Beras kae. Jare negara iki penghasil beras. Lha kok bisa-bisane beras regane mundhak ora ketulungan. Biyen wayahe panen, wong tani kae yo dikon adol nang pemerintah, pemerintah nukoni berase wong tani, olehe nuku regane ya ora cucuk karo ragat sing wis dikecakke karo wong tani. Jare berase arep disimpen. Mengko sawayah-wayah butuh wong cilik oleh nuku beras kuwi. Lha endi saiki. Simpenane bisa-bisa didol melu rega sing wis dhuwur. Sengaja golek badhi. Lha nek mung bisa mbadi rakyate dewe wae ora usah padha gembagus. Ngono kuwi rak jenenge ora becus.”

Wis ngomong nrucus ora mandhek-mandhek kuwi, si Inah isih nerusake maneh.

“Nang TV kae si A ngomong ngene, si B ngomong ngono. Sing bener banjur sing endi. Kabeh-kabeh ngomong thok. Janji-janji mung padha lamis, ora ana sing dinyatakake. Sajake mung padha pinter-pinteran ngomong. Mengko bisane mrentek-mrentek. Kabeh-kabeh disalahake, kabeh-kabeh digawa-gawa. Sing angkutane susah. Sing dalane bolong-bolong aspale ora alus. Sing iki. Sing kuwi. Sing ngene. Sing ngono. Nyalahke kana nyalahke kene. Ora padha ngrumangsani salahe dhewe-dhewe. Ora padha rembugan bareng-bareng kepriye apike tumrap wong akeh. Golek apike dhewe, golek benere dhewe. Golek amrih bathine.

Penggedhe kok saya suwe sansaya ora bisa dinut. Omongane padha mencla mencle. Esok abang awan kuning, kaya bunglon wae. Dadi penggedhe kuwi rak kudune kaya wong tuwa momong anak. Sing tansah dipikir lan diupayakake kepriye amrih becike anak. Lha menawa wong tuwa ora mikirke anak maneh, kapan anake bisa gedhe. Ngono kuwi rak jenenge wong tuwa mburu senenge dhewe. Saru. Ora patut ditiru. Aja turun anak putu.

Menawa dadi penggedhe kuwi sing tansah dipikir awake dhewe, kuwi jenenge durung siap dadi penggedhe. Apa maneh menawa sing diburu kuwi kandonyan. Diangkat dadi penggedhe kuwi rak sapa wonge sing siap lahir batin. Siap lahir kuwi dene kudu gagah dedeg piadege supaya sapa wong sing mbutuhake dheweke, dheweke tansah sumadyo. Siap batin kuwi ateges lila legawa gawe senenge wong akeh. Kadhang tansah ngalahake kekarepane. Ngono kuwi lagi jenenge penggedhe. Wong sing aweh pangayoman.”

Menawa ora kudu nang mburi marga kebelet, Inah paling urung leren anggone grundelan. Ngerti Inah meneng, Paimin krasa lega. Nanging mangkele isih kegawa nalika wis dodolan. Malah nganti tekan wengi mangkel kuwi mau urung kelair. Isih ngganjel. Saiki kepeneran, ana pawongan sing bisa didadekake panggon numplekake mangkele. Paimin dadi ketularan bojone, nrucus ora karu-karuan.

“Priye maneh, Mas Proyek. Kabeh bahan sing didadekake panganan nang kene iki bahane mundhak. Menawa ora melu ngundhakake rega tenehan rugi. Sesuk ora bisa kulakan maneh. Wingi mawon, nalika reregan nembe mundhak, ndalu saderenge olehe dodolan regane nggih padha biasane, akhire ora sida badhi. Olehe dhuwit kabeh mung dienggo kulakan. Dados ampun nyalahke kula menawi sakniki reregan ten angkringan mriki nggih melu-melu mundhak,” ujare Paimin.

“Kula mboten nyalahake njenengan kok, niku pun limrah. Reregan wonten mriki ngetutke reregan liyane,” pawongan kuwi semaur, olehe ngomong diterusake.

“Waduh, ning kula nambahi kirangge mbenjang nggih, niki kula mbetane artha namung ngepas. Kula pun kebacut mangan cakar. Menawi kula mboten mangan cakar janjane nggih saget nambahi sakniki. Cakare niki regine nggih mindhak napa?”

“Enggih, cakare nggih mindhak, lha wong pakan pithik nggih melu-melu mindhak. Ora pangane manungsa thok sik mundhak, pangan pithik uga mundhak.”

“Waduh, berarti,” ngomong karo sajak khuwatir, pawongan kuwi ngetokake dhuwite. “berarti dhuwitku kurang maneh, Mas. Niki kula nggawane samenten. Mbenjang nggih kirange.”

Paimin sing wis kewetu kabeh mangkele sajak sareh. Wis ora nrucus maneh. “ora apa-apa, Mas Proyek. Sesuk olehe nambahi ora apa-apa. Mas Proyek, sesuk mriki malih tha….”

Karangmalang, Juli 2007

Perkembangan Teknologi Persenjataan dan Ruang Angkasa

Perkembangan Teknologi Persenjataan dan Ruang Angkasa

A. Perlombaan Senjata Nuklir dan Bahayanya
Perlombaan senjata nuklir antara pihak Amerika Serikat dengan Uni Soviet telah menimbulkan ketegangan yang luar biasa di kalangan masyarakat dunia. Masyarakat dunia diliputi oleh kekhawatiran akan meletusnya perang nuklir yang dahsyat. Suatu isu sensitif yang menyangkut kedua pihak atau berbagai isu global bisa saja menyeret mereka ke kancah perang terbuka.
Jenis-jenis senjata nuklir bisa menjangkau antar negara dan antar benua. Bahaya yang akan ditimbulkannya bila terjadi perang, sangat dahsyat dan bisa membahayakan kelangsungan hidup umat manusia dan makhluk hidup lainnya di dunia. Sebagai contoh, ketika reaktor nuklir Chernobyl meledak pada tanggal 26 April 1986, bencana itu telah mengakibatkan ratusan orang terkontaminasi zat radio aktif, puluhan orang meninggal dan ratusan ribu orang terpaksa mengungsi.
Selama berlangsungnya perlombaan senjata nuklir, kedua blok telah membangun pusat-pusat tombol peluncuran senjata nuklir diberbagai negara yang berada di bawah pengaruhnya. Sementara itu, PBB merasa perlu untuk mengurangi meningkatnya perlombaan senjata nuklir pada kedua belah pihak. PBB kemudian membentuk Atomic Energy Commission yang bertujuan mencari jalan dan cara untuk mengembangkan penggunaan tenaga atom untuk maksud-maksud damai, serta mencegah penggunaan untuk tujuan-tujuan perang.
Pada akhir Desember 1946, komisi itu menyetujui usul Amerika Serikat untuk mengadakan pengawasan dan pengaturan-pengaturan yang ketat dengan maksud mencegah produksi senjata-senjata atom yang dilakukan secara diam-diam. Akan tetapi, Uni Soviet keberatan dan mengemukakan usul pengurangan persenjataan secara menyeluruh. Namun, Amerika Serikat tidak menerima usul yang dilontarkan oleh Uni Soviet. Oleh karena itu, Uni Soviet memveto usul Amerika Serikat pada Sidang Dewan Keamanan (1947).
Peristiwa uji coba peledakan bom atom ini menimbulkan reaksi dan rasa khawatir pihak Amerika Serikat. Amerika Serikat tidak menduga akan secepat itu Uni Soviet mengejar ketertinggalannya. Pada tahun 1950, Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman, memerintahkan pengadaan program darurat bagi penelitian bom hidrogen. Penelitian itu berhasil dan pengujiannya dilakukan pada bulan Nopember 1952. Namun, sembilan bulan kemudian Uni Soviet juga sudah mampu membuat bom hidrogen sendiri.

B. Perbandingan Kekuatan Nuklir
Perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet jelas menimbulkan kekhawatiran dan ketegangan yang luar biasa bagi dunia. Perbandingan kekuatan nuklir Uni Soviet menunjukkan posisi yang unggul dibandingkan kekuatan Amerika Serikat. Dalam hal kekuatan nuklir medan (theater nuclear), yaitu rudal dan pesawat pengebom yang digunakan untuk menyerang atau melindungi Eropa Barat, Uni Soviet memiliki keunggulan yang nyata. Keunggulan itu diperkuat dengan kemampuan dalam senjata konvensional. Untuk setiap jenis senjata, kecuali rudal antitank, Uni Soviet dan sekutunya, memiliki keunggulan yang meyakinkan.
Pada saat perang dingin memuncak, setiap negara yang bertentangan berusaha untuk memperkuat dirinya dengan cara bergabung dalam suatu aliansi. Hal ini sejalan dengan polarisasi kekuatan dua negara adikuasa, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dunia terbagi atas dua blok yang saling bertentangan. Keadaan seperti ini jelas mempengaruhi perkembangan Eropa maupun dunia sekaligus menjadi ancaman perdamaian bagi dunia.

C. Perlombaan Ruang Angkasa
Dunia dirasakan semakin sempit untuk diperebutkan oleh kedua negara adikuasa Amerika Serikat dan Uni Soviet. Oleh karena itu, perhatian dari kedua negara itu mengarah ke ruang angkasa yang masih bebas untuk diperebutkan.
Pada mulanya Uni Soviet meluncurkan pesawat Sputnik I tanpa awak kapal (1957), kemudian diikuti oleh Sputnik II yang membawa seekor anjing. Amerika Serikat mengimbangi dengan meluncurkan Explorer I (1958), kemudian diikuti dengan Explorer II, Discover dan Vanguard. Uni Soviet mengungguli dengan meluncurkan Lunik yang berhasil didaratkan ke bulan, dan kemudian ditandingi oleh Amerika Serikat dengan pendaratan manusia di Bulan.
Persaingan teknologi ruang angkasa semakin marak antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Setelah Amerika mendaratkan manusia pertama di Bulan, dilanjutkan dengan pendaratan manusia di Bulan oleh Uni Soviet adalah Yuri Gagarin (1934-1968) dengan mengendarai pesawat ruang angkasa Vostok I yang berhasil mengitari bumi selama 108 menit (1961). Amerika Serikat kemudian menyusul dengan astronotnya yang pertama adalah Alan Bartlett Shepard, Jr (1923-1998) yang berada di ruang angkasa selama 15 menit (1961). Uni Soviet menunjukkan lagi kelebihannya dengan meluncurkan Gherman Stepanovich Titov (1935-2000) yang mengitari bumi selama 25 jam dengan pesawat Vostok II.
Amerika Serikat berusaha menaklukkan ruang angkasa dengan mengadakan penyelidikan-penyelidikan atas benda-benda ruang angkasa yang letaknya jauh dari bumi seperti Saturnus, Yupiter, dan lain-lain.
Dengan demikian, demi kepentingan politik, ekonomi, dan militer, kedua negara adikuasa tersebut menjalankan politik pecah belah. Negara dan bangsa yang terpecah belah antara lain Korea, Vietnam, dan Jerman. Khusus Vietnam dan Jerman telah bersatu kembali sebagai sebuah negara dan bangsa, walaupun dalam penyatuannya memerlukan proses yang cukup lama, terutama di dalam beradaptasi, mengingat di antara mereka pernah mendapat pengaruh dari paham-paham yang berbeda. (By: Ilo).

Perang Dingin

Perang Dingin

Perang Dingin adalah perang dalam bentuk ketegangan sebagai perwujudan dari konflik-konflik kepentingan dan perebutan supremasi serta perbedaan ideologi antara blok barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Sehingga Perang Dingin merupakan pertikaian antara kedua blok tersebut.

A.    LATAR BELAKANG

Latar Belakang terjadinya perang dingin adalah sebagai berikut.

1. Munculnya Amerika Serikat sebagai negara pemenang perang di pihak Sekutu (Inggris, Perancis, dan AS). AS berperan besar dalam membantu negara-negara Eropa Barat untuk memperbaiki kehidupan perekonomiannya.

2. Munculnya Rusia (Uni Soviet) sebagai negara besar dan berperan membebaskan Eropa bagian Timur dari tangan Jerman dan membangun perekonomian negara-negara di Eropa Timur. Uni Soviet meluaskan pengaruhnya dengan mensponsori terjadinya perebutan kekuasaan di berbagai negara Eropa Timur seperti Bulgaria, Albania, Hongaria, Rumania, Polandia, dan Cekoslowakia sehingga negara-negara tersebut masuk dalam pemerintahan komunis Uni Soviet.

3. Munculnya negara-negara yang baru merdeka setelah Perang Dunia II di luar wilayah Eropa. Dampaknya muncul 2 kelompok negara di dunia yaitu negara-negara maju dengan negara-negara berkembang, yang memberikan pengaruh bagi perkembangan politik dan ekonomi dunia.

Faktor-faktor utama yang menyebabkan Perang Dingin :

1.     Perbedaan Paham

Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai pemenang Perang Dunia II memiliki paham/ ideologi yang berbeda Amerika Serikat memiliki ideologi liberal-kapitalis sedangkan Uni Soviet berideologi komunis. Paham Liberal-Kapitalis (AS) yang mengagungkan kebebasan individu yang memungkinkan kapitalisme berkembang dengan subur bertentangan dengan paham Sosialis-Komunis (US) yang berkeyakinan bahwa paham itu dapat lebih mempercepat kesejahteraan buruh maupun rakyatnya karena negara-negara yang mengendalikan perusahaan akan memanfaatkan keuntungannya untuk rakyat.

2.     Keinginan untuk Berkuasa

AS dan US mempunyai keinginan untuk menjadi penguasa di dunia dengan cara-cara yang baru. AS sebagai negara kreditor besar membantu negara-negara yang sedang berkembang berupa pinjaman modal untuk pembangunan dengan harapan bahwa rakyat yang makmur hidupnya dapat menjadi tempat pemasaran hasil industrinya dan dapat menjauhkan pengaruh sosialis komunis.

Masyarakat miskin merupakan lahan subur bagi paham sosialis komunis. Uni Soviet yang mulai kuat ekonominya juga tidak mau kalah membantu perjuangan nasional berupa bantuan senjata atau tenaga ahli. Hal ini dilakukan untuk mempengaruhi negara-negara tersebut.

3.     Berdirinya Pakta Pertahanan

Guna mengatasi berbagai perbedaan yang ada dan kepentingan untuk dapat berkuasa maka negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat mendirikan pakta pertahanan yang dikenal dengan nama NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Organisasi Pertahanan Atlantik Utara. Sementara untuk mengimbangi kekuatan NATO pada tahun 1955 Uni Soviet mendirikan pakta pertahanan yaitu PAKTA WARSAWA. Anggota Pakta Warsawa yaitu Uni Soviet, Albania, Bulgaria, Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia, dan Rumania.

Berdirinya kedua pakta tersebut menyebabkan muncul rasa saling curiga, ketidakpercayaan, dan kesalahpahaman antara kedua blok baik blok barat maupun blok timur. Amerika dituduh menjalankan politik imperialis untuk mempengaruhi dunia sementara Uni Soviet dianggap melakukan perluasan hegemoni atas negara-negara demokrasi melalui ideologi komunisme.

Keadaan tersebut memicu ketegangan kian memuncak sehingga muncullah persaingan senjata di antara kedua belah pihak. Masing-masing pihak saling diliputi oleh suasana Perang Dingin yang bahkan mengarah pada terjadinya Perang Dunia III.

B.    BERLANGSUNGNYA PERANG DINGIN

Perang Dingin (Cold War) adalah ketegangan yang secara politis tampak saling bermusuhan karena adanya persaingan kepentingan. Perang Dingin dimulai setelah berakhirnya Perang Dunia II sejak pembagian Jerman menjadi 2 wilayah, yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur. Pembagian Jerman menjadi 2 diikuti dengan pembagian kota Berlin menjadi Berlin Barat yang dikuasai oleh Amerika Serikat, Inggris dan Perancis sedangkan Berlin Timur dikusai oleh Uni Soviet tepatnya saat terjadi Konfrensi Yalta (Februari 1945).

Dalam waktu singkat (1945-1948) Uni Soviet berhasil membentuk pemerintahan komunis di Bulgaria, Rumania, Hongaria, Polandia, dan Chekoslowakia. Karena perkembangan pengaruh Uni Soviet sangat cepat dan pertumbuhannya pesat maka Amerika merasa perlu membendung berkembangnya gerakan komunis. Hingga akhirnya Amerika menyusun strategi politik Containment Policy yang bertujuan mencegah berkembangnya pengaruh suatu negara atau suatu sistem politik dari pihak lawan. Strategi politik tersebut dikembangkan melalui pemberian bantuan ekonomi dan militer seperti Marshall Plan dan Doctrine Truman yaitu bantuan berupa keuangan, militer, dan penasehat militer kepada Yunani dan Turki guna menghadapi gerilyawan komunis. Tujuannya untuk mempertahankan Yunani dan Turki dari peneterasi komunis dan menghambat jalur Uni Soviet menuju ke selatan yang akan mengancam negara-negara Barat. Sebab jika salah satu negara jatuh maka negara tetangga lainnya juga akan jatuh sehingga semua negara akan jatuh ke dalam pengaruh komunis. Uni Soviet berusaha menyaingi dengan membuat Molotov Plan dengan tujuan untuk menata kembali perekonomian negara-negara Eropa Timur dan badan kerja sama ekonomi Comicon (Cominteren Economic). Konflik ideologi tersebut berkembang sampai di Asia.

Selama berlangsungnya Perang Dingin, situasi dan kondisi dunia diwarnai oleh kegiatan sebagai berikut.

1)    Perebutan Hegemoni/kekuasaan

  • Kalahnya Jepang dari Sekutu menyebabkan seluruh wilayah Manchuria dan Korea diduduki Uni Soviet hingga berdampak semakin kuatnya Uni Soviet di daratan Cina serta wilayah Korea.
  • Berdasarkan Konferensi Yalta maka semenanjung Korea dibagi 2 yaitu Utara dibawah kekuasaan Uni Soviet sehingga Kim Il Sung menjalankan pemerintahan atas dasar pemikiran komunis. Sementara di sebelah selatan, Amerika memilih Rhee Syngman sebagai orang yang menjalankan pemerintahan berdasarkan dasar-dasar demokrasi. Karena perbedaan ideologi ini maka menyebabkan munculnya perang saudara di Semenanjung Korea pada 25 Juni 1950 dan inilah titik balik dari Perang Dingin.
  • Posisi komunisme di Cina semakin kuat karena bantuan senjata dari Uni Soviet yang berasal dari Jepang. Kuatnya komunisme di Cina menyebabkan berkembangnya komunisme di Asia Tenggara. Cina berusaha menghalangi propaganda imperialisme yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Inggris. Cina semakin mengembangkan komunismenya adapun alasannya adalah karena adanya keinginan untuk mengembalikan daerah kekuasaan Cina di zaman kuno meliputi Korea, Funan, Birma, India, bahkan lebih jauh termasuk daerah di Asia Tenggara. Selain alasan historis juga adanya alasan geografis dan kekayaan alam di Asia Tenggara guna memperkuat posisi ekonominya dalam dunia internasional. Karena alasan tersebutlah maka Cina semakin melibatkan diri di Asia Tenggara.
  • Apa yang dilakukan Cina dan Uni Soviet semakin mengancam kehidupan di Asia Tenggara. Hal ini menjadi masalah yang cukup serius bagi Amerika Serikat sehingga membuat Amerika merasa perlu membantu negara-negara Asia Tenggara. Amerika akhirnya memutuskan membantu Perancis yang saat itu sedang berperang melawan Vietnam (dibantu Uni Soviet dan RRC) dengan harapan Vietnam tidak jatuh ke tangan komunis. Tetapi ternyata Vietnam menang dan secara otomatis Vietnam berada di bawah kekuasaan komunis.
  • Jatuhnya Vietnam ke dalam kekuasaan komunis memungkinkan negara-negara di Asia Tenggara jatuh ke kuasaan komunis. Perjanjian Jenewa merupakan upaya untuk mengakhiri konflik antara kaum komunis dan non komunis yang membagi Vietnam menjadi 2 yaitu Vietnam Utara dan Selatan. Tetapi upaya ini tidak membuahkan hasil dan tidak mendatangkan kepuasan untuk mengakhiri konflik yang saling bertentangan di Vietnam. Pertentangan tersebut menyebabkan keterlibatan campur tangan pihak asing. Vietnam Utara sebagai negara komunis mendapat bantuan dan pengaruh dari Cina dan Uni Soviet sementara Vietnam Selatan sebagai negara demokrasi mendapat bantuan dari Amerika Serikat.
  • Setelah bertahun-tahun diperjuangkan akhirnya tahun 1976 Vietnam dapat dipersatukan di bawah kekuasaan kaum komunis. Vietnam membentuk persatuan Indocina yang diberi nama Federasi Indocina dibawah kekuasaan komunis yang menjadi ancaman militer dan ideologi bagi negara-negara Asia Tenggara.
  • Di Asia Tenggara terjadi rivalitas antarkomunisme tampak dengan adanya konflik antara Vietnam dan Kamboja mengenai masalah perbatasan. Dalam masalah ini Kamboja(Pol Pot) menolak usul penyelesaian konflik perbatasan melalui forum PBB. Di balik masalah Kamboja-Uni Soviet tidak lepas dari masalah politik yaitu konflik Sino-Soviet. Di belakang Kamboja berdiri Cina dan di pihak Vietnam terdapat Uni Soviet. Konflik Vietnam dan Kamboja adalah pertandingan dari jauh antara Cina dan Uni Soviet di Asia Tenggara sementara Vietnam dan Kamboja menjadi pion-pion yang bertempur di medan perang.
  • Pertentangan ideologi antara negara Amerika Serikat dan Uni Soviet terjadi juga di Amerika dimana Presiden Kuba Fidel Castro mendirikan negara komunis di Kuba. Tindakan ini tentu saja mendapat reaksi keras dari Amerika Serikat dengan upaya mensponsori invasi gerakan anti komunis Kuba namun mengalami kegagalan. Titik ketegangan perang dingin ini terjadi di Teluk Babi pada tahun 1961.
  • Negara di kawasan Amerika Tengah lainnya seperti Nikaragua juga dikuasai oleh kaum komunis. Dimana Nikaragua sejak 1970 sampai 1990 dikuasai oleh kelompok Gerilyawan komunis Sandinista (Front Pembebasan Nasional Sandinista).
  • Di Afrika sayap kiri militer telah menguasai pemerintahan di Ethiopia antara tahun 1974-1991. Sistem pemerintahan sosialis membuat negara tersebut bersekutu dengan Uni Soviet. Di Angola dan Mozambik sejak 1975-1990 kelompok gerilya Marxis-Leninis menguasai pemerintahan.
  • Di Afganistan (1978) pemerintahan berhaluan komunis pimpinan Noor Mohammad Tariki berhasil membangun Daoud Khan melalui kudeta berdarah. Untuk menyelamatkan rezim komunis di Afganistan yang saat itu mendapat perlawanan dari kelompok pimpinan Hafizullah Amin maka Uni Soviet pada Desember 1979 melakukan invasi militer ke Afganistan. Selain itu guna mengimbangi kekuatan bersenjata Amerika Serikat di Asia Barat Daya dan pengaruh liberalismenya. Tetapi invasi ini mendapat perlawanan dari kelompok Mujahidin yang dipimpin Mohammad Najibullah yang akhirnya berhasil memukul mundur pasukan Uni Soviet dan pada 1989 pasukan Soviet ditarik mundur dari Afganistan.

Selama Perang Dingin berlangsung kedua negara adikuasa tidak pernah terlibat secara langsung dalam suatu konflik (peperangan) secara terbuka. Mereka selalu berada di belakang negara-negara yang sedang bersengketa. Mereka memberikan bantuan persenjataan dan memenuhi kebutuhan hidup masyarakat negara-negara yang sedang bersengketa.

2)   Sistem Aliansi

Ketika perang dingin memuncak maka setiap negara yang bertentangan berusaha memperkuat dirinya dengan bergabung dalam satu aliansi. Bentuk sistem aliansi baik yang dilakukan blok Timur maupun blok Barat adalah sebagai berikut.

Pembentukan Cominform (The Communist Information Bureau) pada tahun 1947. Cominform adalah wadah kerja sama partai-partai komunis Eropa yang berpusat di Beograd, Yugoslavia.

Pembentukan NATO (North Athlantic Traty Organization) 4 April 1949. Negara yang menjadi anggotanya yaitu Inggris, Irlandia, Islandia, Norwegia, Denmark, Belgia, Belanda, Luxemburg, Perancis, Portugal, Kanada, dan Amerika Serikat. Tujuannya untuk membendung komunis mulai dari Eropa Utara sampai Turki dan Yunani.

Pembentukan Pakta Warsawa pada 1955 dengan negara Jerman Timur, Cekoslovakia, Hongaria, Bulgaria, Polandia, Rumania, dan Albania. Pakta Warsawa merupakan kerjasama pertahanan dan keamanan negara-negara komunis.

Perjanjian antara RRC dan Uni Soviet tahun 1950 mengenai kerja sama dianatara kedua negara guna menghadapi kemungkinan agresi Jepang.

Pembentukan Pakta ANZUS (Australia, New Zealand, and United State), yaitu pakta pertahanan negara-negara Amerika Serikat, Australia,dan Selandia Baru pada tahun 1951.

Pembentukan SEATO (South East Asia Treaty Organization) pada tahun 1954. SEATO merupakan kerjasama pertahanan antara negara-negara Asia Tenggara dengan pihak Barat. Dengan anggotanya antara lain, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Filipina, Singapura, dan Selandia Baru.

3)   Kegiatan Spionase

Perebutan hegemoni selama perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat terhadap berbagai kawasan baik di Eropa, Asia, Amerika, dan Afrika selalu didukung oleh kegiatan agen intelijen yang mereka miliki.

Kegiatan Spionase (mata-mata) tercermin dari tindakan yang dilakukan oleh agen spionase kedua belah pihak yaitu antara KGB dan CIA. KGB (Komitet Gusudarstvennoy Bezopasnosti) merupakan dinas intelegen sipil atau dinas rahasia Uni Soviet sedangkan CIA (Central Intelligence Agency) yang merupakan dinas rahasia Amerika Serikat yang bertugas untuk mencari keterangan tentang negara-negara asing tertentu.

KGB dan CIA selalu berusaha untuk memperoleh informasi rahasia mengenai segala hal yang menyangkut kedua belah pihak atau negara-negara yang berada di bawah pengaruh kedua belah pihak. Mereka juga membantu terciptanya berbagai ketegangan di dunia. Misalnya, CIA turut membantu orang-orang Kuba di perantauan untuk melakukan serangan ke Kuba tahun 1961 yang disebut Insiden Teluk Babi. Di pihak lain, Uni Soviet memberikan dukungan kepada Fidel Castro (Presiden Kuba) dalam menghadapi invasi tersebut.

4)   Perlombaan Teknologi Persenjataan dan Ruang Angkasa

Perang dingin antara dua negara adidaya ditandai oleh perimbangan persenjataan nuklir dan personil militer. Sehingga kegiatan ini disebut sebagai politik Balance of Power. Unjuk kekuatan kedua negara adidaya tersebut diikuti perlombaan dalam bidang teknologi militer dan ruang angkasa dimana keduanya saling unjuk kecanggihan.

Jika muncul isu sensitif dapat saja membawa kedua belah pihak pada isu global yang menyebabkan munculnya perang secara terbuka. Perang dingin juga dapat menimbulkan perlombaan senjata antara pihak Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perlombaan senjata yang dilakukan kedua negara tersebut berupa perlombaan senjata nuklir. Perlombaan senjata nuklir ini dikhawatirkan akan menyebabkan meletusnya perang nuklir yang dasyat yang dapat membahayakan kelangsungan hidup umat manusia dan makhluk hidup lainnya di dunia sebab jangkauan senjata nuklir sangatlah luas bisa menjangkau antarnegara dan antarbenua.

Kedua blok membangun pusat-pusat tombol peluncuran senjata nuklir berbagai negara yang berada di bawah pengaruhnya. Untuk mengurangi meningkatnya perlombaan senjata nuklir pada kedua belah pihak maka PBB membentuk Atomic Energy Commission yang bertujuan mencari jalan dan cara untuk mengembangkan penggunaan tenaga atom untuk maksud damai serta mencegah penggunaannya untuk tujuan perang. Pada akhir Desember 1946 komisi setuju untuk mengadakan pengawasan dan pengaturan ketat guna mencegah produksi senjata-senjata atom yang dilakukan secara diam-diam. Tetapi Uni Soviet keberatan dan mengemukakan usul pengurangan senjata secara menyeluruh. Sementara AS tidak setuju, hingga akhirnya US memveto usul AS dalam sidang Dewan keamanan. Pada tahun 1949, US mengadakan uji coba peledakan bom atomnya yang pertama. Yang ditanggapi dengan pembuatan bom hidrogen oleh AS yang diuji pada November 1952, meskipun begitu ternyata US pun sudah dapat membuat bom hidrogen sendiri.

Hingga tahun 1983, perbandingan kekuatan senjata nuklir Uni Soviet menunjukkan posisi yang

unggul dibanding dengan kekuatan Amerika Serikat.

C.    DAMPAK PERANG DINGIN

Dampak perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet tampak pada:

a.     Bidang Politik

Amerika Serikat berusaha menjadikan negara-negara yang sedang berkembang menjadi negara demokrasi agar hak asasi manusia dapat dijamin. Bagi negara-negara yang sebelumnya kalah seperti Jerman dan Jepang berkembang pula kapitalisme selain demokrasi. Negara-negara tersebut dapat sehaluan dengan AS dan merupakan negara pengaruhnya.

Uni Soviet dengan paham sosialis-kominunis mendengungkan pembangunan negara dengan Rencana Lima Tahun. Cara tersebut dilakukan dengan ditaktor bukan liberal. Bagi negara satelit (dibawah pengaruh) Uni Soviet yang melakukan penyimpangan akan ditindak keras oleh US seperti contohnya Polandia dan Hongaria. Demi kepentingan politik, ekonomi, dan militer kedua negara adikuasa tersebut menjalankan politik pecah belah sehingga beberapa negara menjadi terpecah seperti Korea, Vietnam, dan Jerman.

b.     Bidang Ekonomi

AS sebagai negara kreditor terbesar memberikan pinjaman atau bantuan ekonomi kepada negara-negara yang sedang berkembang berupa Marshall Plan. AS juga memberikan bantuan ”Grants in Aid” yaitu bantuan ekonomi dengan kewajiban mengembalikan berupa dollar atau dengan membeli barang-barang Amerika Serikat. Bagi negara-negara di Asia Presiden Truman mengeluarkan “The Four Points Program for the Economic Development in Asia” berupa teknik dalam wujud perlengkapan-perlengkapan ekonomis atau bantuan kredit yang berasal dari sektor swasta di Amerika Serikat yang disalurkan oleh pemerintah kepada negara-negara yang sedang berkembang.

Dengan adanya perang dingin ini maka berbagai bentuk kerjasama yang saling menguntungkan antara Eropa Timur dan Eropa Barat tidak dapat terjalin. Kegiatan tersebut terhambat karena negara-negara Eropa merasa kawatir jika suatu saat wilayahnya akan dijadikan sasaran adu kekuatan oleh kedua negara adikuasa tersebut. Dampaknya perekonomian antara blok barat (negara-negara Eropa Barat) dan blok timur (negara-negara Eropa Timur) tidak seimbang dimana negara-negara blok barat jauh lebih maju daripada blok timur.

c.     Bidang Militer

Perebutan pengaruh antara AS dan US dalam pakta pertahanan. Negara-negara barat membentuk North Atlantic Treaty Organization (NATO) tahun 1949 sebagai suatu organisasi pertahanan. Bila salah satu anggotanya diserang maka dianggap sebagai serangan terhadap NATO. Awalnya bermarkas di Paris tetapi kemudian Perancis keluar karena mengganggap NATO didominasi oleh AS dan markasnya berpindah di Brussel. Hubungan Perancis dengan Uni Soviet dan RRC jauh lebih baik jika dibandingkan hubungan dengan negara Barat lainnya meskipun Perancis tidak menjadi anggota Blok Timur.

Di Asia Tenggara dibentuk South East Asia Treaty Organization (SEATO) athun 1954 atas dasar South East Asia Collective Defence Treaty. Anggota utamanya adalah negara-negara barat sementara negara-negara di Asia Tenggara seperti Indonesia justru tidak ikut serta. Pakta pertahanan tersebut ditujukan terhadap komunis di Asia Tenggara khususnya di Vietnam. SEATO bubar pada tahun 1975.

Sementara Uni Soviet dengan negara-negara blok Timur membentuk Pakta Warsawa (1955) atas dasar “Pact of Mutuaal Assistance and Unified Command”. Di Asia Tenggara Uni Soviet memberikan bantuan peralatan militer dan teknisi kepada Vietnam yang akhirnya dapat mendesak Amerika Serikat keluar dari negara tersebut(1975).

d.    Bidang Ruang Angkasa

Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet membawa pengaruh terhadap penjelajahan ruang angkasa. Amerika Serikat dan Uni Soviet saling berebut menguasai ruang angkasa karena dunia dirasa terlalu sempit untuk diperebutkan.

  • Berawal dari upaya Uni Soviet meluncurkan pesawat Sputnik I dan Sputnik II yang ditandingi AS dengan meluncurkan pesawat Explorer I dan Explorer II, Discovere dan Vanguard.
  • Diikuti dengan usaha Uni Soviet untuk mendaratkan Lunik di bulan serta astronot pertamanya Yuri Gagarin dengan pesawat Vostok I yang berhasil mengitari bumi selama 108 menit. Sementara Amerika Serikat mengirim astronot pertamanya yaitu Alan Bartlett Shepard yang berada di luar angkasa selama 15 menit.
  • Uni Soviet menunjukkan kelebihannya dengan meluncurkan Gherman Stepanovich Titov yang mengitari bumi selama 25 jam dengan Vostok II. Disusul Amerika Serikat meluncurkan WSJohn H. Glenn dengan pesawat Friendship VII yang berhasil mengitari bumi sebanyak 3 kali.

Dampak Perang Dingin bagi Indonesia :

ü      Sistem politik-ekonomi Indonesia telah dibawa pada arus komunisme-sosialisme pada masa Orde Lama. Sementara pada masa Orde baru berkembang liberalisme-kapitalisme.

ü      Pada masa akhir dua kepemimpinan di atas, Indonesia mengambil keterpurukan ekonomi.

D.    AKHIR PERANG DINGIN

Kedua negara adikuasa akhirnya menyadari bahwa hubungan anatar keduanya sudah sanagat panas, oleh karena itu mereka ingin mengurangi ketegangan yang ada sebelum akhirnya menyebabkan perang terbuka yang diperkirakan akan menghancurkan seluruh dunia dengan adanya Perang Dunia III. Sehingga sejak 1970-an hubungan antarnegara dunia mulai membaik dan ketegangan dalam perang dingin mulai berkurang. Pengurangan ketegangan terhadap pihak yang bertikai disebut Detente. Detente ditandai oleh peristiwa sebagai berikut.

1. Isu Berlin Barat dapat diselesaikan dalam meja perundingan tahun 1971.

2. Inggris mulai bergabung dengan Masyarakat Ekonomi Eropa.

3. Negara barat mulai menjalin hubungan diplomatik dengan RRC pada 1973.

4. Terjadi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dengan ditandatanganinya persetujuan SALT I (Strategic Arm Limited Task) dan SALT II atau pembatasan persenjataan strategis.

SALT I merupakan perundingan pembatasan persenjataan strategis yang berlangsung di Helsinki, Finlandia tanggal 17 November 1969. Hasil perundingan ini ditandatangani oleh Richard Nixon (Presiden Amerika Serikat) dan Leonid Brezhnev (Uni Soviet).

SALT II merupakan perundingan pembatasan persenjataan strategis yang berlangsung di Jenewa, Swiss pada November 1972 tetapi hasilnya baru ditandatangani 18 Juni 1979 di Wina, Austria oleh Jimmy Carter (Amerika Serikat) dan Leonid Brezhnev (Uni Soviet).

5. Presiden Ronald Reagen meningkatkan kemampuan persenjataan balistiknya yang mempengaruhi sikap Mikhail Gorbachev untuk melakukan persetujuan pembatasan nuklir balistik tahun 1987. Dampak dari perjanjian ini antara lain Uni Soviet mengurangi kekuatan angkatan perangnya di Eropa Timur dan mulai memusatkan pembenahan ekonomi serta kehidupan politik dalam negeri yang lebih demokratis.

6. Deng Xiaoping berhasil menguasai Partai Komunis Cina (PKC) setelah meninggalnya Mao Tse Tung. Deng Xiaoping  merupakan pemimpin kelompok yang menghendaki reformasi ekonomi. Programnya adalah membangkitkan sistem pertanian dan bisnis yang berdasarkan milik pribadi. Penanaman modal asing mulai masuk kembali terutama dalam sektor jasa dan diharapkan dapat berproduksi untuk tujuan ekspor. Hal ini menunjukkan adanya gejala kapitalisme dalam kehidupan komunisme di Cina. Tetapi reformasi ekonomi yang ada tidak diimbangi dengan adanya reformasi politik sehingga kehidupan politik masih dikendalikan oleh partai Komunis. Dampaknya muncul bentrokan dengan mahasiswa seperti 1989 terjadi Tragedi di Lapangan Tiananmen, Beijing dimana terjadi demonstrasi besar-besaran tetapi mendapatkan perlawanan bahkan para pelakunya diawasi secara ketat.

Pertumbuhan ekonomi Uni Soviet tidak mengalami pertumbuhan sehingga ekonomi Uni Soviet mengalami kemerosotan yang parah. Sebagai ideologi akhirnya komunisme mulai mengalami kebangkrutan di berbagai belahan dunia sejak 1970an. Berawal dari upaya Uni Soviet untuk mengalihkan energi mereka untuk menyelesaikan masalah dalam negeri mereka. Adapun masalah yang muncul di Uni Soviet antara lain :

ü      ketidakpuasan kelas menengah dan kelompok elit pemerintahan komunis sendiri,

ü      tekanan kelompok etnis non Rusia,

ü      korupsi yang timbul di kalangan birokrasi dan partai dalam pemerintahan,

ü      dana anggaran belanja yang defisit karena biaya pendudukan pasukan Uni Soviet di beberapa negara Eropa Timur,

ü      ketertinggalan teknologi dan peralatan industri sehingga kapasitas produksi makanan untuk mencukupi kebutuhan rakyatnya menurun.

Perang Dingin akhirnya berakhir karena:

1.      Sampai 1980, 11 % GNP Uni Soviet dibelanjakan untuk kepentingan militer. Uni Soviet mengalokasikan dana besar-besaran bagi negara yang berada dibawah kekuasaannya agar negara tersebut tidak lepas dari kendalinya.

2.      Tahun 1980, harga minyak jatuh sehingga keadaan ekonomi Uni Soviet yang tidak stabil benar-benar berhenti. Padahal serbelumnya Uni Soviet sangat tergantung dengan ekspor minyaknya sementara sejak 1980 minyak tidak mampu membiayai Perang Dingin.

3.      Muncul krisis kredibilitas/kepercayaan terhadap sistem komunisme.

Dampaknya muncul pemikiran dari para cendekiawan yang memahami pandangan barat sehingga mendorong munculnya keinginan seperti warga negara di negara-negara non komunis.

Dalam kondisi yang buruk Mikhail Gorbachev (11 Maret 1985) harus memimpin Uni Soviet dengan tugasnya yaitu memperbaiki perekonomian Uni Soviet yang semakin buruk.

Langkah yang ditempuh adalah dengan melakukan Reformasi yang terkenal dengan Perestroika dan Glasnost.

PERESTROIKA merupakan restrukturisasi (penataan kembali struktur) yang sudah rusak. Tujuannya guna mengatasi stagnasi untuk akselerasi (penyamaan) kemajuan sosial dan ekonomi. Perestroika merupakan pengembangan menyeluruh dari demokrasi yang diprakarsai massa. Jadi Perestroika adalah langkah pembaharuan untuk mempersatukan sosialisme dengan demokrasi melalui keterbukaan politik atau GLASNOST.

Kebijakan ini memberikan dampak yang tidak terduga sebelumnya yaitu pertentangan sosial di dalam masyarakat muncul. Kelompok yang bersengketa antara lain sebagai berikut.

  1. Kelompok Moderat, yaitu kelompok yang menyetujui reformasi tetapi menjalankan komunisme yang disempurnakan.
  2. Kelompok Konservatif, yaitu kelompok yang menentang reformasi dan ingin mempertahankan komunisme.
  3. Kelompok Radikal, yaitu kelompok yang mendukung reformasi tetapi ingin meninggalkan komunisme.

4.      Pada 19 Agustus 1991, Gennadi Yanayev (pemimpin kelompok konserfatif) melancarkan kudeta terhadap Gorbachev tetapi upaya ini dapat digagalkan oleh Boris Yeltsin (pemimpin kelompok Radikal) sehingga Gorbachev dapat diselamatkan dan nama Yeltsin mulai melambung di pentas politik Uni Soviet. Yeltsin tidak mampu membendung gelora semangat Perestroika dan Glasnost terbukti dengan banyaknya negara bagian Uni Soviet yang melepaskan diri dan menjadi negara merdeka sehingga Runtuhlah Uni Soviet.

5.      Uni Soviet mulai mengurangi kekuatan senjatanya di Eropa Timur seperti pada 1989 Uni Soviet menarik tentaranya dari Afghanistan. Akhirnya kekuasaan komunis mulai runtuh di negara-negara Eropa Timur dimana Jerman kembali bersatu.

6.      Secara resmi Uni Soviet dibubarkan pada 8 Desember 1991 ditandai dengan penurunan bendera Uni Soviet dan dikibarkan bendera Rusia. Rusia dan negara-negara bekas Uni Soviet yang lain mulai muncul sebagai negara yang merdeka.

Runtuhnya kekuatan Uni Soviet di Eropa Timur mengakhiri Perang Dingin. Uni Soviet merupakan contoh keberhasilan dari ideologi Marxis-Leninis yang diaktualisasikan menjadi negara.

E.    DAMPAK BERAKHIRNYA PERANG DINGIN

Berakhirnya Perang Dingin memberikan dampak luas bagi perubahan dunia:

Terjadinya perubahan di Eropa Timur, Rusia dan Jerman dalam upaya mengakhiri kekuasaan komunis dan dominasi Uni Soviet di daerah tersebut.

Muncul perubahan politik dan ekonomi dunia yang menimbulkan terciptanya hubungan secara menyeluruh (global) maupun kawasan (regional), yang terlihat dengan:

ü      Kebangkitan Jepang,

Setelah perekonomian Jepang lumpuh akibat perang dunia II dan serangan sekutu terhadap kota Jepang maka rakyat Jepang mulai bangkit untuk membangun kembali ekonomi negara yang hancur tersebut.Dalam perkembangannya Jepang mampu memanfaatkan segala dukungan dan bantuan Amerika Serikat bahkan akhirnya Jepang mampu mengambil alih fungsi-fungsi ekonomi global yang disandang Amerika Serikat dan mampu memberikan bantuan ekonomi bagi negara di kawasan Asia Pasifik. Hingga akhirnya Jepang mampu mendominasi kedudukan di daerah Asia-Pasifik sebagai pasar impor, penyedia bantuan luar negeri, dan sumber investasi asing yang dia pertahankan hingga sekarang.

ü      berdirinya Group of Seven, (Perancis,Jerman Barat,Jepang,Inggris,Amerika Serikat,Kanada dan Italia yang bergabung untuk memecahkan masalah ekonomi dunia),

ü      berdirinya European Union (bentuk kerja sama ekonomi antara negara Eropa Barat),

ü      berdirinya Gerakan Nonblok,

ü      berdirinya ASEAN (stabilitas politik regional dan pembangunan ekonomi masing-masing negara anggota),

ü      berdirinya APEC, dan

ü      berdirinya OKI.

Muncul ketergantungan satu sama lain sehingga terjadi transformasi kekuasaan silih berganti.

Terbentuklah tatanan dan nilai baru di dunia yang lebih damai, aman dan sejahtera.

Berakhirnya Perang Dingin mampu mengakhiri semangat sistem hubungan internasional bipolar (melibatkan 2 blok yaitu blok barat dan timur) dan berubah menjadi sistem multipolar, yaitu mengalihkan persaingan yang bernuansa militer ke persaingan ekonomi di antara negara-negara di dunia dan mengubah isu-isu fokus hubungan internasional dari high politics (isu yang berhubungan dengan politik dan keamanan) menjadi is-isu low politics (seperti isu terorisme, hak asasi manusi, ekonomi, lingkungan hidup, dsb) yang dianggap sama pentingnya dengan isu high politics.

Terbentuk hubungan kerjasama utara-selatan dan selatan-selatan.

Setelah Perang Dunia II dunia tidak lagi terbagi atas blok barat dan blok timur melainkan kelompok utara dan kelompok selatan. Istilah utara dan selatan dalam hal ini lebih bernilai ekonomis jika dibandingkan dengan nilai geografis.

  • Kelompok Utara merupakan kelompok negara industri maju yang memiliki teknologi canggih serta produksi industri yang selalu meningkat.

Negara Utara meliputi negara-negara yang berada di belahan bumi bagian utara meliputi, Kanada, Amerika Serikat, Perancis, inggris, Jerman Barat, Italia, dan Jepang.

Secara ekonomis mereka memiliki ekonomi yang kuat.

Berdasarkan kekayaan alam, negara maju tidak memiliki kekayaan alam yang cukup tetapi kekurangan tersebut dapat diatasi dengan penguasaan teknologi. Jadi mereka sangat unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi kurang didukung oleh sumber daya alam yang melimpah.

  • Kelompok Selatan merupakan kelompok negara yang sedang berkembang atau negara miskin. Negara Selatan meliputi negara yang terletak di belahan bumi bagian selatan seoperti kawasan Asia, afrika, dan Amerika Latin.

Secara ekonomis, mereka memiliki ekonomi yang lemah yang mengandalkan hidupnya pada bidang pertanian.

Berdasarkan kekayaan alam, negara selatan memiliki sumber daya alam yang melimpah namun kurang didukung oleh penguasaan teknologi.

Negara utara cenderung memaksakan model pembangunan mereka terhadap negara-negara Selatan. Pelaksanaan tersebut akan mereka lakukan melalui perundingan dalam lembaga keuangan internasional, seperti IMF dan Bank Dunia. Rencananya kedua lembaga keuangan ini untuk menolong semua negara di dunia dalam kegiatan pembangunan tetapi ternyata dipakai sebagai alat oleh negara-negara di Utara untuk memaksakan model pembangunan yang menguntungkan negara-negara yang kuat. Program yang mereka keluarkan adalah Program Penyelesaian Terstruktur atau Structural Adjustment Program (SAP). Dampak adanya program ini maka akan memaksa :

ü      Negara-negara yang mendapat bantuan utang untuk lebih membuka pasar dalam negeri mereka,

ü      Menekankan kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang-barang yang bisa diekspor,

ü      Mengurangi subsidi pemerintah terhadap sektor publik.

Dengan program ini mampu membuat rakyat jelata semakin miskin, sebagai contoh Negara Afrika dan Amerika Latin.

Kedua kelompok tersebut masing-masing mempunyai potensi dan peran yang penting dalam perekonomian internasional. Harapannya hubungan utara-selatan ini akan menghasilkan kemakmuran bagi semua negara di dunia tetapi kenyataannya hanya menciptakan kemakmuran bagi negara-negara di kawasan Utara dan merugikan negara-negara di kawasan Selatan. Kerugian dan kesengsaraan yang diderita negara selatan antara lain :

ü      Penurunan nilai tukar bagi barang-barang yang dihasilkan

ü      Kerusakan lingkungan yang semakin memprihatinkan

ü      Ketergantungan yang semakin tinggi terhadap negara-negara di kawasan Utara

ü      Kesenjangan (jurang pemisah) yang semakin lebar dan dalam antara Utara dan Selatan.

Sementara itu jika kita lihat negara-negara selatan memiliki kelebihan dan peran penting, diantaranya :

ü      Sebagian besar merupakan negara-negara penghasil bahan mentah/bahan baku mogas dan non migas.

ü      Penduduknya padat dan menjadi sasaran yang potensial bagi pemasaran hasil-hasil industri negara-negara maju.

ü      Negara-negara selatan merupakan tempat yang tepat bagi negara-negara utara dalam menanamkan modal.

ü      Jumlah negara yang sedang berkembang lebih dari separuh jumlah negara-negara di dunia dan tentu saja memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak.

Mengingat keadaan yang semakin tidak baik yang dialami oleh negara-negara Selatan sendiri. Negara Selatan harus meningkatkan kekuatan politik dan ekonomi mereka. Negara Utara harus membiarkan negara selatan bebas melaksanakan pembangunan alternatif mereka tanpa melakukan pembatasan terhadap negara-negara tersebut. Negara di Utara harus melaksanakan kebijakan ekonomi dan kebijakan luar negeri yang didasarkan atas kepentingan jangka panjang yang sehat.

Melihat keadaan tersebut maka kedua belah pihak menganggap penting adanya kerjasama Utara-Selatan dalam rangka perubahan dalam tata hubungan dunia baru yang lebih adil.Hubungan tersebut haruslah merupakan perubahan dari bentuk pemerasan oleh negara-negara kawasan Utara ke bentuk pembagian keuntungan bersama. Jadi berubah dari hubungan subordinasi menuju ke bentuk kemitraan.

Guna menghindari pertentangan yang semakin tajam antara Utara-Selatan maka diadakan dialog Utara-Selatan yang mulai dipopulerkan sejak dilangsungkan konferensi kerja sama ekonomi internasional tingkat menteri pertama di Paris, Perancis tahun 1975. Tujuan mendasar dari dialog Utara-Selatan adalah mencari kesepakatan dalam mengubah hubungan antara negara-negara industri kaya (G7) dengan negara-negara berkembang (G 15). Konferensi Paris diharapkan bisa menghasilkan perubahan hubungan ke arah persamaan dalam Orde Ekonomi Internasional Baru. Sehingga negara-negara berkembang menginginkan distribusi kekayaan yang lebih adil dan menuntut partisipasi yang lebih besar dalam hubungan ekonomi internasional.

F.    GLOBALISASI

Globalisasi adalah jaringan kerja global yang secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi ke dalam saling ketrgantungan dan persatuan dunia.

Globalisasi tidak dapat dihindarkan bagi setiap bangsa dan negara, sementara globalisasi mengandung fenomena sebagai berikut.

1.     Homogenisasi

Homogenesis merupakan sebuah fenomena globalisasi yang disebabkan oleh kemajuan teknologi komunikasi yang dapat menyebar ke masyarakat global. Dampaknya nilai-nilai budaya, vitalitas, dan potensi yang asli ditinggalkan dan nilai-nilai  yang telah dipaket dan diproduksi secara massal (seperti melalui TV, Radio,dkk), diiklankan dan dijual ke pasar lalu diadopsi beramai-ramai.

2.     Ketergantungan

Negara-negara yang masih mengimpor teknologi komunikasi dan informasi kebanyakan negara-negara berkembang yang akan selalu mengalami masa ketergantungan yang berkepanjangan pada negara maju yang membuat peralatan teknologi informasi dan komunikasi.

3.     Keterbukaan dan Integrasi

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan dunia semakin terbuka dan terintegrasi. Jarak tidak lagi menjadi hambatan untuk melakukan komunikasi dan segala informasi dunia dapat diketahui dengan mudah, arus globalisasi terus berkembang tanpa dapat dikendalikan bahkan ditolak.

Kesimpulannya :

Pada akhir abad ke-20 dunia banyak mengalami perubahan dan tantangan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan keterbukaan yang semakin besar dan batas antarnegara menjadi semu. Akibatnya ketergantungan satu bangsa dengan bangsa lainnya semakin terasa.

Proses globalisasi pembangunan dunia ditandai dengan Perjanjian Bretton Woods yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Juli 1944 dan dibentuklah 2 lembaga berdasarkan perjanjian tersebut yaitu Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF).

Dunia telah memasuki era Globalisasi oleh karena itu dibutuhkan prespektif global dalam melihat dunia. Prespektif global merupakan suatu cara pandang dan wawasan untuk melihat bahwa dunia sangat dipengaruhi oleh arus globalisasi dan produk global sehingga hampir semua bangsa saling ketergantungan, mempengaruhi, dan berhubungan antara berbagai kebudayaan, sistem ekologi, politik, ekonomi, dan teknologi dalam konteks global.

Prespektif global dibutuhkan apabila suatu negara ingin memasuki era globalisasi yang penuh tantangan dan persaingan agar tidak mudah kehilangan arah dan terseret arus perubahan zaman. Oleh karena itu ada 6 wawasan global yang harus dimiliki suatu negara, yaitu :

1.      Wawasan yang luas dan selalu melihat suatu fenomena dalam konteks global.

2.      Menghargai lebih pada proses daripada struktur hirarkis formal.

3.      Menghargai kerja sama multikultural dan keragaman, fleksibilitas, dan kepekaan.

4.      Melihat perubahan sebagai kesempatan sehingga terbiasa dengan situasi yang tidak menentu.

5.      Terus menerus mempertajam keabsahan paradigmanya sendiri.

6.      Menyadari bahwa kehidupan di dunia ini serba kompleks dan penuh dengan kekuatan yang kontradiktif sehingga memerlukan manajemen konflik.

3 Dimensi pokok yang dapat dijadikan dasar pengetahuan dan sumber inspirasi untuk menentukan langkah strategis dan antisipasi perkembangan global di masa yang akan datang, yaitu :

1.     Globalisasi Ekonomi

Globalisasi ekonomi merupakan motor penggerak terjadinya globalisasi yang ditandai dengan era perdagangan bebas. Dapat terlaksana dengan adanya kerjasama ekonomi baik di tingkat bilateral, regional, maupun internasional didukung dengan adanya rasa keterbukaan dan mendapat keuntungan bersama diantara negara yang terlibat dalam kerjasama ekonomi. Kerjasama ekonomi harus diikuti oleh negara ditengah menguatnya sistem perdagangan dan pasar bebas dunia dalam era globalisasi.

2.     Globalisasi Politik

Terjadinya pasar bebas disebabkan karena adanya keputusan politik yang dibuat oleh para pemimpin negara yang terlibat dalam aliansi ekonomi sehingga tidak ada kerjasama ekonomi glonal tanpa diawali keputusan politik. Contoh bentuk kerjasama yang diwarnai unsur politik adalah GNB dan OKI.

3.     Globalisasi Kebudayaan

Dalam bidang budaya globalisasi diartikan sebagai sesuatu yang dipelajari dan secara mekanisme adaptasi yang diwarisi secara turun temurun menyangkut aspek : pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan segala kebiasaan sebagai anggota masyarakat. Dalam era globalisasi, keterbukaan informasi memungkinkan seseorang mengadopsi nilai-nilai pengetahuan dan kebiasaan di luar lingkungan sosialnya dan jauh dari jangkauan secara fisik(orang tua maupun orang terdekat) sebab dapat dilakukan oleh media massa yang bahkan dapat menjadi perilaku global yang berkembang di masyarakat suatu negara.

Drama Perjuangan (Kartini Berdarah)

KARTINI BERDARAH

AMANATIA JUNDA .S

TOKOH:

  1. Kartika             : Seorang gadis berusia 17 tahun. Berambut panjang dikepang dua, berkacamata besar, seorang kutu buku, pendiam dan kurang pergaulan.
  1. Kartini              : Sahabat khayalan Kartika. Seorang wanita berusia sekitar 20 tahun-an, rambut bersanggul, memakai kebaya, wajah keibuan, seperti sosok pengganti ibu sekaligus sahabat bagi Kartika
  1. Friska  : Seorang gadis kaya. Berusia 17 tahun. Berambut ikal, cantik, ramping, tinggi. Ketua geng Perfume. Mempunyai sifat sombong, dan sewenang wenang.
  1. Lena                 : Seorang gadis berusia 16 tahun, anggota geng Perfume. Jangkung, berambut pendek. Agak tomboy. Sering main tangan.
  1. Windi               : Seorang gadis berusia 17 tahun, anggota geng Perfume. Seorang playgirl, centil, kurang pandai dalam pelajaran.
  1. Resnaga           : Sahabat Kartika sejak kecil. Seorang pemuda berusia 17 tahun. Tinggi sedang, berpenampilan sederhana. Ramah, setia, dan baik hati.
  1. Malvin  : Seorang idola sekolah, berusia 18 tahun, tampan, angkuh, berpenampilan keren. Kekasih Friska.
  1. Bu Sartika         : Ibu Kartika. Berusia sekitar 45 tahun, seorang wanita karier, janda, penuntut pada anak semata wayangnya, dan over protektif.

SETTING :

Panggung dibagi menjadi 2 bagian, kanan dan kiri. Bagian kanan merupakan kamar Kartika. Didominasi warna putih. Terdapat sebuah ranjang kayu kecil bersprei putih motif bunga bunga, sebuah meja belajar kayu dengan lampu duduk dan tumpukan buku biografi RA. Kartini, dan kursi putar putih. Keduanya menghadap ke penonton. Latar belakang adalah dinding kamar berwarna putih dengan gambar gambar RA Kartini ukuran A3. Di awal cerita akan ditambahkan sebuah cermin ukiran dari Jepara. Terbuat dari bingkai kayu berukir dengan cermin yang dapat membuka dan menutup, untuk tempat keluar masuk Kartini dari belakang panggung.

Bagian kiri, 2 kali lipat luasnya daripada kamar Kartika. Sebuah ruang kelas dengan bangku bangku kayu, papan tulis dan meja guru. Latar belakang dinding kelas bercat biru muda dengan jendela jendela besar dan gambar gambar pahlawan. Terdapat pintu di salah satu sisi dinding samping yang menghubungkan ke belakang panggung.

ADEGAN 1

Narator : (Mengutip salah satu penggalan surat Kartini yang tidak dipublikasikan. Diiringi suara dentingan gitar, pelan)

Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru.

Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin kuat makin teguh.

Kamar Kartika

Kartika             : (memakai piyama, sedang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang disusun oleh Armijn Pane, di meja belajar. Airmuka serius, lampu duduk menyala.)

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan suara panggilan untuk Kartika.

Bu Sartika        : Kartika? Kartika?! Buka pintunya! Hari masihlah sore, gemarkah kau  untuk tidur? Bukalah! Lekas!

Kartika             : Menghela napas panjang, kemudian menutup bukunya dan bangkit untuk membuka pintu.

Bu Sartika        : Astaga! Sesore ini kau sudah siap berpiyama? Bisakah kau tidak bermalas malasan saja? (Menatap Kartika tak percaya, tangannya membawa tas tangan kecil. Dibelakangnya 2 orang pesuruh menggotong sebuah benda setinggi 2 meter  berbungkus kertas cokelat.)

Kartika             : Ma, Kartika sedang baca buku, bukan sedang tidur. (Bela Kartika pelan, sambil mengangkat buku Habis Gelap Terbitlah Terang)

Bu Sartika        : Oh terserahlah, kau pasti membaca buku cerita. Itu sama saja dengan tidur. Sia-sia belaka. Pak, bawa masuk kesini (masuk ke dalam dan menunjuk dinding) Letakkan disini saja, ya bagus, kalian bisa keluar. Terimakasih.

Setelah 2 pesuruh tersebut keluar

Kartika             : Apa ini Ma? (Menghampiri benda tinggi bungkusan cokelat tersebut, penasaran)

Bu Sartika        : (Duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu hak tingginya) Mama bawakan oleh oleh untukmu. Bukalah, kau pasti suka. Itu dari Jepara. Asli! (Tersenyum sambil menunjuk bungkusan tersebut pada Kartika.)

Kartika             : lukisan RA Kartini, Ma?! (segera menyobek bungkusan tersebut dengan bersemangat).

Sartika             : Bukan, itu lebih bermanfaat buatmu.

Kartika             : (Tertegun mendapati sebuah bingkai kayu jati. Selebar setengah meter dan setinggi 2 meter. Sekeliling tepinya penuh dengan ukir ukiran berbentuk sulur sulur. Kaki cermin juga berukir berbentuk bonggol akar yang kokoh. Warna bingkai cokelat tua berpelitur mengkilat.)

Sartika             : Kenapa? Kau tak suka cermin itu?

Kartika             : Buat apa Ma? Tika rasa cermin ini terlalu besar untuk kamar ini. (berkata lirih sambil melirik bingkai kayu tersebut tanpa minat) Oh ya! (serunya mendadak) Kartika sedang baca buku RA Kartini, Ma… bagus sekali ceritanya. Mama mau baca? (menyodorkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan wajah berseri)

Bu Sartika        : Tika! Berhentilah baca buku buku konyol seperti ini! Sekarang bukan saatnya kau mengenang jasa Kartini. Tapi manfaatkanlah jasanya sebaik mungkin. Mana prestasi yang dapat kau berikan buat Mama? Kerjakan tugasmu dan belajarlah yang tekun. Harusnya kau bersyukur emansipasi menjadikanmu pelajar sampai sekarang dan mama seorang manager perusahaan besar.” (berucap lantang)

Kartika             :  Mama sama sekali tak berminat baca ini? (masih menyodorkan buku tersebut)

Sartika             : Ya.. ya..ya.. Mama akan baca jika mama sudah pulang dari dinas ke Bandung 2 minggu ini. Oke?

Kartika             : Tapi Mama kan baru saja pulang dari Semarang? (meletakkan buku itu kembali ke meja belajar)

Bu Sartika        : Mama mendadak ditugaskan atasan untuk mengurusi proyek yang baru. Sudahlah, mama capek. Mama hendak istirahat (bangkit, sambil menguap) Oh ya, cermin itu gunakan baik baik. Kau harus banyak merias diri, berlatih berbicara di depan umum dan menjadi seorang gadis teladan yang menyenangkan.

Kartika             : Maksud Mama?

Bu Sartika : Bulan depan ada pesta peresmian kantor baru Mama. Kau harus ikut, mama ingin mengenalkanmu dengan anak kolega mama. Malam Sayang.. (mengecup kening Kartika lalu beranjak keluar)

ADEGAN 2

Pagi hari. Sebuah kelas dengan bangku bangku yang masih kosong dan beberapa bungkus bekas jajan berserakan. Seorang pemuda tampan sedang duduk di meja guru smbil mendengarkan sebuah lagu dari Ipod. Seorang pemuda sederhana membawa sapu menghampirinya.

Resnaga           : Malvin, hari ini piketmu. (menyodorkan sapu)

Malvin : (Acuh, Kepalanya bergoyang goyang menikmati lagu)

Resnaga           : Malvin, hari ini piketmu! (berteriak lebih nyaring)

Malvin              : (Masih tetap acuh. Bahkan lebih keras menggoyang goyangkan kepalanya)

Kartika             : Biar aku saja, mana sapunya? (tiba-tiba muncul dari balik pintu)

Resnaga           : Mengapa kau begitu baik hati? Malvin tak pernah piket, kau tahu? (protes, agak keras menunjuk Malvin. Sedangkan Malvin melepas earphone)

Kartika             : Karena aku.. aku… (gugup, terbata-bata saat melihat Malvin menatapnya tajam)

Friska               : Karena dia memang seorang pembantu! Ha.. ha.. ha.. (tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan suara yang nyaring. Dibelakang, Lena dan Windi mengikutiku sambil terkikik)

Windi               : Oh, sungguh malang.. udah kuper, culun, kacamata pantat botol, pembokat lagi! Hi..hi..hi..

Lena                 : Nih, sekalian ngepel lantai! (melempar kain lap yang ada di salah satu bangku)

Resanaga          : Kalian jangan seenaknya pada Kartika. (merebut sapu dari tangan Kartika) Malvin, piketlah! Apa kau tak malu kewajibanmu diambil alih Kartika?

Malvin              : Bah! Aku laki-laki. Menjijikkan sekali aku harus menyapu. Itu memang tugas perempuan! (Melempar sapu ke lantai) Ayo kita pergi! (menggandeng Friska, keluar diikuti Lena dan Windi yang menyibir ke arah Resnaga dan Kartika)

Resnaga           : (Mendesah panjang, menatap Kartika dengan iba) Aku tak habis pikir. Mengapa kau selalu mengerjakan tugas tugas Malvin dengan ringan tangan?

Kartika             : (terdiam beberapa saat) Res, apa kau tak pernah mendengar cinta itu butuh pengorbanan? (berujar pelan kemudian beranjak pergi)

Resanaga          : (Mengambil sapu, dan menyapu perlahan) Aku telah lama berkorban untukmu Kartika… Hanya saja kau tak pernah tahu. (bergumam lirih)

ADEGAN 3

Sore hari, Kamar Kartika…

Kartika masuk ke dalam kamar, masih mengenakan seragam sekolah. Menghampiri meja untuk meletakkan tas dan bukunya. Kemudian berjalan menghampiri cermin Jepara.

Kartika             : Indah nian kau cermin.. wahai benda antik dari Jepara. (mengelus ukir ukiran di tepian cermin, perlahan) Kau ingatkanku pada Ibu Kartini.. andaikan kau adalah penghubung masa ini ke masa lalu, akan kutemui Ibu Kartini.. akan kuceritakan semua jasanya telah mengubah zaman dan nasib perempuan. Namun aku masih terkukung disini.. layaknya Ibu kita dipingit dan tak kuasa menanggung senyap… (bernada sedih, meratap) Oh, betapa sunyinya hidupku. Tak pernah dicinta dan Malvin tak pernah menoleh padaku, haruskah aku mengubah diriku menjadi gadis gadis seperti geng Parfume? Andaikan, Ibu Kartini kemari… mungkin aku akan menjadi gadis paling beruntung di dunia.

Tiba-tiba lampu kamar padam, cahaya merah berkerlap kerlip, terdengar suara desauan angin.

Kartika : (tersentak kaget) Oh, ada apakah ini? (ketakutan, berlari naik ke atas ranjang)

Sesosok wanita muncul dari bingkai cermin Jepara, melangkah keluar. Menghampiri ranjang. Lampu kembali menyala terang dan suasana kembali normal.

Kartini              : Nduk, tenanglah… iki ibumu. (tersenyum lembut)

Kartika             : Siapa kau?! (semakin duduk menyudut di ranjang, memeluk kedua lututnya. Wajahnya luar biasa ketakutan)

Kartini              : Aku Kartini. Aku yang selama ini kau tuturkan di lembaran lembaran kertas buku harianmu. Aku yang selama ini kau rayakan setiap tanggal 21 April, sama dengan hari lahirmu juga kan, Nduk?

Kartika             : (Mulai tenang, mengendurkan pelukan lututnya.) Kau Kartini? Raden Ajeng Kartini? Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu aku?

Kartini : (Tersenyum lebih ramah) Ya, aku Raden Ajeng Kartini. Namun, apalah arti sebuah status ningrat jika Raden Ajeng harus hidup di penjara sangkar emas? Dikelilingi 4 tembok serasa kebebasan adalah kebahagiaan terbesar.

Kartika             : Bagaimana Ibu bisa datang kemari? Sudikah ibu bersahabat dengan gadis memalukan seperti saya ini?

Kartini              : Oh, Nduk… tiada boleh kau berkata seperti itu.

Ingin benar hatiku berkenalan dengan seorang anak gadis modern, gadis yang berani, yang sanggup tegak sendiri, gadis yang aku sukai dengan hati jantungku. Anak gadis yang melalui jalan hidupnya dengan langkah tangkas, yang berdaya upaya bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk bangsa… Ibu datang dari jauh untuk mendengarkan segala kegundahan hatimu. Anggaplah aku sahabat penamu yang akhirnya berkunjung menengok seperti tatkala aku bersua dengan Nyonya Abendanon.

Kartika             : (Menghambur, memeluk Kartini, terisak isak) Ibu…! Kartika rindu sekali pada Ibu. Setiap malam Kartika diam diam membaca buku tentang Ibu. Berhati hati kalau Mama sampai menangkap basah Kartika, dan membuang segala yang Kartika koleksi tentang Ibu.

Kartini              : Sshh… (membelai rambut Kartika) Yakini, ibu juga merindukan sosok gadis berhati suci sepertimu. Tidurlah, besok kau sekolah bukan? Betapa beruntungnya dirimu yang hidup di dunia pencinta kebebasan. Bukankah begitu, Nduk?

Kartika             : (Mengangguk lemah) Ibu benar. Emansipasi menghapus diskriminasi untuk golongan kita. Dan ibu pasti senang melihat jasa ibu terlampau besar untuk Indonesia.

Kartini              : Aku tahu jalan yang hendak aku tempuh itu sukar, banyak duri dan onaknya dan lubang lubangnya. Jalan itu berbatu batu, berlekuk-lekuk, licin, jalan itu.. belum dirintis! Dan biarpun aku tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan merasa bahagia, karena jalannya kini telah terbuka lebar.

ADEGAN 4

Sebuah kelas, terdengar suara gaduh dari 3 orang siswi. Friska, Lena, dan Windi.

Friska               : (Duduk di meja, airmuka cerah) Oh, kemarin malam adalah pesta terkeren sepanjang hidupku. Seperti mandi keringat aku ikut dugem di dancefloor. 4 kali aku bolak balik ganti pasangan. Sungguh menyenangkan!

Wndi                : Iya, tentu saja kau bolak balik ganti pasangan.. bukankah kita bertiga sungguh seksi tadi malam?

Friska               : Ya jelaslah. Apalagi kau kemarin mabuk berat Windi. Hei, tidak ingatkah kau? Kemarin kau membuka setengah bajumu dan bergoyang sungguh panas!

Windi               : Oh ya?!(Memekik girang) bagaimana reaksi cowok cowok itu?

Lena                 : Wow! Mata mereka seketika hijau! Dan langsung teler melihatmu!

Friska               : Air liur mereka sampai menetes di gelas cocktail.

Friska, Lena, Windi :tertawa bersama, nyaring. Kartika muncul dari balik pintu, tangannya mendekap tumpukan buku.

Lena                 : Hai, kau! Kesini…. Cepat! (menunjuk Kartika, tawa mereka menghilang. Wajah wajah centil berubah menjadi beringas)

Kartika berjalan menunduk, ketakutan.

Friska               : Jalan lelet amat! Rupanya hendak bersaing dengan kura-kura! Darimana saja kau, Kuper?! (Membentak)

Kartika             : (Tergagap) Da.. da.. ri.. P..per pustakaan

Lena                 : Hei! Ngomong yang tegas! (menepuk pipi Kartika)

Windi               : Iya nih, berminat ya jadi gadis sok bisu? Udah kuper, siapa yang mau repot repot melirikmu? Apalagi.. hi..hi..hi.. lihat deh, apa bawaannya?

Friska               : (meloncat turun dari meja, berdiri dan segera merebut buku buku yang didekap Kartika) Ya ampun! Hari gini… nggak salah baca, kau? Kartini? Memang masih zaman? Hm… (membaca satu persatu judul buku buku) ada RA Kartini, Kartini Sebuah Biografi, dan.. astaga! Judul jadul banget nih, Habis Gelap Terbitlah Terang. Eh, pernah dengar nggak kalian? (menoleh ke Windi dan Lena yang menggelengkan kepala bersamaan sambil mencibir)

Windi               : Yang aku tahu sih adanya Habis gelap total terbitlah tagihan PLN, belum bayar listrik kaleee…

Friska dan Lena: (tertawa terbahak, bersamaan) Ha.. ha.. ha

Kartika             : (Berusaha merebut buku yang dipegang Friska) Kembalikan! Kembalikan.. buku itu!

Friska               : Oh, Dear… Len, tahan dia! (memerintah keras. Segera Lena mengunci kedua lengan Kartika ke belakang punggungnya) Coba kita baca sekilas buku macam apa ini, Sobat. (Berdehem, dengan mimik sok serius, membuka salah satu halaman buku RA Kartini karangan Tashadi) Denger ya, salah satu kutipan surat Ibu kita tercinta “Selama ini hanya satu saja jalan terbuka bagi gadis Bumiputera akan menempuh hidup, ialah kawin.”

Friska, Lena, dan Windi            : Tertawa tergelak.

Lena                 : Hari gini.. kawin? Emang Siti Nurbaya?

Windi               : Wah, wah, wah pantas saja kau jadi anak kuper.. bacaanmu masih seputar zaman tempoe doeloe… parah!

Friska               : Oke, sebagai teman yang baik bagaimana kalo kami membantumu sembuh dari ke-kuper-an? (tanpa menunggu jawaban dari Kartika yang sibuk melepaskan diri dari cengkeraman Lena, kini Friska merobek buku tersebut)

Kraak… Kraak.. Kraak.. Segera lembaran buku Kartini berserakan di lantai kelas. Kemudian dengan bernafsu Friska dan Windi menginjak injaknya.

Kartika             : Kumohon hentikan…! Jangan disobek! Kumohon… (Kartika berontak kemudian Lena mengendorkan cengkeramannya. Seketika Kartika menyerang Friska untuk menghentikannya)

Friska               : Nih, kita nggak butuh baca ginian! (melempar buku buku Kartini ke lantai dan segera menginjaknya juga)

Kartika menunduk dan melindungi buku buku tersebut. Berkali kali Friska dan kedua teman temannya menendang Kartika.

Lena                 : Rasakan! (menendang keras) Dasar penyembah buku!

Malvin muncul dari balik pintu, menggeleng gelengkan kepala melihat Geng Parfume sedang menyiksa Kartika.

Malvin : Sudah hentikan Friska, Lena, Windi! (seru Malvin agak keras)

Friska               : Tapi Babe, anak ini rese’ sekali tadi, Huh! Masa’ aku sama anak anak tidak dicontekin pas ulangan Fisika? (menghentikan acara menyiksa lalu menghampiri Malvin dan mengeluh manja)

Malvin              : Salah kalian sendiri tidak belajar. Sekarang berhentilah main mainnya, katanya kita mau jalan-jalan?

Friska               : (mengangguk dan tersenyum manis) Ayo, kita tinggalkan dia!

Setelah keempat murid tadi pergi keluar dari kelas, Resnaga muncul dan keheranan melihat Kartika sedang memunguti sobekan kertas dan berusaha menyusunnya.

Resnaga           : Kartika? Kok belum pulang?

Kartika             : (Menoleh ke asal suara, memaksakan senyum) Oh, kau.. Res. Iya, aku habis dari perpus.

Resanaga          : Kau sedang apa? Hei, apa yang terjadi? (Menghampiri Kartika dan membantu memunguti buku buku yang berserakan)

Kartika             : Aku sedang melindungi harta bangsa. Sisa sisa pengabdian ibu kita.

Resnaga           : Ibu kita? Siapa?

Kartika             : (terbelalak, menatap Resnaga tak percaya) Tak tahukah kau? Raden Ajeng Kartini! Beliau Ibu kita semua bukan? Beliau sungguh baik hati. Beliau sangat keibuaan, belaiannya sangat lembut… ah, aku masih bisa merasakannya. (menyentuh rambutnya) Hm, kira-kira sekarang Ibu sedang apa ya?

Resnaga           : Kartika, kau baik baik saja kan? (menyentuh kening Kartika dengan lembut)

Kartika             : Apa maksudmu?! (menepis tangan Resnaga dengan kasar)

Resnaga           : Aku mengkhawatirkanmu. Lagipula… bukankah Kartini sudah tiada? Bagaimana bisa kau merasa belaiannya?

Kartika             :  Beliau masih hidup kok! Beliau sengaja datang dari jauh untuk menemaniku. Ah, sudahlah. Pasti kau tak kan percaya. Lebih baik aku pulang saja. Sampai jumpa. (Berdiri, memasukkan buku buku ke dalam tas dan kemudian beranjak pergi)

ADEGAN 5

Sore hari, kamar Kartika

Bu Sartika        : (Berdiri mondar mandir sambil sesekali menengok jam tangan yang melingkar di lengan kirinya) Oh, hari sudah sore. Kartika tak kunjung pulang, kemana saja anak itu? Tak tahukah dia kalau hari ini Keluarga Gana akan berkunjung kemari?

(tiba-tiba perhatiannya tertarik pada sebuah buku agenda bersampul merah di atas meja belajar) Diary? Kartika menulis Diary? Hm… boleh juga. Aku penasaran dengan isinya. (Duduk, dan mulai membaca buku agenda tersebut)

Tiba-tiba Kartika muncul dari balik pintu.

Kartika             : Mama? (melirik buku agenda yang langsung dikembalikan mamanya di atas meja) Mama baca diary-ku?! (agak keras)

Bu Sartika        : Iya. Apa tidak boleh? Kau adalah anak Mama. Urusan pribadimu otomatis urusan Mama juga.

Kartika             : Tapi Ma…

Bu Sartika        : Tapi apa? Mama tahu kamu sekarang sedang menyukai teman kelasmu. Siapa Malvin itu?

Kartika             : (Terdiam, menunduk)

Bu Sartika        : Dengarkan Mama Kartika. Kau harus jatuh cinta pada lelaki yang tepat! Jangan sampai kau mendapat lelaki brengsek seperti papamu. Turuti saja pilihan Mama. Kau pasti suka. Sekarang lekaslah mandi dan berdandan yang cantik. Keluarga Gana akan datang dan makan malam bersama kita.

Kartika             : (Mendongak) Siapa mereka Ma?

Bu Sartika        : Tentu saja calon keluarga barumu! (Keluar dari kamar Kartika)

Kartika             : (Terduduk lemas di ranjangnya. Memeluk buku RA Kartini. Mulai terisak sedih)

Tiba-tiba Kartini keluar dari bingkai cermin Jepara. Kemudian berjalan menghampiri Kartika, duduk di sampingnya dan membelai rambut Kartika dengan lembut.

Kartini              : Anakku, ceritakanlah semuanya pada Ibu, agar lapang dadamu.

Kartika             : Hiks… Ibu… saya hendak dijodohkan hiks.. oleh Mama saya. Saya nggak mau. Saya mencintai pemuda lain. (terisak semakin keras)

Kartini              :  Cinta, apakah yang kau ketahui tentang perkara cinta itu? Betapa kau akan mungkin sayang akan seorang laki laki dan seorang laki laki kasih akan kau, kalau kau tiada berkenalan bahkan yang seorang tiada boleh melihat yang lain? Aku berkehendak bebas, supaya aku boleh dapat berdiri sendiri, jangan bergantung kepada orang lain, supaya jangan… jangan sekali kali dipaksa kawin!

Kartika             : Ibu, mengapa hidup saya sangatlah sengsara? Saya tak pernah bahagia tak terkira terkeculai bertemu dengan ibu. Hanya ibu yang mengerti hati saya. Maafkan saya Bu, tidak bisa melindungi buku buku tentang ibu. Teman teman kelas saya menyobeknya tadi siang dan mereka selalu menyiksa saya.

Kartini              : Aduh, Tuhan, ya Tuhan! Sedih hati melihat kejahatan sebanyak ini di sekeliling diri, sedang diri tiada berdaya akan menjauhkannya! Sabar ya Nduk…

ADEGAN 6

Di kelas, suatu siang…

Malvin dan Friska tampak bermesra-mesraan di kelas yang kosong. Mereka saling menggoda, dan tertawa. Kemudian Friska bergelayut manja pada Malvin. Mereka berdua berpegangan tangan. Dari arah pintu, Kartini berjalan cepat sambil menunduk. Ia terperangah melihat pemandangan tak pantas di kelas. Seketika buku buku yang didekapnya jatuh berdebam ke lantai.

Malvin              : Oh kau Tik, aku kira guru. (refleks melepas genggaman tangannya dengan Friska)

Friska               : Hei, kuper! Ngapain kesini? Ganggu orang pacaran saja! (membentak dengan keras)

Kartika             : Ma.. maaf.. aku.. nggak tahu kalau kalian..

Friska               : Nggak tahu apa? Bilang saja iri! (Berkacak pinggang kemudian bangkit berjalan menghampiri Kartika)

Windi dan Lena masuk ke dalam kelas.

Lena                 : Apa ini? (Memungut buku agenda yang terjatuh bersama buku buku yang lain)

Kartika menoleh, terkejut.

Lena                 : Lihat! Ck.. ck.. ck.. tak kusangka! (Menunjukkan sebuah halaman dari agenda tersebut ke teman temannya. Sebuah tulisan dengan huruf besar besar berbunyi AKU CINTA MALVIN)

Friska               : (Mendelik marah) Kau cinta Malvin? Kau menyukai cowokku? Bisa-bisanya kau… Plak! (menampar Kartika dengan keras)

Malvin menghampiri mereka berdua. Kemudian mengambil alih agenda yang dipegang Lena dan tertawa terbahak bahak.

Malvin              : Wah wah wah, aku tak menyangka tipe cowokmu seperti aku Tika. Kiranya seperti Resnaga yang culun.

Lena, Windi dan Friska : (Ikut tertawa keras)

Malvin              : Kartika.. Kartika.. bercerminlah dulu sebelum kau menyukai seseorang! Kau itu SANGAT TIDAK PANTAS buatku yang kaya, tampan dan idola semua cewek! Maaf Kartika… lebih baik kau berhenti menulis namaku di diarymu, buang buang kertas saja. (Menghmapiri Lena dan meraih agenda tersebut. Dibolak baliknya dengan antusias)

Windi               : Iya, kau itu seperti pungguk merindukan bulan!

Lena                 : Bukan, tapi seperti langit dan bumi!

Friska               : Eh, salah lagi. Lebih mirip Kutu dan pangeran!

Malvin dan geng Parfume: (tertawa sangat keras)

Malvin :  Dasar gadis lugu. Ayo kita pergi! (Merangkul Friska yang tertesenyum sinis pada Kartika yang sedari tadi menunduk)

Lena dan Windi pun beranjak keluar mengikuti mereka.

ADEGAN 7

Kamar Kartika

Kartini  : (Berjalan mondar mandir, bergumam sendiri) Oh, anakku yang malang… aku tahu semua perbuatan keji yang dilakukan mereka! Seperti Belanda menjajah anak pribumi. Namun, pantaskah saudara menjajah saudara sendiri? Tiada satu pun jua yang boleh menyakiti Kartika.

Kartika              : (Muncul dari balik pintu) Aku pulang…

Kartini  : Masuklah Nduk. Ssh.. jangan berkata apa pun. Ibu tahu perasaanmu.

Kartika            : Bagaimana Ibu bisa tahu?

Kartini              : Apa kau lupa dengan tujuan ibu kemari? Setiap hari aku melihat lihat dunia masa sekarang yang sangat pesat peradabannya. Namun, aku iba hati ini tatkala aku menjumpai berbagai macam perempuan seperti mereka. Karena bukan barang yang indah indah saja yang menjadi terlihat olehku.

Kartini : Maksud ibu? Perempuan yang seperti apa?

Kartini              : (Menghela napas panjang sambil duduk di kursi) Apalah artinya perjuangan ibu selama ini? Emansifatie yang mendarah daging telah disalahgunakan.

Kratika             : (Duduk di tepi ranjang) Maksud Ibu? Kartika semakin tak mengerti. Jasa Ibu sungguhlah besar.

Kartini              : Namun mereka tak tahu bagaimana mengamalkannya! Ibu tak kan berjuang jika akhirnya mengetahui betapa mengerikan sikap perempuan masa ini. Mereka berjalan dengan busana ala kadarnya, seperti memang lebih mengasyikkan tuk telanjanng. Emansipasi juga telah mengubah mereka untuk terus mengejar pekerjaan dan menyiakan suami dan anak anak mereka. Pantaskah perempuan seperti itu? Mereka tiada boleh melupakan sama sekali adat dan norma. Oh, namun betapa memalukan mereka berjalan, bernapas, bertingkah layaknya peerempuan binal tak punya urat kemaluan! (suaranya sangat lantas dan penuh emosi)

Kartika             : Oh, ibu. Sungguh besar derita dan bebanmu. Namun, masih banyak perempuan di bumi Indonesia yang mempunyai akhlak mulia seperti Ibu.

Kartini : Ya, kau benar Anakku. Alangkah susahnya dan sedihnya akan patah rasanya hidupku. Jika semua yang kutuangkan dalam ratusan lembar surat dinodai oleh tinta yang lebih pekat. Namun aku tahu, diliteran tinta kami masih memiliki asa. Dan kau pikul cita citaku selanjutnya, kau emban dan kau simpan dalam sanubari terdalam. Engkau jiwa yang suci Nduk.. jangan sampai ternoda.

Kartika             : Ah, aku hanyalah gadis lemah, rapuh dan tak berdaya. Sia sia saja aku, jika orang yang kukasihi pun mengolokku.

Kartini              : Hapus airmatamu, sudah saatnya kau hapus noda yang mengotori halaman halaman kisah hidupmu.

ADEGAN 8

Sore hari, Ruang kelas yang kosong…

Windi               : (Berdiri membelakangi pintu masuk. Menelepon seseorang dengan suara yang sangat manja dan centil) Iya.. Sayang… aku habis ini tunggu kau di depan gerbang sekolah ya? Jangan ngaret lho! Awas! Nanti kita booking tempat yang biasanya saja. Iya, ngerti nggak sih maksudku? Aku lagi bokek nih, Om..

Tiba-tiba sosok hitam masuk ke dalam kelas. Sosok tersebut memakai jubah hitam panjang dan tudung yang melindungi wajahnya. Tangan kanannya memegang sebuah pisau tajam.

Windi               : Oke deh Sayang… sampai ketemu nanti (menutup pembicaraan, berbalik dan seketika berteriak tertahan)

Windi jatuh tersungkur di lantai kelas dengan darah membanjir dari perutnya.

ADEGAN 9

Kamar Kartika

Bu Sartika        : (Geleng geleng kepala sambil mengecek thermometer) Astaga Kartika! Badanmu panas sekali! Kau harus banyak beristirahat. Jangan baca buku buku cerita lagi. Pasti kau kecapekan.

Kartika             : (Membisu di balik selimut tebal)

Bu Sratika        : Kau harus makan yang banyak. Nanti Mama pesankan bubur ayam kalau lewat depan rumah.

Kartika             : (Masih membisu. Tangannya mendekap erat diary dan gambar RA Kartini)

Bu Sartika        : Oke, terserah kau saja. Ibu capek melihatmu akhir akhir ini seperti kehilangan gairah hidup. Tapi Ibu tak bisa menungguimu lebih lama. Ada meeting di kantor hari ini. Jadi, kalau ada apa apa kau hubungi Mama lewat telepon saja.

Kartika             : (Masih membisu. Tatapan matanya kosong ke depan)

Bu Sartika        : Sampai jumpa nanti malam Sayang… (mengecup dahi Kartika kemudian keluar)

ADEGAN 10

Pagi hari, Sebuah kelas yang kosong..

Masih sosok yang sama, memakai jubah hitam dan tudung. Duduk di salah satu bangku sambil menunduk. Beberapa saat kemudian Lena dan Friska masuk ke dalam kelas. Langkah mereka terhenti ketika menjumpai sosok berkerudung hitam duduk tak bergerak.

Friska               : Siapa kau?! (Berteriak nyaring, air mukanya mendadak berubah ketakutan)

Sosok itu masih tidak bergerak.

Lena                 : Fris.. apa jangan-jangan… Dia yang ngebunuh Windi? (Dengan nada takut bercampur ragu)

Friska               : Aku nggak tahu. Hei, jawab! Kau tuli ya? Kau siapa? Jangan bercanda! Ini nggak lucu!

Masih tak ada reaksi.

Lena                 : Oke, sebentar Fris.. jangan jangan dia orang gila yang ketiduran di kelas. Aku akan buka kerudungnya (Hendak berjalan menghampiri sosok tak bergerak tersebut)

Friska               : (Menahan lengan Lena) Jangan Len! Aku takut! Lebih baik kita lapor guru atau kepala sekolah.

Lena                 : Ya ampun Friska.. gini aja takut. Kau lupa aku sudah pegang sabuk hitam?

Friska               : Tapi… (ragu-ragu, airmukanya masih sangat cemas)

Lena                 : Sudah, diamlah disini.. (Lena berjalan dengan penuh waspada,  semakin mendekat ke sosok tersebut)

Lena sudah berdiri di depan bangku dimana sosok itu duduk tak bergerak. Tangannya terjulur hendak membuka tudung kepala sosok tersebuk. Namun, secepat kilat sosok itu bergerak, bangkit dan langsung menusukkan pisau yang sedari tadi dipegangnya di balik jubah,  ke perut Lena.

Friska               : AAAAAAAA…! (Memekik nyaring dan segera berlari keluar kelas)

ADEGAN 11

Kamar Kartika

Kartika masih sakit. Ia setengah berbaring di ranjang. Menulis sesuatu di agendanya.

Pintu membuka, Kartini masuk ke dalam kamar dan tersenyum melihat Kartika.

Kartika             : (Menoleh, kemudian membalas tersenyum, lemah) Ibu darimana saja?

Kartini              : Tidak begitu penting. Hanya menghapus noda. (Berjalan menghampiri Kartika dan memegang keningnya dengan lembut)

Kartika             : Itu apa? (Menunjuk bungkusan tas plastik hitam yang dibawa Kartini)

Kratini              : Oh, ini… tidak penting kok. Bagaimana keadaanmu Nduk? Mau ibu buatkan wedang jahe? Atau bubur? (sambil memasukkan bungkusan itu ke kolong ranjang.

Kartika             : Nggak perlu Bu. Saya sudah agak mendingan. Mungkin besok saya sudah diijinkan Mama masuk sekolah. Mmm.. Ibu terlihat letih. Ibu mau tidur di samping saya?

Kartini : (Mengangguk kalem) Ya, ibu sangat lelah. Bolehkah ibu tidur dekat dinding? Rasanya pasti dingin.

Kartika             : Tentu saja, dengan senang hati (bernada cerai, langsung bangkit menggati posisi tidurnya).

Kartini naik ke ranjang dan langsung tertidur lelap. Sedang Kartika masih sibuk menulis diary sambil sesekali memandang Kartini. Tiba-tiba penanya terjatuh ke lantai. Kartika bergegas turun dari ranjang, hendak memungut penanya. Namun, perhatian sejenak teralih saaat melihat bungkusan hitam milik Kartini. Dengan hati hati ditariknya keluar bungkusan tersebut dari kolong ranjang.

Kartika             : Hm.. apa yah ini? Ibu Kartini kemana saja sih seharian ini? Tumben juga bawa oleh oleh… (Membuka tas plastik tersebut. Ia menemukan jubah hitam dan sebilah pisau berlumuran darah. Kartika memegang benda benda tersebut dengan airmuka ketakutan. Ia bolak balik memandang Kartini yang masih tertidur membelakanginya ke benda benda tersebut) Untuk apa jubah dan pisau? Lantas ini darah siapa?

ADEGAN 12

Kelas

Tampak Malvin sedang menemani Friska yang sedang bercerita dengan ekspresi sedih. Resnaga duduk di sudut sedang menulis sesuatu.

Friska               : Windi dan Lena adalah sahabat sahabat terbaikku Vin. Aku nggak rela kalau kehilangan mereka. Apa salah mereka? Apa maksud pembunuh itu?

Malvin              : Tenanglah Fris.. masih ada aku kok. Setidaknya kau belum kehilangan Lena. Dia masih di rumah sakit. Aku juga nggak tahu salah mereka apa.

Friska               : Aku takut kalau… kalau… kalau  habis ini giliranku yang dibunuh.

Malvin              : Sst… jangan berkata begitu, sekarang kau aman kok. Sekolah sudah dijaga ketat oleh polisi.

Kartika masuk ke dalam kelas.

Kartika             : Pagi… (menyapa dengan pelan, datang dan keheranan melihat wajah wajah duka di kelas)

Malvin dan Friska bangkit dari duduk tanpa berkata apa pun pada Kartika mereka keluar.

Resnaga           : Tika, kau sakit apa? (Segera menghampiri Kartika, cemas)

Kartika             : Cuma demam biasa kok. Ada apaan sih? Kenapa anak anak mendadak aneh. Wajah mereka seperti penuh ketakutan dan kesedihan. (Meletakkan ranselnya dan duduk)

Resnaga           : Sekolah ini diteror. Ada 2 kasus pembunuhan selama 2 hari ini.

Kartika             : Pembunuhan?! Bagaimana bisa? (terbelalak kaget)

Resnaga           : Tika, Windi telah meninggal dengan sangat tragis. Dia ditusuk di kelas. Kemarin Lena dan Friska juga hendak dibunuh. Tapi, hanya Lena saja yang berhasil ditusuk. Keadaannya sekarang kritis di rumah sakit. Diperkirakan pembunuh keduanya sama.

Kartika             : Lantas siapa pembunuhnya?

Resnaga           : Entahlah. Polisi masih menyelidiki teror ini. Polisi hanya dapat keterangan dari Friska bahwa pembunuh itu memakai jubah daan tudung hitam. Wajahnya tak tampak. Dia membawa sebilah pisau.

Kartika             : Jubah hitam? Pisau, katamu? (Terdiam sejenak) Tidak… ini tidak mungkin.. (Menggelengkan kepala dengan tak percaya)

Resanaga          : Ada apa Kartika? Kau mengenal pembunuhnya? Kau tahu? Siapa?

Kartika             : Res… pembunuhnya.. pembunuhnya adalah Ibu Kartini. Aku harus menemuinya sekarang! (berdiri dan berlari dengan tergesa keluar kelas)

Resnaga           : Tik, tunggu! TIK! (Berteriak sambil mengacungkan Map Folder yang tertinggal di meja) Ada apa dengan anak itu? Akhir akhir ini dia tampak aneh. (Bergumam sendiri sambil membuka folder tersebut. Di dalamnya ada agenda milik Kartik) Hm, Diary Kartika. Kira-kira dia marah nggak yah kalau aku baca isinya? (Membuka diary tersebut. Kemudian ia menemukan sebuah kertas lecek yang terselip di salah satu halaman. Dahinya mengerut serius tatkala membacanya) Target Pembunuhan? (membaca judul di kertas tersebut)

ADEGAN 13

Siang hari, Kamar Kartika

Kartika             : Ibu, jujurlah padaku!

Kartini : Maksud Nduk Kartika? Ibu tak paham. (duduk di tepi ranjang. Airmukanya sangat kalem)

Kartika             : Apa… apa ibu yang membunuh teman temanku?

Kartini              : Temanmu? Teman siapa? Sejauh ini hanya ibulah temanmu Nduk..

Kartika             : Teman sekelas Tika Bu, Windi dan Lena!

Kartini              : (Tertawa dingin, melipat tangannya. Suara berubah dingin) Apa mereka bisa disebut teman? Setiap bertemu mereka menganiayamu, menyiksamu… tak tahukah kau ibu sangat menyayangimu, Nduk?

Kartika             : Jadi.. benar? Ibu adalah sosok berjubah hitam itu?! (berkata lirih tak percaya)

Kartini : Ya, aku memang yang merencanakan semuanya. Target pembunuhan selanjutnya Friska.

Kartika             : Tidak… tidak mungkin! (menggelengkan kepala kuat kuat)

Kartini              : Aku pembunuh! Kita pembunuh kaum perusak emansipasi!

Kartika             : NGGAK! Kartini yang aku kenal bukan seorang pembunuh! Kau bukan Ibu Kartini! Kartini tak kan mungkin membunuh.

Kartini              : Apa yang kau bicarakan? Aku Kartini! Aku melindungi dirimu dari apa pun yang kau benci!

Kartika             : Kau jahat! Pergi dari sini! Kembalilah ke duniamu! (Mendorong Kartini ke bingkai cermin)

Kartini              : (Tidak berusaha melawan) Terserah, kau akan menyesal Nduk… karena telah mengusirku. Api yang membersihkan api. Api itu juga yang menghancurkan kayu menjadi abu! Camkan itu! (menghilang dari balik cermin)

ADEGAN 14

Ruang Kelas…

Friska sedang duduk terdiam, wajahnya pucat dan sayu. Ketika Kartika muncul ia segera menegakkan badannya. Kartika datang dengan wajah tampak ekspresi. Ia menutup pintu kelas dan menguncinya.

Friska               : Ada urusan apa kau kesini? Enyahlah Kuper, aku sedang tak berselera mengolok olokmu!

Kartika             : Aku ingin memberimu hadiah yang paling indah… (Tersenyum dingin menghampiri Friska)

Friska               : Hadiah? (Tiba-tiba melihat pisau yang digenggam erat Kartika. Ia terbelalak) Kau mau membunuhku?!

Kartika             : Kalau iya, lantas kenapa? Kemarin kau lari, sekarang kau tak kan bisa lari lagi Friska cantik… (Berjalan semakin mendekat)

Friska               : (Berdiri merapat ke tembok) Jadi, kaulah sosok jubah hitam kemarin? Kau yang membunuh Windi kan?!Aku salah apa padamu?!

Kartika             : Kau tanya salah apa? Kau sangat bersalah! Ha…ha..ha..  Kau telah melukai Kartika, melukai Kartini, dan melukai Pertiwi!

Friska               : Aku nggak pernah lukain siapa pun.. pergi! Jangan sakiti aku!  TOLONG! TOLONG AKU!

Terdengar pintu digedor keras

Resnaga           : Kartika! Kartika! Buka pintunya!

Bu Sartika        : Tika! Ibu mohon buka pintunya!

Kartika             : (Terkejut, menoleh ke pintu yang masih tertutup) Pergi kalian dari sini! Aku Kartini! Aku akan membunuh wanita wanita terkutuk!

Terdengar suara keras. Pintu terdobrak. Resnaga, Bu Sartika dan Malvin masuk dengan airmuka tegang.

Resnaga           : Kartika lepaskan pisau itu! Kau bukan Kartini! Kau Tika, sahabatku sejak kecil!

Bu Sartika        : Kartika… maafkan Mama. Mama tak pernah tahu kau punya kepribadian ganda. Lepaskan jiwa jahatmu Nak

Malvin              : please Kartika… kumohon lepaskan Friska. Maafkan dia… maafkan aku juga.

Kartika             : Persetan kalian semua!!! (Menarik tubuh Friska lalu mencengkeram leher gadis tersebut. Ujung pisau menempel di kulit mulus Friska) Jangan berani mendekat!

Resnaga           : Kartika, sadarlah! Bangunlah Tik! Kau adalah Kartika sahabat terbaikku. Kau adalah gadis baik. Kau bukan pembunuh. Dan Kartini hanya kepribadian yang tak kau sadari saja Tika. Tenangkan hatimu Tika…

Kartika             : (Oleng, memegang tangannya. Mendadak ia merasa pusing. Cengkeramannya pada Friska mengendor, seketika Friska berhasil membebaskan diri dan berlari menghambur ke Malvin) Aku… aku… pembunuh. Aku membunuh orang orang di dekatku. Pergi dari sini! Pergi! Lekas! Aku tak mau jiwaku yang satunya membunuh kalian! Pergi! (mengacungkan pisaunya ke atas)

Resnaga           : Tidak! Aku tak mau pergi! Karena aku sangat mencintaimu…

Hening sejenak

Kartika             : (Terisak sambil tersenyum getir) Maaf Res.. aku nggak bisa. Ak… aku.. sudah terlanjur membunuh, aku nggak mau ngebunuh Friska, Mama, Malvin dan kau… Kalau kalian tak mau menjauhiku akulah yang harus pergi.  (Menusukkan pisau tersebut ke jantungnya)

Bu Sartika        : TIDAK!!!! (melolong histeris, pingsan)

Tubuh Kartika tersungkur jatuh di lantai. Menusuk dadanya sendiri dengan pisau yang digenggamnya. Antara kehidupan dan kematian ia masih bisa tersenyum menahan sakit. Resnaga segera berlari menghampirinya.

Kartika             : Terimakasih… Ak… aku sayang kali… an semua, khususnya eng…kau Resnaga.. Selamat tinggal. (memejamkan mata perlahan)

Narator            : (Mengutip salah satu surat Kartini yang tidak dipublikasikan namun diubah sebagiaan, suara narator diiringi dentingan gitar, berduka)

Sampai aku menarik napas yang penghabisan, akan tetap aku berterimakasih pada kalian dan mengucap syukur akan kasih kalian kepadaku. Seorang buta yang diperbuat melihat, sekali kali tiada menyesal, matanya dibukakan orang karena bukan barang yang indah indah saja yang menjadi terlihat olehku dan kalian.

SELESAI

Sidoarjo, 27 Juli 2006

Tuk yang mengabdi tanpa menyadari

Alm. RA Kartini

PS : dalam naskah drama ini terdapat beberapa kutipan asli maupun yang diubah untuk dialog dan narasi. Sumber sumber kutipan tersebut :

Buku Habis Gelap terbitlah Terang (Armijn Pnae)

Buku Kartini Sebuah Biografi (Siti Soemandari Soeroto)

Buku Ra Kartini (Tashadi)

Molekul dan Atom

Apakah Molekul dan Atom itu?
Definisi molekul yang sederhana yaitu bagian yang terkecil dari suatu zat yang masih mempunyai sifat yang sama dengan zat tersebut. Sebagai contoh, suatu molekul gula adalah bagian yang terkecil dari zat gula, yang masih mempunyai sifat gula meskipun secara fisik tidak tampak seperti butiran gula. Contoh lain adalah molekul air. Air adalah zat yang sangat penting bagi kehidupan kita, dan terdapat 2/3 bagian dari luas permukaan bumi kita. Zat ini tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa serta dapat ditemukan dalam 3 fase, yaitu fase cair (air kolam, air sungai, air hujan), fase gas (uap, awan/kabut) dan fase padat (es, salju). Air bisa menjadi padat pada temperatur di bawah 0°C dan menjadi gas pada temperatur di atas 100 °C yang merupakan sifat-sifat utam dari air. Seperti zat lain, air tersusun atas molekul-molekul. Jika dimungkinkan air bisa dibagi ke dalam bagian-bagian yang terkecil yang masih mempunyai sifat seperti air, kita sebut bagian yang terkecil itu adalah molekul air. Molekul air mempunyaisifat yang berbeda dari molekul gula.

Mungkinkah kita dapat menemukan bagian yang terkecil dari suatu molekul yang tak tampak? Jawabnya adalah sangat mungkin. Ada sekitar 100 jenis bagian yang lebih kecil dari molekul yang disebut atom. Di alam semesta terdapat sekitar 105 jenis atom. Semua zat dan molekul terdiri dari satu atau lebih atom, karena atom-atom adalah bahan dasar dari suatu zat. Atom ini juga biasa disebut elemen atau unsur. Contoh bebrapa unsur, antara lain : Hidrogen (H), Nitrogen (N), Oksigen (O), Uranium (U), Besi (Fe).

Apakah yang ada di dalam atom itu ?

Berdasarkan konsep fisika maupun kimia, atom adalah bagian terkecil dari suatu zat yang masih memiliki sifat dasar zat tersebut. Atom mempunyai ukuran (diameter) sekitar 1 Angstrom atau 0,00000008 (10 pangkat min 8) cm.

Dalam konsep fisika modern, atom terdiri atas 3 partikel dasar yang menyusunnya menjadi sebuah atom. Ketiga parikel dasar tersebut adalah :

a. Proton : partikel bermuatan positf, diameternya hanya 1/3 diameter elektron, tetapi memiliki massa sekitar 1840 kali massa elektron
b. Elektron : partikel bermuatan negatif, memiliki massa paling ringan yaitu hanya 1/1840 kali massa proton atau neutron
c. Neutron : partikel tidak bermuatan (netral), memiliki massa yang kira-kira sama dengan gabungan massa proton dan elektron.

Susunan ketiga partikel dasar atom tersebut seperti susunan sistem tata surya. Proton dan neutron yang terletak pada inti atom menjadi pusat orbit elektron-elektron yang berputar mengelilingi inti atom. Proton dan neutron disebut juga nukleon (partikel penyusun inti atom).

Atom-atom berbeda menurut jumlah masing-masing partikel dasar yang dimiliki. Jumlah proton dalam atom menentukan elemen dari atom tersebut. Dalam sebuah elemen tunggal, jumlah neutron bisa bermacam-macam, menentukan isotop dari elemen tersebut. Atom secara elektrik akan netral jika memiliki jumlah proton dan elektron yang sama. Elektron yang letaknya terjauh dari inti atom (inti atom) dapat dipindahkan ke atom terdekat lainnya atau bahkan digunakan bersama oleh beberapa atom. Atom yang kekurangan maupun kelebihan elektron disebut ion. Jumlah proton dan neutron di dalam inti atom juga dapat berubah, baik melalui reaksi fusi nuklir, reaksi fisi nuklir, maupun peluruhan radioaktif.

Atom dapat mengikatkan dirinya membentuk molekul dan ikatan kimia lainnya. Molekul dapat terbentuk dari beberapa atom; sebagai contoh, molekul air merupakan kombinasi dari 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen.
Atom memiliki beberapa sifat/karakteristik yang dapat membedakan antara satu atom dengan atom lainnya dan menentukan bagaimana perubahan atom terjadi pada kondisi tertentu.

Adakah istilah-istilah yang berkaitan dengan inti atom ?

Istilah lain yang digunakan untuk menyatakan suatu jenis inti atom adalah Nuklida. Nuklida atau jenis inti atom yang ada di alam ini jauh lebih banyak daripada unsur karena setiap unsur mungkin saja terdiri atas beberapa nuklida.

Berbeda halnya dengan penulisan unsur yang cukup dituliskan dengan lambang atomnya saja, misalnya unsur emas adalah Au dan unsur besi adalah Fe, penulisan nuklida atau jenis inti atom harus diikuti dengan jumlah proton dan jumlah neutronnya sebagaimana konvensi penulisan (notasi atomik) sebagai berikut :

di mana :
X = simbol atom
Z = nomor atom
A = nomor massa
Meskipun tidak dituliskan pada simbol nuklida, jumlah neutron sering dituliskan sebagai N dengan hubungan :
N = A – Z
Sebagai contoh nuklida 6C14 adalah inti atom Karbon (C) yang mempunyai enam buah proton (Z = 6) dan delapan buah neutron (N = A – Z = 8). Cara penulisan nuklida tersebut hanyalah merupakan konvensi atau kesepakatan saja dan bukan suatu ketentuan sehingga masih terdapat beberapa cara penulisan yang berbeda. Salah satu cara penulisan lain yang paling sering dijumpai adalah tanpa menuliskan nomor atomya seperti berikut ini :

Sebagai contoh nuklida He4 atau He-4 dan Co-60. Nomor atom dapat diketahui dari jenis atomnya karena setiap atom yang berbeda akan memiliki jumlah proton yang berbeda sehingga nomor atomnya pun berbeda. Dari Tabel Periodik dapat dilihat bahwa nomor atom Helium (He) adalah 2 sedangkan nomor atom Cobalt (Co) adalah 27, sehingga dengan cara penulisan tersebut juga dapat ditentukan jumlah proton maupun neutronnya. Sebagai contoh Ir-192 memiliki 77 proton dan 115 neutron, karena dengan melihat tabel periodik dapat ditentukan bahwa nomor atom Ir adalah 77. Penulisan Ir-192 sesuai dengan konvensi di atas adalah sebagai berikut :

Terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan komposisi jumlah proton dan jumlah neutron di dalam inti atom yaitu isotop, isobar, isoton dan isomer.
a. Isotop

Isotop adalah inti atom atau nuklida yang mempunyai nomor atom (jumlah proton) sama tetapi mempunyai nomor massa (jumlah neutron) berbeda.

Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu unsur dapat memiliki berbagai macam bentuk atom. Contohnya adalah atom Helium yang mempunyai 3 macam isotop berupa :

b. Isobar

Isobar adalah inti atom atau nuklida yang mempunyai nomor massa (jumlah proton dan jumlah neutron) sama tetapi mempunyai nomor atom (jumlah proton) berbeda.

Contoh :

c. Isoton

Isoton adalah inti atom atau nuklida yang mempunyai jumlah neutron sama tetapi mempunyai nomor atom (jumlah proton) berbeda.

Contoh :

d. Isomer

Isomer adalah inti atom atau nuklidayang mempunyai nomor atom maupun nomor massa sama tetapi mempunyai tingkat energi yang berbeda. Inti atom yang memiliki tingkat energi lebih tinggi daripada tingkat energi dasarnya biasanya diberi tanda asterisk (*) atau m.

Contoh :

Kedua nuklida tersebut di atas mempunyai jumlah proton dan jumlah neutron yang sama tetapi tingkat energinya berbeda. Tingkat energi 28Ni60 berada pada keadaan dasarnya, sedangkan 28Ni60* tidak pada keadaan dasarnya atau pada keadaan tereksitasi.

Apakah yang dimaksud dengan Nomor Atom itu ?

Nomor Atom adalah jumlah proton di dalam suatu inti atom. Nomor Atom ini dinyatakan dengan simbol Z. Jadi :
Nomor Atom (Z) = jumlah proton dalam inti atom
Sebagai contoh :
Atom Hidrogen punya 1 proton —–> Z = 1
Atom Helium punya 2 proton —–> Z = 2
Atom Carbon punya 6 proton —–> Z = 6
Nomer atom menentukan elemen kimia dari atom tersebut. Semua atom yang memiliki nomer atom yang sama akan memiliki sifat fisika yang bermacam-macam dan menunjukkan sifat kimia yang sama. Berdasarkan tabel periodik, elemen kimia dapat diurutkan menurut peningkatan nomer atom.

Apakah yang dimaksud dengan Nomor Massa itu ?

Nomor Massa adalah jumlah proton dan neutron yang ada di dalam inti atom. Dalam hal ini massa elektron yang sangat kecil diabaikan. Nomor Massa ini dinyatakan dengan simbol A. Jadi :
Nomor Massa (A) = jumlah proton + jumlah neutron
Sebagai contoh untuk atom Hidrogen (H) akan diperoleh :
1 proton = 1
0 neutron = 0
1 elektron = – (diabaikan)
Nomor Massa = 1
Sedangkan untuk atom Helium (He) akan diperoleh:
2 proton = 2
2 neutron = 2
2 elektron = – (diabaikan)
Nomor Massa = 4

Komposisi jumlah proton dan neutron di dalam inti atom sangat mempengaruhi kestabilan inti atom tersebut. Inti atom dikatakan stabil bila komposisi jumlah proton dan neutronnya sudah ”seimbang” serta tingkat energinya sudah berada pada keadaan dasar. Jumlah proton dan neutron maupun tingkat energi dari inti-inti yang stabil tidak akan mengalami perubahan selama tidak ada gangguan dari luar. Sebaliknya, inti atom dikatakan tidak stabil bila komposisi jumlah proton dan neutronnya “tidak seimbang” atau tingkat energinya tidak berada pada keadaan dasar. Perlu dicatat bahwa komposisi proton dan neutron yang “seimbang” atau “tidak seimbang” di atas tidak berarti mempunyai jumlah yang sama ataupun tidak sama. Setiap inti atom mempunyai “kesetimbangan” yang berbeda.

Secara umum, kestabilan inti-inti ringan terjadi bila jumlah protonnya sama dengan jumlah neutronnya. Sedangkan kestabilan inti-inti berat terjadi bila jumlah neutron maksimum 1,5 kali jumlah protonnya.

Tabel periodik merupakan suatu tabel yang mencantumkan semua kemungkinan posisi nuklida baik yang stabil maupun yang tidak stabil. Nuklida-nuklida yang tidak stabil disebut sebagai radionuklida.

Tabel nuklida juga dapat menunjukkan posisi dari nuklida-nuklida yang merupakan isotop yaitu petak-petak yang horisontal, misalnya Na-20, Na-21, Na-22 dan seterusnya. Isotop yang tidak stabil disebut sebagai radioisotop. Pada dasarnya, radioisotop dan radionuklida adalah istilah yang sama yaitu menunjukkan inti-inti atom yang tidak stabil. Bahan yang terdiri atas radionuklida dengan jumlah cukup banyak disebut bahan radioaktif.

Inti-inti atom yang tidak stabil, baik karena komposisi jumlah proton dan neutronnya yang tidak seimbang ataupun karena tingkat energinya yang tidak berada pada keadaan dasarnya, cenderung untuk berubah menjadi stabil. Bila ketidakstabilan inti disebabkan karena komposisi jumlah proton dan neutronnya yang tidak seimbang, maka inti tersebut akan berubah dengan memancarkan radiasi alpha atau radiasi beta (β). Kalau ketidakstabilannya disebabkan karena tingkat energinya yang berada pada keadaan tereksitasi maka akan berubah dengan memancarkan radiasi gamma. Proses perubahan atau transformasi inti atom yang tidak stabil menjadi atom yang lebih stabil tersebut dinamakan peluruhan radioaktif.

Proses peluruhan radioaktif seringkali harus melalui beberapa intermediate (antara) sebelum menjadi inti atom yang stabil. Jadi seringkali suatu radionuklida tidak berubah langsung menjadi nuklida yang stabil, melainkan mengalami beberapa perubahan lebih dulu menjadi radionuklida yang lain sebelum akhirnya menjadi nuklida yang stabil. Misalnya dari nuklida X yang tidak stabil berubah menjadi nuklida Y yang juga masih tidak stabil kemudian berubah lagi menjadi nuklida Z yang stabil. Peluruhan seperti ini dinamakan peluruhan berantai.

Konsep Dasar Teori Atom

Bagaimana konsep dasar tentang Atom itu?

Konsep dasar tentang atom sebenarnya sudah lama dikenal orang. Konsep tersebut antara lain berasal dari pemikiran orang Yunani kuno yang dipelopori oleh Democritus yang hidup pada akhir abad ke-4 dan awal abad ke-5 Sebelum Masehi. Menurut teori yang dikemukakannya, suatu benda dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang sangat kecil yang akhirnya tidak dapat dibagi lagi yang disebut atom. Kata atom berasal dari bahasa Yunani yaitu ”atomos” yang berarti ”tidak dapat dibagi”.
Disebutkan bahwa alasan ini berasal dari observasi di mana butiran pasir dapat bersama-sama membentuk sebuah pantai. Dalam analoginya, pasir adalah atom, dan pantai adalah senyawa. Analogi ini kemudian dapat dihubungkan dengan pengertian Democritus terhadap atom yang tidak bisa dibagi lagi: walaupun sebuah pantai dapat dibagi ke dalam butiran-butiran pasirnya, butiran pasir ini tidak dapat dibagi. Democritus juga beralasan bahwa atom sepenuhnya padat, dan tidak memiliki struktur internal. Dia juga berpikir harus ada ruang kosong antar atom untuk memberikan ruang untuk pergerakannya (seperti pergerakan dalam air dan udara, atau fleksibilitas benda padat). Sebagai tambahan, Democritus juga menjelaskan bahwa untuk menjelaskan perbedaan sifat dari material yang berbeda, atom dibedakan ke dalam bentuk, massa dan ukurannya.

Dengan model atomnya, Democritus mampu menjelaskan bahwa semua yang kita lihat terdiri dari bagian/blok bangunan yang lebih kecil disebut atom. Namun model Democritus ini kurang memiliki bukti eksperimental, namun baru tahun 1800an bukti eksperimental muncul.

Model Atom John Dalton

Pada tahun 1803, John Dalton mengembangkan konsep atom modern pertama. Model Dalton menaruh perhatian utamanya pada sifat kimia atom, yaitu bagaimana atom membentuk senyawa, daripada mencoba untuk menjelaskan sifat fisika atom. Konsep utama dari model Dalton adalah sebagai berikut:
1. Sebuah elemen terdiri dari partikel yang sangat kecil dan tidak dapat dibagi lagi disebut atom.
2. Semua atom dari elemen tertentu memiliki karakteristik yang identik, yang membedakan mereka dengan atom elemen lain.
3. Atom tidak dapat diciptakan, dimusnahkan, atau diubah menjadi atom dari elemen lain.
4. Senyawa terbentuk ketika atom-atom elemen yang berbeda bergabung satu sama lain dalam sebuah rasio tertentu.
5. Jumlah dan jenis atom tersebut adalah konstan dalam senyawa tertentu.
Poin pertama dari teori Dalton berhubungan dengan pengertian orang Yunani tentang atom, yaitu sebuah unit kecil yang bekerja bersama atom lain untuk membentuk senyawa yang lebih besar. Dalton juga mampu untuk memahami tentang adanya sifat elemen yang berbeda-beda dapat dijelaskan dengan bukti adanya berbagai macam atom, yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Poin ke-3 dari model Dalton menunjukkan bahwa atom tidak dapat diubah dengan cara kimia. Ini ditunjukkan dengan bagaimana garam dapat diambil walaupun telah larut dalam air. Poin ke-4 dan ke-5 mendeskripsikan bagaimana atom-atom dapat membentuk senyawa kimia. Konsep-konsep ini secara tepat menjelaskan cara pembentukan senyawa, dan masih digunakan hingga sekarang. Model Dalton, sebagai contoh, dapat menjelaskan bahwa air merupakan senyawa yang berbeda (dengan sifat dan ciri yang berbeda) dari hidrogen hidroksida karena memiliki 1 atom hidrogen lebih sedikit dalam tiap senyawanya daripada yang dimiliki hidrogen hidroksida. Walaupun teori Dalton cukup untuk menjelaskan keberadaan atom, namun struktur atom masih belum dijelaskan dan alasan mengapa elemen yang berbeda memiliki sifat dan ciri yang berbeda masih belum terjawab.

Model Atom JJ. Thomson

Pada awal 1900an, J.J. Thomson mengusulkan model atom baru yang mengikutkan keberadaan partikel elektron dan proton. Karena eksperimen menunjukkan proton memiliki massa yang jauh lebih besar dibandingkan elektron, maka model Thomson menggambarkan atom sebagai proton tunggal yang besar. Di dalam partikel proton, Thomson memasukkan elektron yang menetralkan adanya muatan positif dari proton. Menurut Thomson, atom terdiri dari suatu bulatan bermuatan positif dengan rapat muatan yang merata. Di dalam muatan positif ini tersebar elektron dengan muatan negatif yang besarnya sama dengan muatan positif. Cara yang populer untuk menggambarkan model ini adalah dengan menganggap elektron sebagai kismis (plumb) di dalam kue puding proton, sehingga model ini diberi nama model kue kismis (plumb-pudding model).
Walaupun model atom Thomson adalah yang pertama yang memasukkan konsep adanya proton dan elektron yang bermuatan, model Thomson tidak mampu melewati pengamatan pada eksperimen-eksperimen berikutnya. Sebagai catatan, proton yang digunakan dalam model Thomson ini bukanlah partikel proton yang ditemukan di model yang lebih modern. Bahkan sesungguhnya dapat dikatakan model Thomson tidak memiliki proton, namun sebuah sel bermuatan positif.
Pengaruh model atom Dalton dapat dilihat dengan jelas pada model Thomson. Dalton berspekulasi bahwa atom adalah benda padat, dan Thomson mendukung gagasan ini dalam modelnya dengan mengelompokkan elektron dan proton bersama-sama.

Model Atom Rutherford

Pada tahun 1910, Ernest Rutherford melakukan percobaan pada kebenaran model ini dengan melakukan yang sekarang dikenal sebagai eksperimen hamburan Rutherford (Rutherford scattering experiment).
Rutherford menemukan partikel-α, sebuah partikel yang dipancarkan oleh atom radioaktif, pada tahun 1909. Partikel ini memiliki muatan positif, dan faktanya adalah kita sekarang tahu bahwa partikel-α seperti atom helium dilepaskan dari elektronnya, memberikannya muatan 2+. Dalam eksperimen hamburan ini, aliran partikel-α ini diarahkan ke lembaran emas. Lembaran emas ini dipilih oleh Rutherford karena dapat dibuat sangat tipis–hanya setebal beberapa atom emas. Saat partikel-α melintasi lembaran emas, Rutherford dapat mengukur berapa banyak partikel-α yang akan dihamburkan oleh atom emas dengan mengamati kilatan cahaya partikel-α menabrak layar scintilator. Di bawah teori atom Thomson, Rutherfod berhipotesa partikel-α akan dibelokkan sedikit, saat proton emas menolak partikel-α yang bermuatan positif tinggi.
Namun pada kenyataannya, eksperimen hamburan Rutherford menunjukkan hasil yang jelas-jelas menolak hipotesis tersebut dan tentunya model atom Thomson. Rutherfod menemukan sebagian besar partikel alfa mampu menembus lembaran emas tanpa dibelokkan. Bersamaan dengan itu, Rutherford juga menemukan partikel alfa yang dibelokkan sedikit, namun dengan sangat mengejutkan, Rutherford juga menemukan beberapa partikel alfa yang dibelokkan pada sudut yang sangat tajam kembali ke sumber radioaktif.
Untuk menjelaskan adanya sebagian besar partikel-α yang menembus lembaran emas tanpa dibelokkan, Rutherford kemudian mengembangkan model inti atom. Dalam model ini, Rutherford menempatkan sebuah proton yang besar (seperti eksperimen dan model sebelumnya) di pusat atom. Rutherford berteori bahwa di sekitar proton terdapat ruang besar yang kosong dari segala partikel kecuali elektron yang jarang-jarang. Ruang terbuka yang besar ini memberikan alasan adanya partikel alfa yang tidak terbelokkan. Partikel alfa yang dibelokkan sedikit diperkirakan telah lewat cukup dekat dari proton sehingga dibelokkan oleh gaya elektrostatik. Sedangkan beberapa partikel alfa yang dibelokkan kembali ke sumber diperkirakan telah mengalami tumbukan dengan inti sehingga dipantulkan kembali oleh gaya elektrostatik.

Model Atom Niels Bohr

Pada tahun 1913 Niels Bohr mencoba menjelaskan model atom Bohr melalui konsep elektron yang mengikuti orbit mengelilingi inti atom yang mengandung proton dan neutron. Menurut Bohr, hanya terdapat orbit dalam jumlah tertentu, dan perbedaan antar orbit satu dengan yang lain adalah jarak orbit dari inti atom. Keberadaan elektron baik di orbit yang rendah maupun yang tinggi sepenuhnya tergantung oleh tingkatan energi elektron. Sehingga elektron di orbit yang rendah akan memiliki energi yang lebih kecil daripada elektron di orbit yang lebih tinggi.
Bohr menghubungkan elektron yang mengorbit dan pengamatan terhadap spektrum gas melalui sebuah pemikiran bahwa sejumlah energi yang dikandung dalam elektron dapat berubah, dan karena itu elektron dapat mengubah orbitnya tergantung dari perubahan energinya. Dalam situasi pemakaian arus listrik melewati gas bertekanan rendah, elektron menjadi de-eksitasi dan berpindah ke orbit yang lebih rendah. Dalam perubahan ini, elektron kehilangan sejumlah energi yang merupakan perbedaan tingkat energi kedua orbit. Energi yang dipancarkan ini dapat dilihat dalam bentuk sebuah photon cahaya yang panjang gelombangnya berdasar pada perbedaan tingkat energi kedua orbit.
Secara ringkas, Bohr mengemukakan:
1. Elektron dalam atom bergerak mengelilingi inti pada lintasan-lintasan tertentu, tidak memancarkan energi. Lintasan-lintasan elektron itu disebut kulit atau tingkat energi elektron.
2. Elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke lintasan yang lain.
3. Perpindahan elektron dari tingkat energi tinggi ke rendah disertai pemancaran energi. Sedang perpindahan elektron dari tingkat energi rendah ke tinggi disertai penyerapan energi.
4. Elektron yang bergerak pada lintasannya berada pada keadaan stasioner, artinya elektron tidak memancarkan atau menyerap energi.
Walaupun model atom Bohr cukup untuk memodelkan spektrum hidrogen, model ini terbukti tidak cukup untuk memprediksikan spektrum elemen yang lebih kompleks.

Model Atom James Chadwick

Pada tahun 1932, model atom Rutherford dimodifikasi sedikit oleh adanya penemuan neutron oleh James Chadwick. Chadwick menemukan bahwa penembakan partikel-α terhadap berilium dapat menghasilkan neutron, partikel tak bermuatan, namun dengan massa sedikit lebih besar dibandingkan massa proton. Sehingga, model atom kontemporer adalah model dengan inti atom besar yang mengandung proton dan neutron dikelilingi oleh awan tipis elektron. Adanya neutron juga menjelaskan mengapa massa atom lebih berat dari massa total proton dan elektronnya.
Dengan pengertian dasar tentang bagian fundamental atom seperti elektron, proton, dan neutron, maka dapat dimungkinkan adanya model yang lebih rumit dan lengkap lagi dari atom yang cukup dapat menjelaskan sifat dan karakteristik atom dan senyawa atom.

Model Atom Modern

Model atom modern adalah hasil karya para peneliti dari tahun 1920an hingga saat ini. Model atom tersebut menyatakan bahwa elektron tidak bergerak pada lintasan tertentu dan lintasan yang tepat dari elektron tidak dapat ditentukan. Teori saat ini menyatakan bahwa ada daerah di dalam atom di mana terdapat elektron. Daerah ini disebut dengan awan elektron

Konsep dasar tentang atom sebenarnya sudah lama dikenal orang. Konsep tersebut antara lain berasal dari pemikiran orang Yunani kuno yang dipelopori oleh Democritus yang hidup pada akhir abad ke-4 dan awal abad ke-5 Sebelum Masehi. Menurut teori yang dikemukakannya, suatu benda dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang sangat kecil yang akhirnya tidak dapat dibagi lagi yang disebut atom. Kata atom berasal dari bahasa Yunani yaitu ”atomos” yang berarti ”tidak dapat dibagi”.
Disebutkan bahwa alasan ini berasal dari observasi di mana butiran pasir dapat bersama-sama membentuk sebuah pantai. Dalam analoginya, pasir adalah atom, dan pantai adalah senyawa. Analogi ini kemudian dapat dihubungkan dengan pengertian Democritus terhadap atom yang tidak bisa dibagi lagi: walaupun sebuah pantai dapat dibagi ke dalam butiran-butiran pasirnya, butiran pasir ini tidak dapat dibagi. Democritus juga beralasan bahwa atom sepenuhnya padat, dan tidak memiliki struktur internal. Dia juga berpikir harus ada ruang kosong antar atom untuk memberikan ruang untuk pergerakannya (seperti pergerakan dalam air dan udara, atau fleksibilitas benda padat). Sebagai tambahan, Democritus juga menjelaskan bahwa untuk menjelaskan perbedaan sifat dari material yang berbeda, atom dibedakan ke dalam bentuk, massa dan ukurannya.

Dengan model atomnya, Democritus mampu menjelaskan bahwa semua yang kita lihat terdiri dari bagian/blok bangunan yang lebih kecil disebut atom. Namun model Democritus ini kurang memiliki bukti eksperimental, namun baru tahun 1800an bukti eksperimental muncul.

Model Atom John Dalton

Pada tahun 1803, John Dalton mengembangkan konsep atom modern pertama. Model Dalton menaruh perhatian utamanya pada sifat kimia atom, yaitu bagaimana atom membentuk senyawa, daripada mencoba untuk menjelaskan sifat fisika atom. Konsep utama dari model Dalton adalah sebagai berikut:
1. Sebuah elemen terdiri dari partikel yang sangat kecil dan tidak dapat dibagi lagi disebut atom.
2. Semua atom dari elemen tertentu memiliki karakteristik yang identik, yang membedakan mereka dengan atom elemen lain.
3. Atom tidak dapat diciptakan, dimusnahkan, atau diubah menjadi atom dari elemen lain.
4. Senyawa terbentuk ketika atom-atom elemen yang berbeda bergabung satu sama lain dalam sebuah rasio tertentu.
5. Jumlah dan jenis atom tersebut adalah konstan dalam senyawa tertentu.
Poin pertama dari teori Dalton berhubungan dengan pengertian orang Yunani tentang atom, yaitu sebuah unit kecil yang bekerja bersama atom lain untuk membentuk senyawa yang lebih besar. Dalton juga mampu untuk memahami tentang adanya sifat elemen yang berbeda-beda dapat dijelaskan dengan bukti adanya berbagai macam atom, yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Poin ke-3 dari model Dalton menunjukkan bahwa atom tidak dapat diubah dengan cara kimia. Ini ditunjukkan dengan bagaimana garam dapat diambil walaupun telah larut dalam air. Poin ke-4 dan ke-5 mendeskripsikan bagaimana atom-atom dapat membentuk senyawa kimia. Konsep-konsep ini secara tepat menjelaskan cara pembentukan senyawa, dan masih digunakan hingga sekarang. Model Dalton, sebagai contoh, dapat menjelaskan bahwa air merupakan senyawa yang berbeda (dengan sifat dan ciri yang berbeda) dari hidrogen hidroksida karena memiliki 1 atom hidrogen lebih sedikit dalam tiap senyawanya daripada yang dimiliki hidrogen hidroksida. Walaupun teori Dalton cukup untuk menjelaskan keberadaan atom, namun struktur atom masih belum dijelaskan dan alasan mengapa elemen yang berbeda memiliki sifat dan ciri yang berbeda masih belum terjawab.

Model Atom JJ. Thomson

Pada awal 1900an, J.J. Thomson mengusulkan model atom baru yang mengikutkan keberadaan partikel elektron dan proton. Karena eksperimen menunjukkan proton memiliki massa yang jauh lebih besar dibandingkan elektron, maka model Thomson menggambarkan atom sebagai proton tunggal yang besar. Di dalam partikel proton, Thomson memasukkan elektron yang menetralkan adanya muatan positif dari proton. Menurut Thomson, atom terdiri dari suatu bulatan bermuatan positif dengan rapat muatan yang merata. Di dalam muatan positif ini tersebar elektron dengan muatan negatif yang besarnya sama dengan muatan positif. Cara yang populer untuk menggambarkan model ini adalah dengan menganggap elektron sebagai kismis (plumb) di dalam kue puding proton, sehingga model ini diberi nama model kue kismis (plumb-pudding model).
Walaupun model atom Thomson adalah yang pertama yang memasukkan konsep adanya proton dan elektron yang bermuatan, model Thomson tidak mampu melewati pengamatan pada eksperimen-eksperimen berikutnya. Sebagai catatan, proton yang digunakan dalam model Thomson ini bukanlah partikel proton yang ditemukan di model yang lebih modern. Bahkan sesungguhnya dapat dikatakan model Thomson tidak memiliki proton, namun sebuah sel bermuatan positif.
Pengaruh model atom Dalton dapat dilihat dengan jelas pada model Thomson. Dalton berspekulasi bahwa atom adalah benda padat, dan Thomson mendukung gagasan ini dalam modelnya dengan mengelompokkan elektron dan proton bersama-sama.

Model Atom Rutherford

Pada tahun 1910, Ernest Rutherford melakukan percobaan pada kebenaran model ini dengan melakukan yang sekarang dikenal sebagai eksperimen hamburan Rutherford (Rutherford scattering experiment).
Rutherford menemukan partikel-α, sebuah partikel yang dipancarkan oleh atom radioaktif, pada tahun 1909. Partikel ini memiliki muatan positif, dan faktanya adalah kita sekarang tahu bahwa partikel-α seperti atom helium dilepaskan dari elektronnya, memberikannya muatan 2+. Dalam eksperimen hamburan ini, aliran partikel-α ini diarahkan ke lembaran emas. Lembaran emas ini dipilih oleh Rutherford karena dapat dibuat sangat tipis–hanya setebal beberapa atom emas. Saat partikel-α melintasi lembaran emas, Rutherford dapat mengukur berapa banyak partikel-α yang akan dihamburkan oleh atom emas dengan mengamati kilatan cahaya partikel-α menabrak layar scintilator. Di bawah teori atom Thomson, Rutherfod berhipotesa partikel-α akan dibelokkan sedikit, saat proton emas menolak partikel-α yang bermuatan positif tinggi.
Namun pada kenyataannya, eksperimen hamburan Rutherford menunjukkan hasil yang jelas-jelas menolak hipotesis tersebut dan tentunya model atom Thomson. Rutherfod menemukan sebagian besar partikel alfa mampu menembus lembaran emas tanpa dibelokkan. Bersamaan dengan itu, Rutherford juga menemukan partikel alfa yang dibelokkan sedikit, namun dengan sangat mengejutkan, Rutherford juga menemukan beberapa partikel alfa yang dibelokkan pada sudut yang sangat tajam kembali ke sumber radioaktif.
Untuk menjelaskan adanya sebagian besar partikel-α yang menembus lembaran emas tanpa dibelokkan, Rutherford kemudian mengembangkan model inti atom. Dalam model ini, Rutherford menempatkan sebuah proton yang besar (seperti eksperimen dan model sebelumnya) di pusat atom. Rutherford berteori bahwa di sekitar proton terdapat ruang besar yang kosong dari segala partikel kecuali elektron yang jarang-jarang. Ruang terbuka yang besar ini memberikan alasan adanya partikel alfa yang tidak terbelokkan. Partikel alfa yang dibelokkan sedikit diperkirakan telah lewat cukup dekat dari proton sehingga dibelokkan oleh gaya elektrostatik. Sedangkan beberapa partikel alfa yang dibelokkan kembali ke sumber diperkirakan telah mengalami tumbukan dengan inti sehingga dipantulkan kembali oleh gaya elektrostatik.

Model Atom Niels Bohr

Pada tahun 1913 Niels Bohr mencoba menjelaskan model atom Bohr melalui konsep elektron yang mengikuti orbit mengelilingi inti atom yang mengandung proton dan neutron. Menurut Bohr, hanya terdapat orbit dalam jumlah tertentu, dan perbedaan antar orbit satu dengan yang lain adalah jarak orbit dari inti atom. Keberadaan elektron baik di orbit yang rendah maupun yang tinggi sepenuhnya tergantung oleh tingkatan energi elektron. Sehingga elektron di orbit yang rendah akan memiliki energi yang lebih kecil daripada elektron di orbit yang lebih tinggi.
Bohr menghubungkan elektron yang mengorbit dan pengamatan terhadap spektrum gas melalui sebuah pemikiran bahwa sejumlah energi yang dikandung dalam elektron dapat berubah, dan karena itu elektron dapat mengubah orbitnya tergantung dari perubahan energinya. Dalam situasi pemakaian arus listrik melewati gas bertekanan rendah, elektron menjadi de-eksitasi dan berpindah ke orbit yang lebih rendah. Dalam perubahan ini, elektron kehilangan sejumlah energi yang merupakan perbedaan tingkat energi kedua orbit. Energi yang dipancarkan ini dapat dilihat dalam bentuk sebuah photon cahaya yang panjang gelombangnya berdasar pada perbedaan tingkat energi kedua orbit.
Secara ringkas, Bohr mengemukakan:
1. Elektron dalam atom bergerak mengelilingi inti pada lintasan-lintasan tertentu, tidak memancarkan energi. Lintasan-lintasan elektron itu disebut kulit atau tingkat energi elektron.
2. Elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke lintasan yang lain.
3. Perpindahan elektron dari tingkat energi tinggi ke rendah disertai pemancaran energi. Sedang perpindahan elektron dari tingkat energi rendah ke tinggi disertai penyerapan energi.
4. Elektron yang bergerak pada lintasannya berada pada keadaan stasioner, artinya elektron tidak memancarkan atau menyerap energi.
Walaupun model atom Bohr cukup untuk memodelkan spektrum hidrogen, model ini terbukti tidak cukup untuk memprediksikan spektrum elemen yang lebih kompleks.

Model Atom James Chadwick

Pada tahun 1932, model atom Rutherford dimodifikasi sedikit oleh adanya penemuan neutron oleh James Chadwick. Chadwick menemukan bahwa penembakan partikel-α terhadap berilium dapat menghasilkan neutron, partikel tak bermuatan, namun dengan massa sedikit lebih besar dibandingkan massa proton. Sehingga, model atom kontemporer adalah model dengan inti atom besar yang mengandung proton dan neutron dikelilingi oleh awan tipis elektron. Adanya neutron juga menjelaskan mengapa massa atom lebih berat dari massa total proton dan elektronnya.
Dengan pengertian dasar tentang bagian fundamental atom seperti elektron, proton, dan neutron, maka dapat dimungkinkan adanya model yang lebih rumit dan lengkap lagi dari atom yang cukup dapat menjelaskan sifat dan karakteristik atom dan senyawa atom.

Model Atom Modern

Model atom modern adalah hasil karya para peneliti dari tahun 1920an hingga saat ini. Model atom tersebut menyatakan bahwa elektron tidak bergerak pada lintasan tertentu dan lintasan yang tepat dari elektron tidak dapat ditentukan. Teori saat ini menyatakan bahwa ada daerah di dalam atom di mana terdapat elektron. Daerah ini disebut dengan awan elektron

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.